Memasuki abad ke-21 ini, konsep tersebut dapat dipahami dengan pendekatan ilmiah yang terintegrasi. Fenomena alam yang komplek kini bisa dikonsepi dengan teknologi cerdas ini dan dikaitkan dengan prinsip hormesis, sehingga dapat menjadi satu konsep berpikir baru dalam menyelesaikan berbagai masalah kesehatan. Pendekatan ini mengintegrasikan beragam ilmu pengetahun multidisiplin, yang sebelumya hanya dapat dijelaskan menggunakan cara analitik-reduksionistik. Integrasi keilmuan ini dimungkinkan, karena adanya dukungan teknolgi informasi ilmu komputasi, berupa: analisis big data dan sistem cerdas buatan (atau artificial intelligent – AI).
Athiyah Layla, S.Si., M.Si. sebagai peneliti sekaligus bekerja di sekretariat Yayasan Inovasi Molekuler Indonesia (IMI). Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Biologi di Universitas Negeri Malang (2019) dan meraih gelar magister Biologi dari Universitas Brawijaya (2024) dalam bimbingan Prof. Sutiman B. Sumitro, M.S., D.Sc. Sepanjang perjalanan akademiknya, Athiyah aktif dalam berbagai kegiatan ilmiah, termasuk praktik kerja lapangan di LIPI (sekarang BRIN) Bogor pada tahun 2018, serta menjadi asisten dosen. Ia juga berpartisipasi sebagai presenter di berbagai konferensi internasional dan telah menerbitkan artikel ilmiah, salah satunya berjudul "In Silico Study of α-synuclein Pathology in Parkinson’s Disease and the Potential of H₂O₂ as Complementary Therapy" di jurnal internasional terindeks Q2. Minat keilmuannya meliputi biologi sel dan molekuler, bioinformatik, serta riset berbasis terapi molekuler untuk penyakit degeneratif. Saat ini, Athiyah turut mendukung pengembangan teknologi nanobubble dan gasotransmitter untuk aplikasi medis di bawah naungan Yayasan IMI dan Reverse Aging and Homeostasis (RAHO) Club..
Prof. Sutiman B. Sumitro, M.S., D.Sc. adalah pendiri dan penasihat di Yayasan Inovasi Molekuler Indonesia (IMI) serta tokoh ilmuwan senior yang memelopori pendekatan baru dalam nano biologi dan complexity science. Beliau juga menjadi penggagas pengembangan teknologi cerdas penghantaran gas (Intelligent Gas Delivery System) di Indonesia, sebuah inovasi yang menggabungkan prinsip biologi seluler, nanoteknologi, dan regulasi fisiologis alami untuk terapi penyakit degeneratif dan inflamasi kronis. Latar belakang keilmuannya dibentuk melalui pendidikan sarjana dan magister di Universitas Gadjah Mada, serta gelar doktoral (D.Sc.) dari Nagoya University, Jepang. Prof. Sutiman aktif sebagai guru besar di Jurusan Biologi, Universitas Brawijaya, dan menjabat sebagai Direktur Penelitian di Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas, Malang. Dalam karier akademiknya, beliau pernah memimpin beberapa fakultas di perguruan tinggi ternama, termasuk Universitas Islam Malang, Universitas Brawijaya, dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Di bawah payung IMI, Prof. Sutiman memfokuskan risetnya pada regulasi seluler melalui gasotransmitter, mekanisme redoks, serta aplikasi nanobubble oksihidrogen dan CO₂ dalam meningkatkan adaptasi sel terhadap stres fisiologis. Beliau telah menulis banyak artikel dan buku ilmiah, serta memegang sejumlah paten, termasuk paten internasional terkait teknologi penerapan nanobubble di bidang Kesehatan. Sebagai ilmuwan visioner, Prof. Sutiman dikenal karena konsistensinya mendorong pendekatan ilmiah berbasis resiliensi sel dan keseimbangan biologis alami, menjadikan teknologi nanobubble bukan sekadar alat terapi, tetapi juga sebagai jembatan antara ilmu modern dan kecerdasan biologis tubuh.