Buku 12 Aktivitas Agung Sang Begawan menyajikan cara terampil Sang Buddha memberikan ajaran kepada murid-muridnya. Akitivitas tersebut terangkum sejak sebelum kelahiran beliau ke dunia hingga memasuki parinirwana. Buku ini secara ringkas akan memaparkan perjalanan aktivitas agung Sang Buddha mengikuti urutan yang disajikan oleh Buton Rinchen Drup. Tradisi gubahan ini digunakan agar kita semakin akrab dan menyelami berbagai tradisi dalam khazanah Buddhisme di dunia. Lebih dari itu, perenungan terhadap sosok Buddha melalui 12 aktivitas agung beliau dalam buku ini memiliki kemampuan mematangkan kualitas batin. Dalam salah satu aktivitas yang dilakukan Sang Buddha misalnya parinirwana, dapat dipandang sebagai wujud pembelajaran kita mengenai ketidakkekalan.
Melalui pembahasan yang lugas, seluk beluk perjalanan sosok Sang Buddha akan diperkenalkan, mulai dari kelahirannya sebagai Shwetaketu, kelahiran agung di benua Jambudwipa, kegigihan dalam menjalani pertapaan, pemutaran roda Dharma hingga parinirwana. Sebagai tambahan, buku ini juga menyuguhkan mural dari salah satu versi tradisi 12 aktivitas agung Sang Buddha yang digambar di Memorial Shrine, Land of Medicine Buddha di Soquel, California. Mural ini didasarkan pada sesi ajaran Yang Maha Suci Dalai Lama ke-14. Jika kita dapat menjadikan renungan terhadap buku ini sebagai salah satu praktik Dharma, aktivitas Sang Buddha yang dibahas secara kronologis ini tidak hanya memperkuat keyakinan kita, namun juga mampu melenyapkan kelembaman mental.
Meskipun tercantum istilah "buy/beli" pada aplikasi Google Books ini, teks Dharma sebagai salah satu perwujudan dari Objek Trisarana seyogianya tidak diperjualbelikan.
Oleh karena itu, bangkitkan dalam batin Anda, bahwa Anda MENGUNDANG "kehadiran" teks Dharma ini sehingga Anda bisa belajar dan mempraktikkannya sebagai salah satu metode berlindung pada Dharma. Bangkitkan pula dalam batin Anda, bahwa dana yang Anda keluarkan adalah sebagai sebuah bentuk persembahan untuk mengundang kehadiran Dharma ke dalam hidup Anda.
Dana ini akan digunakan oleh pihak Penerbit untuk pertama-tama, menutupi biaya-biaya operasional langsung yang dibutuhkan untuk menghasilkan teks Dharma ini, kemudian jika ada kelebihan, maka akan dialokasikan sebagai dana "Dharma Patron" yang mana akan digunakan untuk: 1) penerbitan dan penyebaran lebih banyak lagi teks Dharma, 2) penyelenggaraan kegiatan Dharma, dan 3) operasional serta mobilisasi relawan untuk mendukung aktivitas 1) dan 2) di atas.
Biksu Bhadra Ruci Sthravira atau Lobsang Oser adalah Kepala Biara Indonesia Gaden Syeydrub Nampar Gyelwei Ling dan Sekretaris Jenderal Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI).
Beliau sangat berminat dalam topik filsafat Buddhis, ikonografi candi-candi Nusantara, arkeologi, sosiologi agama, dan senang membaca literatur sejarah, budaya, dan ideologi.
Hingga sekarang, beliau terus konsisten dalam dunia pendidikan, membina baik anggota monastik maupun perumah tangga, yang sebagian besar adalah muda-mudi.