More by Oase Media - Yogyakarta

ANAK YAHUDI MENGANCAM NEGERI


Dengan kelicikannya, Yahudi menciptakan segala cara untuk meruntuhkan Islam. Tak hanya menyerang dari luar, tetapi juga dari dalam. Dari dalam, Yahudi—berkolaborasi dengan Nasrani—mengemas segala macam kemaksiatan kemudian dijejalkan kepada generasi Islam. Ketika segala macam kemaksiatan subur makmur, semangat keislaman kaum muslimin pun luntur lebur. Muncullah rasa minder dengan agamanya. Selanjutnya, pemurtadan dengan beragam kemasan berjejer antri menunggu dilempar ke pasar. 


Tak hanya “mengemas”, Yahudi juga “memproduksi” pelbagai aliran sesat atau agama-agama baru berlabel Islam. Produk “klasik” yang sudah jadi “brand” kuat di masyarakat dunia adalah agama Syiah Rafidhah. Betapa kuat “branding” Syiah, sampai sebagian orang menganggapnya bagian dari Islam, mazhab ke-5 dalam Islam.


Sudah mafhum, di mana ada Syiah, di situ bau anyir darah. Di situ ada Syiah, di situ pula muncul api fitnah. Drama-drama pengkhianatan, adu domba, fitnah, dan konflik berdarah, yang didalangi Syiah sudah banyak yang memenuhi lembar sejarah. 


Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara dengan populasi muslim yang besar, Indonesia tak luput dari sasaran bidik Syiah. Ya Allah, jangan biarkan negeri ini dikuasai Syiah. Ya Allah, jangan basahi negeri ini dengan darah. Katakan tidak pada Syiah!


〰〰〰〰〰

ANAK YAHUDI MENGANCAM NEGERI.

Ikuti pembahasan tentang Syiah dan makarnya di Indonesia!

👇🏼👇🏼👇🏼👇🏼👇🏼

🔴Iran, Syiah, dan Stabilitas Negara

🔴Negeri Islam, Target Operasi Syiah

🔴Selamatkan Indonesia dari Makar Syiah Rafidhah!

🔴 Menjauhkan Penganut Syiah dari Lingkaran Kekuasaan

🔴 Pembelaan untuk Aisyah dari Celaan Syiah Rafidhah

🔴 Nasib Malang Anak-Anak dalam Cengkeraman Syiah

🔴 Syiah Menistakan Kaum Hawa  

🔴 Hukum Nikah Mut’ah dalam Islam


KETELADANAN DAI PILIHAN

Menjadi dai merupakan bentuk tanggung jawab terhadap umat yang membutuhkan nasihat dan bimbingan agama. Karena itu, figur dai selain butuh keilmuan, juga memerlukan keteladanan. Setinggi apa pun keilmuan, jika nihil keteladanan, apa yang disampaikan akan sulit membekas terhadap yang didakwahi. Karena banyak orang awam yang demikian mudah tersentuh, bukan karena keilmuan sang dai, namun karena semata akhlak yang ditampilkan. Karena itu, seorang dai semestinya bukan tipe orang yang mudah tersulut atau gampang mengumbar emosi. Dia adalah pribadi yang tenang dan bijak, mau memahami berbagai kondisi orang yang didakwahi. Betapa banyak dakwah yang berbuah antipati, bukan karena menentang kebenaran dari apa yang disampaikan, tapi lebih karena masyarakat tidak bisa menerima dai yang temperamental. Lebih-lebih praktiknya, dai semacam ini kerap menyampaikan sesuatu yang tidak pada tempatnya atau belum waktunya, dengan redaksi yang meledak-ledak pula. Pada akhirnya, dakwah yang tidak hikmah ini, bukan mendekatkan masyarakat pada kebenaran, malah membuat umat lari. Na’udzubillah. Bagaimana profil dai yang dibutuhkan umat? Simak bahasannya pada edisi ini.

Ikuti Pembahasannya….

Kajian Utama:

-          Profil Dai Rabbani

-          Kedudukan dan Kemuliaan Seorang Dai

-          Dakwah dan Kewajiban Dai

-          Bekal Dai Ketika Berdakwah

-          Nilai Integritas Seorang Dai

 

-          Tafsir - Meneladani Pemimpin Umat

-          Hadits -  Mengoreksi Perilaku Para Dai

-          Problema Anda - Hukum Menunda-nunda Membayar Utang

-          Manhaji - Menjalin Kerja Sama dalam Ranah Dakwah

-          Tanya Jawab Ringkas

-          Akidah Tauhid, Awal Dakwah Ilallah

-          Akhlak– Akhlak Seorang Dai

-          Dll.

