Dalam buku ini, Hibranwar membongkar fakta yang jauh lebih meresahkan: kita sebenarnya mampu, tapi sistem kita dirancang untuk tidak peduli. Melalui analisis yang lugas dan berani, buku ini menelusuri bagaimana anggaran negara jutru dihisap oleh siklus pemeliharaan abadi yang hanya menguntungkan segelintir kontraktor, birokrat, dan politisi. Ini bukan soal aspal yang buruk atau cuaca ekstrem, melainkan soal arsitektur insentif yang memuja harga terendah dan mengorbankan daya tahan.
Melintasi ruang dan waktu, penulis membawa kita melihat jalan beton Romawi kuno yang bertahan 2.000 tahun, Nilometer Mesir yang dirawat lintas peradaban, hingga sistem inspeksi kereta peluru Jepang yang presisi. Semua itu dibenturkan dengan realitas perbaikan abadi di Jalur Pantura, jebakan proyek ampas tahu di Tiongkok, dan budaya kerja birokrasi yang lebih menghargai upacara potong pita ketimbang merawat fasilitas publik.
Dengan membedah konsep dari pemikir dunia seperti Nassim Nicholas Taleb, Daron Acemoglu, hingga Donella Meadows, buku ini membuktikan secara telak bahwa kegagalan infrastruktur kita bukanlah sebuah kecelakaan. Itu adalah sebuah desain yang disengaja.
Sebuah bacaan wajib bagi siapa pun yang sudah lelah melihat uang pajak mereka menguap di lubang jalan yang sama setiap musim hujan.
Hibranwar adalah nama pena Ibrahim Anwar. Pemilik usaha, penulis, penerjemah, dan penerbit independen asal Bogor, Indonesia. Ia mulai menulis sejak 1998, ketika buku pertamanya tak pernah selesai dan api itu tak pernah padam. Kecintaannya pada buku dan menulis tangan melahirkan Hibrkraft pada 2011, sebuah usaha kerajinan jurnal kulit yang mengirim produk ke Jerman, Belanda, Kanada, hingga Australia. Bagi Hibranwar, jurnal kulit dan buku cetak adalah satu napas yang sama: medium untuk melestarikan tulisan.
Di luar dunia tulis-menulis, ia aktif di Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Bogor dan KADIN Kota Bogor, karena baginya, ekonomi kreatif dan kepenulisan bukan dua dunia yang terpisah.
Pengaruh: Nassim Nicholas Taleb (cara berpikir), Ryan Holiday dan Robert Greene (metodologi riset: index card, zettelkasten), Niklas Luhmann (sistem pengetahuan), Arswendo Atmowiloto dan Rhenald Kasali (tradisi menulis Indonesia).
Sebagai pelaku ekonomi kreatif dan anggota aktif Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Bogor serta KADIN Kota Bogor, Hibranwar menulis bukan dari menara gading, tapi dari pengalaman langsung menghadapi birokrasi dan inefisiensi yang ia bedah dalam buku ini.