Neraka Rezim Soeharto: Tempat-tempat Penyiksaan Orde Baru

Free sample

Tahukah Anda ternyata di sekitar kita terdapat banyak tempat yang dulu dijadikan tempat penahanan dan kamp penyiksaan oleh rezim Soeharto? Mungkin saja tempat yang sering Anda lalui merupakan saksi bisu kekejaman Orde Baru.

Sejak Soeharto memegang tampuk kekuasaan pada tahun 1965, banyak terjadi kejahatan terhadap kemanusiaan di negeri ini. Mulai dari peristiwa September 1965, invasi ke Timor Leste pada 1972, Malapetaka 15 Januari 1974, peristiwa Tanjung Priok 1984, tragedi Talangsari Lampung 1989, rangkaian operasi militer di Aceh dan Papua, sampai penghilangan paksa aktivis 1998. Hingga kini tidak ada pertanggungjawaban hukum oleh Soeharto, bahkan, Pengadilan Hak Asasi Manusia untuk Timor Leste dan Tanjung Priok tak menyentuh Soeharto. Sementara kasus-kasus lain mengendap seolah ditelan bumi.

Buku ini mengungkap enam tempat penyiksaan yang paling populer di Jakarta: Kremlin, Kalong, Guntur, Gang Buntu, markas Kodim Jatinegara, dan kantor Komnas HAM sekarang. Selain tempat itu masih ada ribuan tempat serupa yang menjadi saksi bisu kejahatan Orde Baru. Tempat-tempat itu sebagian belum berubah, sebagian telah beralih fungsi, dan sebagian lagi dikosongkan begitu saja. Inilah satu-satunya buku yang mencoba mengungkap dan mendokumentasikan tempat-tempat penyiksaan rezim Soeharto.


- Spasi -

Read more

Reviews

3.2
5 total
Loading...

Additional Information

Publisher
Spasi
Read more
Published on
Jan 22, 2016
Read more
Pages
156
Read more
ISBN
9789791685207
Read more
Language
Indonesian
Read more
Genres
History / Asia / Southeast Asia
Political Science / Law Enforcement
Read more
Content Protection
This content is DRM protected.
Read more
Read Aloud
Available on Android devices
Read more

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
Yulianti
"Aku yang berlibur dengan tuntutan angka 500, dusah payah menyesuaikan, merasakan apa yg namanya pengorbanan Tentu tidak indah jika hanya menjadi moment seriud yg menakutkan, maka kubalut drngan liburan yg berbuah cinta. Katanya jatuh cinta di Pare itu sepahit Pare, ku buktikan itu dg harapan bertemu kelak dijalan-nya.karena mimpiku Arc de triomphe de I'Etoile menjadi backgroun kita selanjutnya."Tuntunmu Tuntunku pada Tuntunan-Nya
Yulianti

"Liburan panjang setelah lulus SMA aku tidak diperbolehkan untuk melanjutkan perguruan tinggi oleh orangtuaku. Bermodal pinjaman uang PKK, ibu memberiku biaya untuk mempersiapkan biaya pendaftaran kuliah kedinsan IPDN dan STAN. Tapi berbulan-nulan kuharapkan, kedua perguruan tinggi itu menolakku. Akhirnya aku harus mengakhiri masa liburanku dengan menjadi seorang buruh. Meskipun akhirnya aku dapat menjadi seorang mahasiswa setidaknya liburan kala itu sangat mendidikku."

Bersandar dalam Kehadirat Tuhan
Malisa Ladini

"“Yeee... aku berhasil menaklukkan Bromo meski tak setinggi Semeru, aku bisa merasakan berdiri di atas awan,dan edelwais aku mendapatkanmu..”. teriak Lisa dalam hati denganmengacungkan tangan ke langit sembari menggenggam bunga edelwais yang ia beli sewaktu di perjalanan menuju puncak Bromo. Rasa lelah semuanya terbayar dengan keindahan di puncak Bromo. Dengan hamparan pasir yang sangat luas dan dikelilingi gunung sebagai pembatasnya cukup memanjakan setiap mata. "

Menjemput Edelwais
Ani Marlia

"Aysha adalah seorang mahasiswi di univesitas swasta yang jatuh cinta pada seseorang yang menemukan dompetnya yang hilang. Aysha mulai menanam benih cinta, namun apakah benih cinta itu dapat di tuai bersama dengan lelaki itu? siapakah lelaki itu?"

