Mazmur Mawar: Puisi dan Esai 2013-2018

Penerbit Buku Sastra Digital
3
Free sample

Buku yang memuat sejumlah puisi dan esai yang ditulis antara 2013 - 2018 karya sastrawan Indonesia, Cecep Hari.

----------

Apabila Anda menemukan e-book/buku digital Puisi dan Esai Mazmur Mawar di luar Google Play/Google Bookssudah dapat dipastikan e-book/buku digital tersebut disebarluaskan secara ilegal tanpa sepengetahuan/ tanpa izin dari penulis buku ini. Silakan cek buku-buku yang resmi freedownload dan yang sudah menjadi public domain dari penulis buku ini di link: https://play.google.com/store/books/author?id=Cecep+Hari

----------

Read more
Collapse

About the author

Cecep Hari (Cecep Syamsul Hari) adalah seorang penyair, penulis esai, editor, dan penerjemah sejumlah buku. Ia anak pertama dari sembilan bersaudara (dua di antaranya meninggal sewaktu kecil). Ia belajar tentang kebahagiaan spiritual, kebersahajaan hidup, dan kecintaan terhadap sastra, seni, dan musik dari Ayahanda dan Ibundanya. Di masa muda, Ayahandanya pernah berkecimpung di dunia teater dan juga pandai melukis, dan sewaktu kecil ia sering diberi hadiah buku oleh Ayahandanya; sementara Ibundanya sering meninabobokannya di masa kecil dengan memutarkan lagu-lagu The Beatles.  Selama lebih kurang tiga belas tahun Cecep bekerja sebagai Redaktur Majalah Sastra Horison, dan karena pekerjaannya itu antara tahun 2000 – 2013 ia rutin pergi pulang Bandung-Jakarta. Antara tahun 2006 – 2015, ia pernah menjadi sastrawan dan penerjemah tamu di Korea Selatan (Korea Literature Translation Institute), Malaysia (Rimbun Dahan Arts Residency), Hongaria (Magyar Forditohaz/Hungarian Translators House), Ceko (Kedutaan Besar RI di Praha), Australia (Bundanon Arts Residency dan University Technology of Sydney), dan penyair tamu di China (Xian-xi Writers Association). Ia adalah pendiri Anugerah Puisi CSH (CSH Poetry Award). Official website: www.cecephari.com.

Read more
Collapse
5.0
3 total
Loading...

Additional Information

Publisher
Penerbit Buku Sastra Digital
Read more
Collapse
Published on
Jan 31, 2019
Read more
Collapse
Pages
132
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Best For
Read more
Collapse
Language
Indonesian
Read more
Collapse
Genres
Literary Collections / Essays
Poetry / General
Read more
Collapse
Content Protection
This content is DRM free.
Read more
Collapse

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.

Efrosina, pertama kali diterbitkan Orfeus Books (2002) sebanyak 1.000 (seribu) eksemplar. Cetakan kedua diterbitkan PT Cakrawala Budaya Indonesia (2005) sebanyak 10.000 (sepuluh ribu) eksemplar. Cetakan ketiga dipublikasikan Sastra Digital (2013) dan dicetak/diterbitkan Createspace dan didistribusikan Amazon. Ini adalah edisi terakhir Efrosina yang dipublikasikan sebagai edisi digital pada awal 2019.

 

Cetakan ketiga dan edisi digital Efrosina dilengkapi dengan catatan esais Ach. Nurcholis Majid yang esainya tentang buku puisi Efrosina (cetakan kedua) terpilih sebagai pemenang tingkat nasional LMKS (Lomba Mengulas Karya Sastra) yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2010 dengan Dewan Juri yang diketuai Prof. Dr. Suminto A. Sayuti. Lukisan sampul adalah foto lukisan “Wahyu Makuthoromo”, bubuk kopi dan akrilik pada kertas, 40x50 cm, 2011, oleh K.H. Muhammad Fuad Riyadi.

 

Dalam Catatan Pengantar buku Efrosina edisi digital sekaligus edisi terakhir ini, Ach. Nurcholis Majid (seorang esais yang juga alumnus Universitas Al-Azhar Kairo) antara lain menulis: “... Saya rasa tidak salah jika Cecep dalam sebuah esainya mengatakan bahwa: ‘Puisi adalah pintu keluar dari bahasa yang mengalami menuju bahasa yang menafsirkan, dari sekadar mengalami realitas menjadi menafsirkan realitas’. Dengan bahasa yang menafsirkan itu pula kemuskilan menjadi mungkin…. Apakah lambang-lambang dalam puisinya merupakan teknik Cecep untuk keluar dari kemuskilan seremonial dan formalitas sehingga ia menciptakan dunia baru dalam puisinya dengan simbol-simbol yang ritmis? ... Cecep tak pernah berhenti memainkan perannya sebagai penulis, pelukis, dan musisi dalam puisi. Sebagai penulis, dia mampu menuliskan sesuatu dengan sangat terstruktur, sebagai pelukis ia mampu menggambar dengan sangat artistik, sebagai musisi ia mampu mengaransemen irama yang ritmis...."

©2019 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.