The Lean Startup

Bentang Pustaka
2,170
Free sample

Lean Startup bukanlah metode yang menjadikan sistem Anda lebih hemat biaya, melainkan lebih efisien sekaligus (tetap) bermanfaat.


Setiap tahunnya, startup-startup baru bermunculan. Produk yang bagus, promosi besar-besaran disertai berbagai ulasan di media massa, serta janji-janji manis bahwa konsumen akan mendapatkan manfaat besar jika menjadi penggunanya. Namun, tak lama berselang, beberapa di antara startup yang digadang-gadang itu tak lagi terdengar kabarnya.


Seperti yang selalu kita dengar, seorang entrepreneur pasti sukses selama memiliki tekad kuat, panjang akal, waktu yang tepat, dan—terutama—produk yang hebat. Kenyataannya, awal yang menjanjikan tak jarang berujung pada kegagalan. Sebagian besar produk baru tidak sukses di pasaran, bahkan pahitnya, tak digunakan oleh siapa pun. Pertanyaan besar pun muncul, strategi manakah yang tidak tepat?


Lewat riset ilmiah serta pengalamannya dalam mendirikan dan membesarkan berbagai startup selama bertahun-tahun, Eric Ries mencetuskan metode baru, Lean Startup. Sebuah sistem luar biasa yang membuat para entrepreneur segera mendapatkan jawaban atas pertanyaan: bagaimana kita bisa lebih cepat mengetahui apa saja yang berfungsi dan mana yang harus segera disingkirkan?


[Mizan, Bentang Pustaka, Bisnis, Startup, Entrepreneur, Sukses, Motivasi, Inovasi, Dewasa, Indonesia]

spesial seri bentang bisnis & startup

Read more

About the author

Eric Ries adalah wirausahawan dan penulis blog populer Startup Lessons Learned. Dia ikut mendirikan IMVU—startup-nya yang ketiga—dan mengabdi sebagai CTO di perusahaan tersebut. Dia sering menjadi pembicara dalam acara-acara bisnis; pernah berperan sebagai penasihat strategi bisnis dan produk untuk sejumlah startup, perusahaan besar, serta firma venture capital; juga merupakan dosen tamu di Sekolah Bisnis Universitas Harvard. Metodologi Lean Startup yang dia gagas telah ditulis di New York Times, Wall Street Journal, Harvard Business Review, Huffington Post, dan banyak blog. Dia tinggal di San Francisco.


Eric Ries adalah wirausahawan dan penulis blog populer Startup Lessons Learned. Dia ikut mendirikan IMVU—startup-nya yang ketiga—dan mengabdi sebagai CTO di perusahaan tersebut. Dia sering menjadi pembicara dalam acara-acara bisnis; pernah berperan sebagai penasihat strategi bisnis dan produk untuk sejumlah startup, perusahaan besar, serta firma venture capital; juga merupakan dosen tamu di Sekolah Bisnis Universitas Harvard. Metodologi Lean Startup yang dia gagas telah ditulis di New York Times, Wall Street Journal, Harvard Business Review, Huffington Post, dan banyak blog. Dia tinggal di San Francisco.

Read more
4.1
2,170 total
Loading...

Additional Information

Publisher
Bentang Pustaka
Read more
Published on
Jul 8, 2018
Read more
Pages
440
Read more
ISBN
9786022914983
Read more
Language
Indonesian
Read more
Genres
Business & Economics / General
Read more
Content Protection
This content is DRM protected.
Read more
Read Aloud
Available on Android devices
Read more

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
Anda mungkin beruntung memiliki pekerjaan atau proyek mendatang dengan visi yang cemerlang. Namun, upaya mewujudkan visi ini sering kali tak mudah. Setiap hari Anda gampang sekali terjebak dalam berbagai hal: surel yang seolah tiada habisnya, tenggat yang molor, rapat-rapat seharian yang menyita waktu, dan proyek jangka panjang yang hanya berdasarkan asumsi. Sudah waktunya Anda mencoba Sprint,  sebuah metode untuk memecahkan masalah dan menguji ide-ide baru, menyelesaikan lebih banyak hal dengan efisien.


Buku ini ditulis Jake Knapp, mantan Design Partner Google Ventures, untuk menuntun Anda merasakan pengalaman menerapkan metode yang telah mendunia ini.

Sprint mewujudkan pengeksekusian ide besar hanya dalam lima hari.

Menuntun tim Anda dengan checklist lengkap, mulai dari Senin hingga Jumat.

Menjawab segala pertanyaan penting yang sering kali hanya disimpan di benak mereka yang sedang menguji ide/konsep/produk.

Sprint juga membantu Anda lebih menikmati setiap proses. Anda bisa mengamati dan bergabung dengan ratusan dari pelaku Sprint di seluruh dunia melalui tagar #sprintweek di Twitter.

Sebuah proyek besar terjadi pada 2009. Seorang insinyur Gmail bernama Peter Balsiger mencetuskan ide mengenai surel yang bisa teratur secara otomatis. Saya sangat tertarik dengan idenya—yang disebut “Kotak Masuk Prioritas”—dan merekrut insinyur lain, Annie Chen, untuk bergabung bersama kami. Annie setuju, tetapi dia hanya punya waktu sebulan untuk mengerjakannya. Kalau kami tidak bisa membuktikan bahwa ide itu bisa diterapkan dalam jangka waktu tersebut, Annie akan beralih ke proyek lainnya. Saya yakin waktunya tidak akan cukup, tetapi Annie adalah insinyur yang luar biasa. Jadi, saya memutuskan untuk menjalaninya saja.


