Catatan Kesepian Seorang Penyair di Kota Seoul: dan 45 Esai Lainnya

Penerbit Buku Sastra Digital
6

“Saya terkejut pada saat membaca kalimat: Bagi saya kesepian telah menjadi epistemologi kreatif. Perasaan kesepian selalu membawa saya ke dalam suasana kreatif. Di samping itu, perasaan kesepian ini selalu mengingatkan saya untuk tidak tergantung kepada orang lain dan hal-hal lain …. Tanggapan ini persis sama dengan pandangan almarhum Pak Pramoedya Ananta Toer. Tidak mungkin Cecep terpengaruh Pak Pram. Saya mengambil keputusan bahwa sastrawan unggul mempergunakan kesepiannya untuk menghasilkan karya unggul.” Prof. Dr. Koh Young Hun (Guru Besar di Hankuk University for Foreign Studies, Seoul, Korea). 

“Membaca pikiran-pikiran yang mencuat dari seorang penyair yang memiliki kemampuan menulis esai yang juga terlibat dalam praktik kebudayaan senantiasa menarik. Buku ini patut dibaca oleh siapa pun.” Dr. Tommy Christomy (Peneliti dan Staf Pengajar di Universitas Indonesia).

Catatan Kesepian Seorang Penyair di Kota Seoul dan 45 Esai Lainnya merupakan kumpulan esai tentang persoalan-persoalan yang menyangkut perkembangan perpuisian kontemporer, pemikiran kesusastraan, pendidikan sastra, kehidupan kebudayaan, dan impresi-impresi kemanusiaan. Dari lebih seratus esai yang ditulis antara 1990-2011, empat puluh enam esai dipilih dan dimasukkan ke dalam buku ini, digolongkan berdasarkan temanya ke dalam enam bagian.

Read more
Collapse

About the author

Cecep Hari (Cecep Syamsul Hari) adalah seorang penyair, penulis esai, editor, dan penerjemah sejumlah buku. Ia anak pertama dari sembilan bersaudara (dua di antaranya meninggal sewaktu kecil). Ia belajar tentang kebahagiaan spiritual, kebersahajaan hidup, dan kecintaan terhadap sastra, seni, dan musik dari Ayahanda dan Ibundanya. Di masa muda, Ayahandanya pernah berkecimpung di dunia teater dan juga pandai melukis, dan sewaktu kecil ia sering diberi hadiah buku oleh Ayahandanya; sementara Ibundanya sering meninabobokannya di masa kecil dengan memutarkan lagu-lagu The Beatles.  Selama lebih kurang tiga belas tahun Cecep bekerja sebagai Redaktur Majalah Sastra Horison, dan karena pekerjaannya itu antara tahun 2000 – 2013 ia rutin pergi pulang Bandung-Jakarta. Antara tahun 2006 – 2015, ia pernah menjadi sastrawan dan penerjemah tamu di Korea Selatan (Korea Literature Translation Institute), Malaysia (Rimbun Dahan Arts Residency), Hongaria (Magyar Forditohaz/Hungarian Translators House), Ceko (Kedutaan Besar RI di Praha), Australia (Bundanon Arts Residency dan University Technology of Sydney), dan penyair tamu di China (Xian-xi Writers Association). Ia adalah pendiri Anugerah Puisi CSH (CSH Poetry Award). Official website: www.cecephari.com.

Read more
Collapse
5.0
6 total
Loading...

Additional Information

Publisher
Penerbit Buku Sastra Digital
Read more
Collapse
Published on
Dec 28, 2018
Read more
Collapse
Pages
542
Read more
Collapse
ISBN
9781491203491
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Best For
Read more
Collapse
Language
Indonesian
Read more
Collapse
Genres
Literary Collections / Essays
Read more
Collapse
Content Protection
This content is DRM free.
Read more
Collapse

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
Selamat Datang Dunia Nyata!

Sebagai seorang perantau di ibukota, Kastana mengawali kariernya sebagai reporter―sebuah kasta terendah―di sebuah majalah musik. Jakarta Kota Metropolitan, memang begitulah adanya. Kastana harus berjuang untuk dapat hidup ‘layak’ di kota yang kehidupannya serba-cepat dan serba-penuh-kejutan ini.

Seluk-beluk pekerjaan di dunia jurnalistik, khususnya jurnalistik dunia hiburan, digambarkan dengan ringan dan segar oleh Soleh Solihun. Kehidupan di luar pekerjaan tak luput diceritakan, mulai dari kelakuan copet di atas Metro Mini hingga kisah kasih dengan sang pujaan hati.