Kembali Mengingat
Nidya Elma Thanya

"Aku sedang duduk sendirian dalam kebosanan, tidak bisa liburan membantu orangtuanya mengerjakan beberapa pekerjaan. Namun kebosanan ku tidak bertahan lama setelah dia datang dan mengajakku pergi liburan. Kemanakah aku akan diajaknya pergi? Aku takut orangtuaku akan mendapati kami pergi tanpa sepengetahuan mereka"

Jam Pasir
Franciska Mifanyira Sutikno

"Menceritakan tentang ajakan Wulan untuk berlibur ke pantai. Sesampainya di pantai tujuan, mereka pun terpesona melihatnya. Bagaimana tidak, di pantai itu terbentang luas laut yang berwarna biru dan didaratnya terdapat hamparan pasir laut berwarna putih yang begitu indah. Selain berlibur mereka juga belajar untuk memahami anugrah yang telah Tuhan berikan berupa alam yang indah ini. Mereka juga belajar untuk senantiasa menjaga dan merawatnya dengan baik."

Indahnya Berlibur di Pantai
Eka Fitria Wati Lestari

"Momen ini sangat ku tunggu. Pergi dari riuhnya kota perantuan dan kembali ke kota kelahiranku. Berbeda dengan waktu - waktu sebelumnya, kini aku seorang mahasiswa. Keluarga, sekolah dan diri ku sendiri, aku mengkhawatirkannya. Hal apakah yang akan ku terima pada momen ini ? Kebahagiaan? Kekecewaan ? Aku hanya bisa memejamkan mata dan membayangkannya sekarang. Momen dimana aku akan menerima segala jawabannya. Momen itu, iya, momen liburan."

Holiday : Ketika Aku Bercerita
Sinta Choirunissa Fitriana

"Setelah mendengar bahwa sahabatnya berpacaran dengan pria yang selama ini ia cintai, Ana memilih menghindar dengan pergi berlibur demi menenangkan diri ke sebuah kapal megah di tengah laut. Di kapal itu, ia menemukan jawaban atas kebimbangan hatinya."

A Ship
Nindya Chitra

"Berpuluh-puluh hari kulewati bak seorang pahlawan kesiangan. Jalan kaki menyusuri setapak tanah demi tanah. Aku mungkin membuat suatu kesalahan terbesar dalam hidupku atau waktu yang memilihku bersalah. Aku hilang harapan seperti alam tanpa pernah dikandung ibu. Puncak-puncak dan jalanan yang jauh, 999 kilometer, ada apakah kau diujung sana? Apakah aku berhasil melaluinya atau menyerah kepada alam? Satu hal, apakah 999 kilometer itu? Aku dan kamu 'kan menjawabnya."

999 Kilometer
Joshua Ivan Winaldy Simanungkalit

Salim Said
Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) 1965 adalah peristiwa besar yang mengubah sejarah Indonesia. Meski telah lewat setengah abad, Gestapu masih diselimuti kabut misteri dan pertanyaan. Buku ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan literatur sejenis, karena penulisnya menyaksikan langsung situasi di seputar Gestapu. Selain itu, sebagai akademisi, dia menguasai alat analisis dan kesempatan mempelajari dokumen dan literatur langka. 

Dalam buku ini, penulis menjawab bermacam kontroversi secara berimbang serta berusaha menjawab pertanyaan terpenting: Siapa dalang sebenarnya dari Gestapu: Sukarno, Soeharto, atau Aidit? 

"Bung Salim, menuliskan kesaksiannya tentang peristiwa sejarah yang super-misterius ini, dengan gaya amat menarik dan memukau tentang 3 tokoh sentral di sekitar Peristiwa G-30-S. Kesan saya dari membaca buku ini: Lebih baik menyalahkan seorang Aidit daripada PKI sebagai keseluruhan Partai."
-Asahan Alham Aidit, seorang eksil Indonesia yang menetap di Amsterdam

"Meski setengah abad telah lewat, misteri siapa yang membunuh enam jenderal Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965 belum terungkap seluruhnya. Buku ini menawarkan analisis paling meyakinkan yang pernah saya baca. Berkat pengalaman pribadi selaku wartawan pada masa itu serta ilmuwan politik yang mengikuti dari dekat peran politik militer selama puluhan tahun, penulis menjelaskan dengan jitu dan cermat peran yang kemungkinan besar dimainkan para aktor penting, terutama Sukarno, Aidit, Syam, Latif, dan Soeharto."
-R. William Liddle, Profesor Emeritus Ilmu Politik, Ohio State University

"Dalam kaitan memperingati 50 tahun kegagalan Gestapu, saya mengusulkan agar Prof. Dr. Salim Said memperdalam, memperluas,
dan memerinci satu bagian dari bukunya yang terdahulu. Buku inilah hasilnya. Salim Said adalah salah satu saksi sejarah yang perlu menuliskan apa yang dialaminya. Rasa ingin tahunya yang kuat, ketajaman analisisnya, posisinya dan sudut pandang yang tepat, menjamin buku ini amat layak dibaca."
-Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng

Pernah terbit sebagai bagian dari buku Dari Gestapu ke Reformasi.

