Ngubek-Ngubek Jakarte

Bukune
9
Free sample

Jakarta, oh, Jakarta.

Tempat harapan dan impian jadi kenyataan, atau hancur berserakan di jalan. Lo boleh ngatain gue lebay, tapi emang itu realitasnya. Ciaelah….

Buat bertahan di Jakarta, modal selfie depan Monas atau dugem dalam bajaj aja emang masih jauh dari cukup. Beberapa kemampuan harus lo siapin. Mulai dari sabuk hitam di bidang salip-menyalip kendaraan, menguasai teknik berenang di arus banjir, sampe ilmu berbasa-basi dengan sosialita Ibu Kota.

Mental lo juga harus kuat! Jangan patah hati kalo ditinggal bus kota, jiper pas nego-negoan sama pedagang di Pasar Senen, atau minder pas dikedipin si Manis Jembatan Ancol.

Kelihatannya susah, ya? Tapi, jangan khawatir, Sob. Gue, Sudir, si Jakartan asli Wonosobo, bakal jadi pemandu lo untuk mengenal Jakarta lebih baik. Banyak gambarnya pula! Biar pada gampang ngerti. Buruan baca buku ini, dan jatuh cintalah pada Jakarta sepenuh hati.
Tangkap!






-Bukune-
Read more
1.9
9 total
Loading...

Additional Information

Publisher
Bukune
Read more
Published on
Oct 1, 2014
Read more
Pages
184
Read more
ISBN
9786022201410
Read more
Read more
Best For
Read more
Language
Indonesian
Read more
Genres
Humor / General
Juvenile Fiction / Lifestyles / City & Town Life
Juvenile Nonfiction / Humor / General
Read more
Content Protection
This content is DRM protected.
Read more

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
Waktu gue belum lulus, orang-orang bertanya kapan gue wisuda. Setelah gue lulus, mereka kembali bertanya kapan gue kerja. Terkadang, gue kehabisan akal untuk menjawabnya. Gue jadi selalu menyiapkan beberapa helai rumput di kantong kemeja, supaya gue bisa jawab, "Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang," sambil ngejejelin rumput ke mulut mereka.

Seperti yang kalian tahu ketika membaca Catatan Akhir Kuliah sebelumnya, (Apa?! lo belum baca? Filmnya aja udah dirilis, tuh!) gue seorang mahasiswa kere, dengan orangtua kere, dan nilai jeblok. Gue jomblo dari orok, ditolak cewek mulu. TAPI GUE TETEP GANTENG, dan gue mencoba menjalani sisa hidup lewat pembuktian hipotesis-hipotesis umum, seperti, "nilai bagus tidak menjamin kesuksesan".

Di buku ini ada setumpuk pengalaman yang mau gue bagi, biar sebelum lulus, kamu sudah memiliki perencanaan yang matang seperti program KB, Kuliah Berencana, IPK 2 Lebih Baik. Karena hidup nggak akan selalu mulus seperti paha tanpa bulu kaki. Silakan tertawai, dan mungkin tanpa sadar, lo akan tahu bahwa lo sedang menertawai diri sendiri.

"Pengalaman berupa kegagalan ditolak berkali-kali yang bisa saja dialami oleh semua orang. Menyakitkan, tapi bisa melecut. Buku ini membuat saya tertawa dan sekaligus ... di situ saya kadang merasa sedih."

-Johansyah Jumberan, @joejuhdy, produser film Catatan Akhir Kuliah

"Gue terpikat pada kejenakaan ketika Sam berjuang melepas diri dari statusnya sebagai tuna-salary dengan caranya sendiri. Frankly and tasty!"
-Rons Imawan, @wowkonyol, penulis

"Sam mampu membawa saya ikut merasakan dunianya, yang realistis tapi dramatis, disampaikan dengan humor cerdas menghibur."
-Jay Sukmo, @jaysukmo, sutradara film Catatan Akhir Kuliah

[Mizan, Bentang Pustaka, Belia, Muda, Skripsi, Lulus, Mahasiswa Tingkat Akhir, Indonesia]

??Kemenangan? Gus Dur atas ?lawan-lawan?-nya terutama karena dia punya rasa humor yang tinggi. Waktu menjadi presiden dan membuka pameran lukisan saya, dengan enteng Gus Dur berkata, ?Sudah tahu saya tidak bisa melihat, kok, disuruh membuka pameran ....? Buktikan sendiri dengan membaca buku ini.? ?K.H. Mustofa Bishri Seorang pandita Hindu, seorang pastor Katolik, dan seorang kiai Islam, memperdebatkan tentang siapa di antara mereka yang paling dekat dengan Tuhan. ?Kami!? ujar pandita Hindu. ?Kami memanggil Dia Om, seperti kami menyebut paman kami,? jawab pandita Hindu sambil merapatkan kedua tangan di dada. ?Om, shanti, shanti, Om.? ?Kalau begitu, kamilah yang jelas lebih dekat kepada Tuhan!? ujar pendeta Katolik, ?Kami memanggil Dia 'Bapa'. Bapa kami yang ada di Surga.? Kiai terdiam. ?Hm . . ., ? sang kiai merenung, ?sebenarnya kalau kami ingin memanggilnya, kami tinggal berteriak saja dari menara masjid . . . .? Berlatar belakang keluarga pesantren, Gus Dur dibesarkan oleh tradisi guyonan kalangan Nadhliyin yang blak-blakan. Setiap guyonan yang terlontar dari mulut Gus Dur adalah sebuah refleksi atas berbagai hal dan peristiwa. Dia pun tak ragu menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan guyonan, dan dengan itu dia pun mengajarkan sikap self-criticism kepada pendengarnya. Buku Tertawa Bersama Gus Dur ini mengompilasi kembali berbagai guyonan Gus Dur yang selama ini telah membuat banyak orang tersenyum. Seperti Nasrudin Hoja dan Abu Nawas, humor Gus Dur tak hanya membuat orang tertawa, tetapi juga merenungi betapa kegetiran dunia ternyata bisa diselesaikan dengan humor ala sufi yang kritis. ?Sense of humor yang tinggi justru menunjukkan kapasitas spiritual intelligence yang tinggi dari seseorang. ?Prof. Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat ?Beliau adalah orang yang jago mencairkan suasana, guyonannya spontan dan disukai oleh siapa pun mulai dari orang Batak, Madura, LSM, hingga Lintas Agama.??Sulaiman (asisten pribadi Gus Dur) ?Seniman yang khusus menciptakan kesegaran humor dengan joke-joke cerdas.? ?Jaya Suprana [Mizan, Mizania, Inspirasi, Motivasi, Indonesia]
©2018 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.