Pertama kali bertemu Soleh saat dia mewawancara Gigi memakai bahasa baku yang sontak membuat kami tertawa keras. Gara-gara pertemuan itulah akhirnya Soleh menjadi sosok yang berkesan buat saya. Kariernya terus melesak maju menjadi seorang ‘komik’, penyiar radio, dan sekarang penulis! Hebat, Leh! Maju terus pantang mundur! [Armand Maulana]

Membaca buku ini seperti membaca sirkus rock & roll dari seorang anak manusia sederhana. Petualangan jujur tanpa rekayasa. Ada tawa, canda, dan asmara bergumul menjadi keringat kehidupan. Buku ini membuat saya teringat akan novel Blues Merbabu dari Gitanyali atau Bre Redana. Tapi, apakah Soleh Solihun menulis kisah nyata atau fiksi belaka? Sebaik-baik teman sepanjang waktu adalah buku? Anggap saja buku ini sepenggal kisah lama dari teman untuk Anda… [Adib hidayat, Rolling Stone Indonesia]

Membaca buku ini mengembalikan ingatan masa lampau yang kalau diingat, lucu. Memoar yang dikemas seakan fiksi ini menarik dengan gaya penulisan Soleh yang mengalir & mampu mengingat banyak hal yang saya bahkan lupa semasa kami bersama. [Arian13, vokalis Seringai]

 

Efrosina, pertama kali diterbitkan Orfeus Books (2002) sebanyak 1.000 (seribu) eksemplar. Cetakan kedua diterbitkan PT Cakrawala Budaya Indonesia (2005) sebanyak 10.000 (sepuluh ribu) eksemplar. Cetakan ketiga dipublikasikan Sastra Digital (2013) dan dicetak/diterbitkan Createspace dan didistribusikan Amazon. Ini adalah edisi terakhir Efrosina yang dipublikasikan sebagai edisi digital pada awal 2019.

 

Cetakan ketiga dan edisi digital Efrosina dilengkapi dengan catatan esais Ach. Nurcholis Majid yang esainya tentang buku puisi Efrosina (cetakan kedua) terpilih sebagai pemenang tingkat nasional LMKS (Lomba Mengulas Karya Sastra) yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2010 dengan Dewan Juri yang diketuai Prof. Dr. Suminto A. Sayuti. Lukisan sampul adalah foto lukisan “Wahyu Makuthoromo”, bubuk kopi dan akrilik pada kertas, 40x50 cm, 2011, oleh K.H. Muhammad Fuad Riyadi.

 

Dalam Catatan Pengantar buku Efrosina edisi digital sekaligus edisi terakhir ini, Ach. Nurcholis Majid (seorang esais yang juga alumnus Universitas Al-Azhar Kairo) antara lain menulis: “... Saya rasa tidak salah jika Cecep dalam sebuah esainya mengatakan bahwa: ‘Puisi adalah pintu keluar dari bahasa yang mengalami menuju bahasa yang menafsirkan, dari sekadar mengalami realitas menjadi menafsirkan realitas’. Dengan bahasa yang menafsirkan itu pula kemuskilan menjadi mungkin…. Apakah lambang-lambang dalam puisinya merupakan teknik Cecep untuk keluar dari kemuskilan seremonial dan formalitas sehingga ia menciptakan dunia baru dalam puisinya dengan simbol-simbol yang ritmis? ... Cecep tak pernah berhenti memainkan perannya sebagai penulis, pelukis, dan musisi dalam puisi. Sebagai penulis, dia mampu menuliskan sesuatu dengan sangat terstruktur, sebagai pelukis ia mampu menggambar dengan sangat artistik, sebagai musisi ia mampu mengaransemen irama yang ritmis...."

"Hati-hati, dia janda, lho," suatu saat saya mendengar ada yang bergunjing di dalam kendaraan umum. Meski saya tak kenal dan saya tahu bukan saya objek pembicaraan mereka, tak tahan saya nyeletuk, "Bu, kenapa harus hati-hati sama janda? Hati-hati tuh sama teroris!" ~ Budiana Indrastuti.

Sahabat saya bertanya, "Kok elu berani, sih Mi? Jadi freelancer 'kan berat. Jadi single parent juga. Nah, elu jalanin dua-duanya, freelancer/single parent? Nekat!" Memang nekat. Tapi sumpah, saya tidak pernah berencana menjadi freelancer/single parent! ~ Mia Amalia.

Ingin kubisikkan keterus-terangan ini kepadanya: Hidup ini memang tidak mudah, Nak. Tapi apakah pantas dia mengetahuinya sedini itu? Bukankah hidup jadi terasa tidak mudah karena aku sendiri harus bergelut dengan persoalan-persoalanku sebagai orang dewasa? ~ Rani Rachmani Moediarta.

Semua pasangan yang menikah tentu menginginkan kebahagiaan sampai akhir. Namun ada kalanya pernikahan mesti berakhir di tengah jalan dan menjadi ibu tunggal pun tak terelakkan.

The Single Moms adalah kisah empat wanita penulis dalam menjalani hidup sebagai ibu tunggal. Bagaimana kesalnya mereka menghadapi stereotipe di masyarakat tentang status janda dan anak broken home, betapa mereka harus pintar-pintar mengatur keuangan, berakrobat dalam membagi waktu untuk anak sambil tetap mengaktualisasikan diri, serta berbesar hati mendidik anak tanpa pasangan tapi direcoki banyak orang.

Jadi ibu tunggal memang tak mudah; ada banyak tantangan, tekanan, dan pengorbanan. Tapi kegembiraan dan kepuasan saat tanggung jawab istimewa ini berhasil ditunaikan adalah imbalan yang setimpal. The Single Moms merangkum momen-momen yang inspiratif, menyenangkan, dan mengharukan saat keempat ibu tunggal ini meraih happy ending versi mereka sendiri.

Menjadi single parent tidak selalu sedih dan merana. Justru setiap pencapaian walaupun kecil terasa sangat berarti karena aku kerjakan sendirian. ~ Ainun Chomsun

©2019 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.