[Mizan, Publishing, Gestapu, PKI, G30SPKI, Negara, Sejarah, Negara, Tragedi, Indonesia]

Yulianti
"Aku yang berlibur dengan tuntutan angka 500, dusah payah menyesuaikan, merasakan apa yg namanya pengorbanan Tentu tidak indah jika hanya menjadi moment seriud yg menakutkan, maka kubalut drngan liburan yg berbuah cinta. Katanya jatuh cinta di Pare itu sepahit Pare, ku buktikan itu dg harapan bertemu kelak dijalan-nya.karena mimpiku Arc de triomphe de I'Etoile menjadi backgroun kita selanjutnya."Tuntunmu Tuntunku pada Tuntunan-Nya
Yulianti

"Liburan panjang setelah lulus SMA aku tidak diperbolehkan untuk melanjutkan perguruan tinggi oleh orangtuaku. Bermodal pinjaman uang PKK, ibu memberiku biaya untuk mempersiapkan biaya pendaftaran kuliah kedinsan IPDN dan STAN. Tapi berbulan-nulan kuharapkan, kedua perguruan tinggi itu menolakku. Akhirnya aku harus mengakhiri masa liburanku dengan menjadi seorang buruh. Meskipun akhirnya aku dapat menjadi seorang mahasiswa setidaknya liburan kala itu sangat mendidikku."

Bersandar dalam Kehadirat Tuhan
Malisa Ladini

"“Yeee... aku berhasil menaklukkan Bromo meski tak setinggi Semeru, aku bisa merasakan berdiri di atas awan,dan edelwais aku mendapatkanmu..”. teriak Lisa dalam hati denganmengacungkan tangan ke langit sembari menggenggam bunga edelwais yang ia beli sewaktu di perjalanan menuju puncak Bromo. Rasa lelah semuanya terbayar dengan keindahan di puncak Bromo. Dengan hamparan pasir yang sangat luas dan dikelilingi gunung sebagai pembatasnya cukup memanjakan setiap mata. "

Menjemput Edelwais
Ani Marlia

"Aysha adalah seorang mahasiswi di univesitas swasta yang jatuh cinta pada seseorang yang menemukan dompetnya yang hilang. Aysha mulai menanam benih cinta, namun apakah benih cinta itu dapat di tuai bersama dengan lelaki itu? siapakah lelaki itu?"

Kembali Mengingat
Nidya Elma Thanya

"Aku sedang duduk sendirian dalam kebosanan, tidak bisa liburan membantu orangtuanya mengerjakan beberapa pekerjaan. Namun kebosanan ku tidak bertahan lama setelah dia datang dan mengajakku pergi liburan. Kemanakah aku akan diajaknya pergi? Aku takut orangtuaku akan mendapati kami pergi tanpa sepengetahuan mereka"

Jam Pasir
Franciska Mifanyira Sutikno

"Menceritakan tentang ajakan Wulan untuk berlibur ke pantai. Sesampainya di pantai tujuan, mereka pun terpesona melihatnya. Bagaimana tidak, di pantai itu terbentang luas laut yang berwarna biru dan didaratnya terdapat hamparan pasir laut berwarna putih yang begitu indah. Selain berlibur mereka juga belajar untuk memahami anugrah yang telah Tuhan berikan berupa alam yang indah ini. Mereka juga belajar untuk senantiasa menjaga dan merawatnya dengan baik."

Indahnya Berlibur di Pantai
Eka Fitria Wati Lestari

"Momen ini sangat ku tunggu. Pergi dari riuhnya kota perantuan dan kembali ke kota kelahiranku. Berbeda dengan waktu - waktu sebelumnya, kini aku seorang mahasiswa. Keluarga, sekolah dan diri ku sendiri, aku mengkhawatirkannya. Hal apakah yang akan ku terima pada momen ini ? Kebahagiaan? Kekecewaan ? Aku hanya bisa memejamkan mata dan membayangkannya sekarang. Momen dimana aku akan menerima segala jawabannya. Momen itu, iya, momen liburan."

Holiday : Ketika Aku Bercerita
Sinta Choirunissa Fitriana

"Setelah mendengar bahwa sahabatnya berpacaran dengan pria yang selama ini ia cintai, Ana memilih menghindar dengan pergi berlibur demi menenangkan diri ke sebuah kapal megah di tengah laut. Di kapal itu, ia menemukan jawaban atas kebimbangan hatinya."

A Ship
Nindya Chitra

"Berpuluh-puluh hari kulewati bak seorang pahlawan kesiangan. Jalan kaki menyusuri setapak tanah demi tanah. Aku mungkin membuat suatu kesalahan terbesar dalam hidupku atau waktu yang memilihku bersalah. Aku hilang harapan seperti alam tanpa pernah dikandung ibu. Puncak-puncak dan jalanan yang jauh, 999 kilometer, ada apakah kau diujung sana? Apakah aku berhasil melaluinya atau menyerah kepada alam? Satu hal, apakah 999 kilometer itu? Aku dan kamu 'kan menjawabnya."

999 Kilometer
Joshua Ivan Winaldy Simanungkalit

©2017 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.