“Di tengah derasnya arus globalisasi, buku Wiradesa Heritage hadir sebagai pengingat akan pentingnya identitas dan akar budaya. Ia berfungsi sebagai peta jalan pembangunan yang berkelanjutan, berbasis pada warisan leluhur sebagai fondasi peradaban. Sebuah karya penting yang layak menjadi rujukan bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana budaya lokal menjadi kekuatan utama dalam menyongsong masa depan.” Dr. Muhamad Jaeni, M.Pd., M.Ag. - Wakil Dekan I FTIK UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan Dewan Ahli PAC Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Kecamatan Wiradesa
“Wiradesa Heritage bukan sekadar catatan sejarah, melainkan peneguhan jati diri wong Wiradesa—negeri para pemberani, pewaris budaya maritim, dan masyarakat berkarakter tangguh. Buku ini menjadi pengingat, sumber kebanggaan, sekaligus rujukan bagi arah pembangunan masa depan.” Ribut Achwandi, S.S., M.Hum. - Sastrawan dan Budayawan Pekalongan
“Pembangunan desa bukan hanya bangunan megah, tapi juga menjaga cerita dan adat leluhur. Buku ini jadi pengikat, pegangan, dan penyemangat kita untuk maju tanpa kehilangan jati diri.” Slamet Sutrisno, S.E. - Kepala Desa Kampil dan Ketua Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Wiradesa
“Buku ini mengajak kita menengok kembali sejarah, memahami masa lalu, dan menjemput penataan masa depan yang berakar pada kearifan lokal. Sebuah pijakan bagi semua pihak untuk berkolaborasi mewujudkan desa yang maju dan berdaya saing.” Muhammad Arif Ma'sum - Ketua PPDI Kecamatan Wiradesa dan Pengurus LTN PCNU Kabupaten Pekalongan
“Wiradesa adalah ruang kehidupan yang sarat makna. Buku ini menghadirkan mozaik perjalanan panjangnya, sekaligus mengingatkan bahwa desa adalah subjek utama pembangunan Indonesia.” Akhmad Mursidi, S.E.Sy. - Koordinator Tenaga Pendamping Profesional Kecamatan Wiradesa, Kementerian Desa PDTT
Slamet Nurchamid lahir pada tanggal 21 Juli 1993 di Desa Wonokerto, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Penulis mengawali pendidikan di RA Masyitoh, melanjutkan ke MIN Bandar, kemudian MTs At-Taqwa Bandar. Pendidikan lanjutnya ditempuh di SMA Ky. Ageng Giri, Mranggen, Demak, sembari menimba ilmu di Pesantren Girikusumo. Pada tahun 2011, penulis melanjutkan studi di STAIN Pekalongan dan memperdalam agama di Pondok Pesantren Al-Hadi min Aswaja, Panjang Wetan. Setelah itu, penulis menyelesaikan pendidikan magister di IAIN Pekalongan. Selama masa kuliah penulis aktif berorganisasi, pernah menjabat sebagai Ketua HMPS PAI, Ketua HMJ Tarbiyah, pengurus BEM STAIN, Koordinator Wilayah Forkombi Pekalongan, dan Sekretaris PC PMII Pekalongan. Di luar akademik, penulis terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Pada tahun 2015, penulis memulai program LINIDA bekerja sama dengan LSM LASKAR dan Pemkab Batang. Tahun 2016, penulis mendampingi BUMDESA, dan setahun kemudian berkolaborasi dengan PKBI Jawa Tengah dalam program BIMA SEMBADA, yang berfokus pada kesehatan masyarakat. Saat ini, penulis adalah tenaga pendamping profesional di Kementerian Desa, turut membantu pembangunan dan pemberdayaan desa. Semangatnya untuk mengembangkan desanya mendorongnya mendirikan komunitas Omah Sinau pada tahun 2016, yang menyelenggarakan kegiatan bimbingan belajar, perpustakaan, serta program literasi dan pengembangan bakat. Pada tahun 2017, penulis bersama komunitas lain di Batang turut mendirikan PAKUBARA (Perkumpulan Komunitas Batang Raya). Sebagai penulis, ia telah menerbitkan beberapa buku, termasuk Wonokerto Heritage: Genealogi dan Historisitas Desa Wonokerto; Panorama Desa; Inovasi Pendidikan dan Praktik Pembelajaran Kreatif; Pesantren Kampoeng Rifa’iyyah Pengampon; dan Pendidikan Humanis: Penilaian Pendidikan di Sekolah. Penulis juga menjadi editor untuk buku-buku seperti Gugusan Aksara Manggala; Sekolah di Masa Pandemi; dan Perspektif Pendidikan: Gagasan Strategi, Evaluasi, dan Manajemen Pendidikan.
M. Lutfi Khakim atau lebih dikenal dengan nama pena Emelka, lahir di Pekalongan pada tanggal 13 Februari 1994. Penulis menetap di Warulor, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, daerah yang lekat dengan denyut budaya pesisir dan kearifan lokal. Meski latar pendidikan formalnya hanya sampai tingkat Sekolah Menengah Atas, Lutfi tak berhenti dalam menimba ilmu. Penulis memperdalam wawasan keislaman dan spiritualitasnya melalui pendidikan nonformal di Pondok Pesantren Al-Khair Walbarokah, Kabupaten Pekalongan, tempat yang kemudian juga menjadi ladang pengabdiannya sebagai pengajar. Selain aktif di dunia pendidikan pesantren, Lutfi juga merintis usaha di bidang fashion, menekuni dunia bisnis sebagai bentuk kemandirian ekonomi sekaligus sarana aktualisasi diri. Namun yang paling membedakan sosoknya adalah peran aktifnya dalam dunia kebudayaan. Penulis merupakan Ketua KOBUIRA Pekalongan (Komunitas Budaya Wiradesa Pekalongan), sebuah forum yang berfokus pada pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Ia juga tercatat sebagai pengurus Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan, lembaga seni budaya di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang konsisten menghidupkan tradisi dan kebudayaan nusantara. Bagi Lutfi, menulis dan berkegiatan budaya bukan hanya tentang melestarikan masa lalu, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif di tengah masyarakat. Dengan nama pena Emelka, ia aktif menulis puisi, esai budaya, dan catatan reflektif lainnya yang sering dibagikannya melalui berbagai forum dan media komunitas. Untuk menjalin komunikasi, kerja sama, atau kolaborasi, penulis dapat dihubungi melalui surat elektronik lutfhii99@gmail.com.