"Buku ini tentang kebahagiaan, namun tidak dimaksud untuk menggurui orang tentang bagaimana caranya bahagia, karena hakikatnya buku ini sendirilah petanda kebahagiaan itu. Buku ini tentang kebahagiaan, namun tidak dimaksud untuk pamer analisis dengan ‘cuap-cuap’ sendiri tentang strategi meraih kebahagiaan, dan dengan sangat sadar para penulisnya ‘hanya’ menyodorkan gagasan para tokoh berpengaruh yang secara serius pernah merumuskan konsep kebahagiaan." –Dr. Fahruddin Faiz.
"Buku ini semacam angkringan, tempat Plato, Al-Ghazali, dan Al-Farabi biasa lesehan. Bakul kopinya Ki Ageng Suryomentaram. Saat lingsir wengi, kita bukan saja dibuat terjaga untuk tetap awas membedakan kesenangan dan kebahagiaan. Kita pun dirangsang untuk menjadi sekelas bakul kopi: Ki Ageng yang tak minder menjajari orang-orang asing dengan segala pikiran mereka, termasuk tentang pikiran apa itu seneng, apa itu begja." –Sujiwo Tejo
Agus Yuliono. Murid kecil asal Kudus, Jawa Tengah, yang sementara dulu tinggal di pinggiran Kali Code, Yogyakarta. Beberapa kali menumpang ngombe teh dan kopi di Masjid Jendral Sudirman. Kini di Kalimantan.
Mukhlisin. Hijrah ke Jogja sejak 2002. Pernah bekerja sebagai jurnalis. Di sela-sela kesibukannya sebagai peneliti di Center for Media and Political Institute, ia juga banyak mengikuti kegiatan seminar nasional.
Saifullah Muhammad. Siswa asli Kerek, Tuban, Jawa Timur. Tinggal di tepian sawah aksara Maguwo, Banguntapan, Jogja. Sering nongkrong di tubanjogja.org.
Ainia Prihantini. Teman bermain hujan yang sedang belajar mengenal a-i-r; yang dalam kesehariannya memilih mencintai Jogja dengan cara bersepeda; dan yang mulai merawat ingatan di kesorean.wordpress.com.