Ebooks

Just Call Me Lopez is a recipient of the QED Seal, which stands for Quality, Excellence, Design for ebooks and applications and a PIA (Publishing Innovation Awards) finalist.
What do we have in common with a man from the sixteenth century—or even more so, a saint from the sixteenth century? Probably a lot more than you think. St. Ignatius of Loyola wasn’t always the heroic and holy figure that you hear about today; he was a flawed, fallible, and relatable man named Íñigo Lopez. In Just Call Me Lopez, a twenty-first-century woman, Rachel, meets the man who becomes the saint, and both are transformed by their unlikely friendship and series of thought-provoking conversations.

Their worlds literally collide when Rachel is struck by a hit-and-run driver, and Lopez is there to help her. They realize that this chance accident is actually an act of God that allows Rachel and Lopez, through the medium of their friendship, to come to terms with their personal struggles. Lopez shares his life with Rachel, describing the obstacles he faces during his unbelievable conversion from a womanizing soldier to a man of God. While Rachel keeps mostly silent about her personal struggles, she observes and is astounded by Lopez’s metamorphosis from mess to mystic. Rachel finally faces her troubling situation, and Lopez gently guides her through the process of discernment to make a difficult, but inspired, life choice.

Just Call Me Lopez helps us realize that our very human faults and imperfect behavior do not prevent us from receiving God’s grace; rather, knowing our weaknesses and giving ourselves over to the Holy Spirit can create a new way for us to live.
" Air kehidupan mengalir darinya dan lenyap diserap tanah hutan. Kayu itu diiris, dihaluskan, dibentuk, dan dipoles vernis yang menyesakkan. Pohon menjerit dalam hati karena penderitaannya, tetapi ia tidak mungkin kembali. Ia memasrahkan diri ke tangan pembuat biola, dan semua impian akan keabadian lenyap dalam kabut kesakitan.Namun hari itu akhirnya tiba, pada waktu yang tepat dan sempurna. Pohon menahan napas tak percaya. Ia bergetar saat busur dengan lembut menggesek dadanya. Dan getaran itu berubah menjadi suara murni yang mengingatkannya pada angin yang pernah membuat daun-daunnya kemersik, pada awan yang berarak pergi menuju keabadian, pada kepakan sayap burung di atasnya, membentuk lingkaran keabadian di langit biru.Suara yang murni. Nada-nada yang murni. Musik Keabadian.Dan musik itu pun bergema, dari hati yang satu ke hati lain yang mendengarkan, turun-temurun selama bertahun-tahun hingga akhirnya, ketika semua hati yang mendengarkan telah melakukan perjalanan pulang, musik tersebut mengalir memasuki gerbang keabadian, tempat pohon kecil menjadi Pohon Abadi.""Dan saat itulah ia memahami kebenaran bahwa kebahagiaan merupakan kesatuan dari segala sesuatu yang telah dikaruniakan kepada kita. Tugas kita sebagai manusia hanyalah menyatukan dalam keselarasan hal-hal sederhana yang telah kita miliki itu.""***Dunia ini dipenuhi cerita-cerita bijak. Beberapa di antaranya memberikan petunjuk tentang siapa diri kita dan bagaimana kita menjadi diri kita yang sekarang. Yang lain menawarkan petunjuk tentang bagaimana menjalani hidup, bagaimana menjalin hubungan dengan orang lain, dan bagaimana menghadapi sukacita serta krisis dalam kehidupan. Hampir semua cerita itu terkait, dalam berbagai tingkat berbeda—dari kesenangan polos seorang bocah hingga penyelidikan pikiran dan batin manusia dewasa akan misteri-misteri kehidupan yang terdalam. Pada akhirnya, cerita-cerita itu membantu kita untuk menemukan cerita kita sendiri dan hidup sejalan dengan kebijaksanaannya."
©2020 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.