Khulaid Al-Ashri mengatakan bahwa semua orang yakin akan mati, tapi tak ada yang mempersiapkan diri untuk hal itu. Semua orang yakin akan adanya Surga, tapi tak ada yang berusaha mendapatkannya. Semua orang yakin akan adanya Neraka, tapi tak ada yang takut kepadanya. Lalu, apa yang kamu pakai untuk mendaki? Apa gerangan yang kamu tunggu? Kematian? Itu adalah kiriman pertama dari Allah yang datang kepadamu dengan membawa kebaikan atau keburukan. Wahai saudaraku, berjalanlah menuju Allah dengan perjalanan yang indah. [Shifah Ash-Shafwah li Ibnu Al-Jauzi, 3/231]
Semakin jarang qalbu kita diingatkan tentang kematian, semakin jauhlah kita dari kenikmatan ibadah kepada Allah. Dengan mengingat mati, qalbu akan lembut dan bercahaya, sehingga tubuh kita akan ringan untuk mempersiapkan kematian, bukan dengan memperbanyak warisan untuk anak cucu, melainkan memperbanyak tabungan amal. Kesadaran akan kepastian kematian harus terus kita pupuk, demi menjaga stabilitas iman kita agar tidak tertipu oleh kemilau dunia lantas lupa dengan Rabb yang menguasai segalanya.
Berdasar pertimbangan di atas, disusunlah buku Seni Menjemput Kematian yang berisi A-B-C hal-hal yang terkait dengan persiapan kita menjalani kematian dan kehidupan setelah mati. Semuanya dikupas secara acak ibarat tuts huruf keyboard yang juga acak. Justru dari acak, seumpama puzzle, nalar kita lebih tertantang untuk memahami.
Penyusun Lebih dari 25 Naskah Master Mushaf yang masing-masing diterbitkan hampir 100.000 eksemplar, dan penulis hampir 116 Buku Keislaman. Mahasiswa S2 PAI UNISDA Angkatan 2022. Profil lengkapnya bisa dibaca di bit.ly/