 

Dapatkan pula pembahasan tak kalah menarik di lembar Sakinah :

-          Mengayuh Biduk - Kita Menikah, Tetapi Ceraikan Dia!

-          Permata Hati – Sikap yang Tepat dalam Mendidik Anak

-          Niswah – Kemuliaan Akhlak Muslimah

-          Fatawa Al-Mar'ah Al-Muslimah Mengeraskan Bacaan dalam Shalat bagi Wanita

-          Wanita Shalat di Rumahnya Setelah Azan atau Setelah Iqamat di Masjid?

-          Syarat Wanita Menjadi Imam bagi Sesamanya

-          Hukum Wanita Mengimami Anak Lelaki

-          Dll.

--------------------------------------------------

Majalah Asy-Syariah bisa didapatkan di Agen Terdekat di Kota Anda

Informasi Distribusi dan Keagenan Hub: 085878525401

Ingin Berlangganan langsung Hub: 082327412095

  

Komunisme belum mati. Ibarat ilalang, setiap kali dibabat, ia tetap saja tumbuh. Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai representasi komunisme di Indonesia, meski secara fisik sudah mati, tetapi tetap hidup sebagai ideologi. Di masa lalu, PKI pernah menjadi partai besar, bahkan disebut-sebut yang terbesar di luar Uni Soviet dan China. Wajar jika sisa kekuatannya tidak bisa dipandang remeh. Anak biologis mereka yang dididik secara komunis atau kader-kader militannya, akan melanjutkan “estafet” ideologinya, berupaya mengembalikan kejayaan PKI. 

Bermetamorfosa ke mana-mana, diiringi pemutarbalikan fakta sejarah, penyusupan/infiltrasi, agitasi dan propaganda, upaya untuk kembali menghidupkan paham komunisme tidak lagi hanya retorika. 

Reformasi yang kebablasan memberi peluang munculnya multiideologi, termasuk komunis yang terus unjuk gigi. Maraknya simbol palu arit di berbagai tempat dan peristiwa, kelompok-kelompok diskusi yang membela “HAM” PKI, konsolidasi kader PKI melalui kongres, temu raya, dll., hingga munculnya buku Aku Bangga Jadi Anak PKI menjadi bukti keberanian komunis untuk eksis.

Gagal masuk parlemen melalui PRD dan Papernas, mereka menyusup di partai-partai. Selama bisa mengantongi suara yang cukup, mudah saja kader komunis melenggang ke Senayan. 

Dengan bumbu fitnah dan pemutarbalikan fakta, Komunis Gaya Baru (KGB) juga melakukan propaganda melalui film-film "pelurusan sejarah" terkait peristiwa G30S PKI, versi komunis tentu saja. Masyarakat mau dininabobokkan bahwa isu PKI sudah tidak lagi relevan, paham komunis tidak lagi berbahaya, bahkan sudah tidak ada. 

Komunis yang peletak dasarnya adalah Karl Marx, seorang Yahudi berkebangsaan Jerman, memang menjadikan Islam sebagai musuh bebuyutan. Maka, jangan sampai kaum muslimin lemah. Lemahnya Islam akan menjadi lahan subur tumbuhnya beragam ideologi merusak. Tak hanya komunis, tetapi juga Islam Liberal, Ahmadiyah, Syiah, dan sebagainya.   

Maka dari itu, sejarah hitam komunis tidak bisa dilupakan begitu saja. Kekejaman komunis yang menyasar umat Islam perlu diantisipasi sejak dini. Pemerintah dan segenap komponen bangsa, TNI dan umat Islam, harus bersinergi menjadi benteng dari serangan kaum komunis. Tutup semua celah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi kemungkinan bangkitnya komunisme di Indonesia. 

Ironi jika bahaya laten komunis ini masih saja ditanggapi dingin. Ancaman kebangkitan komunis ini bukan isapan jempol lagi. Mari kita hilangkan ilalang yang akan merusak negeri ini! Tak hanya dibabat, tetapi cabut hingga ke akar-akarnya!


©2019 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.