Kesalahannya bermula ketika ia, Letnan Anton Hofmiller mengajak seorang gadis lumpuh untuk berdansa. Tersinggung, marah, frustasi, sedih, gadis itu meledak dalam tangis. Pertemuan awal yang tak menyenangkan itu, bagaimanapun menggiring mereka ke hubungan yang demikian akrab, hingga satu hari, si gadis memegangi kedua pipi Sang Letnan dan mencium bibirnya. Mungkinkah perasaan cinta tumbuh di antara mereka? Bagaimana membedakan perasaan cinta dan rasa iba? Di novel terbaiknya ini, Stefan Zweig mengacak-acak anatomi perasaan manusia yang rapuh sekaligus penuh tikungan.
Taman Moooi Pustaka, merupakan sebuah inisiatif yang khusus menerbitkan karya terjemahan dari berbagai khasanah, dan diterjemahkan dari bahasa aslinya.
Stefan Zweig lahir 28 November 1881, merupakan seorang novelis asal Austria yang menulis dalam bahasa Jerman. Selain menulis novel, ia juga menghasilkan karya drama, jurnalistik, serta biografi. Sepanjang karier kesusastraannya yang pendek, di antara 1920-an hingga 1930-an, ia salah satu penulis paling populer di Eropa dan karyanya paling banyak diterjemahkan. Kemunculan Nazi di Jerman membuatnya harus melarikan diri ke Inggris tahun 1934, kemudian ke Amerika tahun 1940, sebelum menetap di Brasil hingga akhir hayatnya yang tragis tahun 1942.