Kami membagi waktu sebulan itu ke dalam empat bagian yang masing-masing lamanya seminggu. Setiap pekan, kami menggarap desain baru. Annie dan Peter membuat purwarupa, lalu pada akhir minggu, kami menguji desain ini bersama beberapa ratus orang lainnya.


Pada akhir bulan, kami menemukan solusi yang bisa dipahami dan diinginkan orang- orang. Annie tetap menjadi pemimpin untuk tim Kotak Masuk Prioritas. Dan entah bagaimana caranya, kami berhasil menyelesaikan tugas desainnya dalam waktu yang lebih singkat dari biasanya.


Beberapa bulan kemudian, saya mengunjungi Serge Lachapelle dan Mikael Drugge, dua orang karyawan Google di Stockholm. Kami bertiga ingin menguji ide perangkat lunak untuk konferensi video yang bisa dijalankan lewat peramban. Karena saya berada di kota tersebut hanya selama beberapa hari, kami bekerja secepat mungkin. Pada penghujung kunjungan saya, kami berhasil menyelesaikan purwarupanya. Kami mengirimkannya ke rekan kerja kami lewat surel dan mulai menggunakannya dalam rapat. Dalam beberapa bulan, seluruh perusahaan sudah bisa menggunakannya. (Selanjutnya, versi yang sudah dipoles dan disempurnakan dari aplikasi berbasis web tersebut dikenal sebagai Google Hangouts.)


Dalam kedua kasus tersebut, saya menyadari bahwa saya bekerja jauh lebih efektif ketimbang rutinitas kerja harian saya atau ketika mengikuti lokakarya diskusi sumbang saran. Apa yang membedakannya?


Saya menimbang kembali lokakarya tim yang saya gagas sebelumnya. Bagaimana kalau saya memasukkan elemen ajaib lainnya—fokus pada kerja individu, waktu untuk membuat purwarupa, dan tenggat yang tak bisa ditawar? Saya lalu menyebutkan, “sprint” desain.


Saya membuat jadwal kasar untuk sprint pertama saya: satu hari untuk berbagi informasi dan mereka ide, diikuti dengan empat hari pembuatan purwarupa. Sekali lagi, tim Google menyambut baik eksperimen ini. Saya memimpin sprint untuk mendesain Chrome, Google Search, Gmail, dan proyek-proyek lainnya.


Ini sangat menarik. Sprint ini berhasil. Ide-ide diuji, dibangun, diluncurkan, dan yang terbaik, kebanyakan dari ide-ide ini berhasil diterapkan dalam dunia nyata. Proses sprint menyebar di seisi Google dari satu tim ke tim lain, dari satu kantor ke kantor lain. Seorang desainer dari Google X tertarik dengan metode ini, jadi dia menjalankan sprint untuk sebuah tim di Google Ads. Anggota tim dalam sprint di Ads kemudian menyampaikannya kepada kolega mereka, dan begitu seterusnya. Dalam waktu singkat saya mendengar penerapan sprint dari orang-orang yang tidak saya kenal.


Dalam perjalanannya, saya membuat beberapa kesalahan. Sprint pertama saya melibatkan empat puluh orang—jumlah yang sangat besar dan justru hampir menghambat sprint tersebut, bahkan sebelum dimulai. Saya menyesuaikan waktu yang diperlukan untuk mengembangkan ide dan pembuatan purwarupa. Saya jadi memahami mana yang terlalu cepat, terlalu lambat, hingga akhirnya menemukan yang waktu paling sesuai.


Beberapa tahun kemudian, saya bertemu Bill Maris untuk membicarakan sprint. Bill adalah CEO Google Ventures, perusahaan modal ventura yang didirikan Google untuk berinvestasi pada startup-startup potensial. Dia adalah salah satu orang berpengaruh di Silicon Valley. Namun, Anda tidak akan menyangkanya dari pembawaannya yang santai. Pada sore itu, dia mengenakan pakaian khasnya, yaitu topi bisbol dan kaus dengan tulisan tentang Vermont.


Bill tertarik untuk menjalankan sprint dengan startup dalam portofolio GV. Startup biasanya hanya memiliki satu kesempatan emas untuk mendesain sebuah produk yang sukses, sebelum akhirnya kehabisan dana. Sprint bisa membantu mencari tahu apakah startup-startup ini berada di jalur yang tepat sebelum akhirnya mereka bisa berkecimpung dalam tahapan yang lebih berisiko untuk membangun dan meluncurkan produk mereka. Dengan menjalankan sprint, mereka bisa mendapatkan sekaligus menghemat uang.


Namun agar berhasil, saya harus menyesuaikan proses sprint ini. Saya sudah berpikir mengenai produktivitas individu dan tim selama beberapa tahun. Namun, saya hampir tidak tahu apa-apa mengenai startup dan kebutuhan bisnis mereka. Tetap saja, antusiasme Bill meyakinkan saya bahwa Google Ventures adalah tempat yang tepat untuk menerapkan sprint—sekaligus tempat yang tepat bagi saya. “Ini misi kita,” ujarnya, “untuk bisa menemukan entrepreneur terbaik di muka bumi dan membantu mereka membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.” Saya tentu tak bisa menolaknya.


Di GV, saya bergabung dengan tiga rekan lain: Braden Kowitz, John Zeratsky, dan Michael Margolis. Bersama, kami mulai menjalankan sprint dengan startup-startup, bereksperimen dengan prosesnya, dan menguji hasilnya agar bisa menemukan cara untuk memperbaikinya.


Ide-ide dalam buku ini lahir dari semua anggota tim kami. Braden Kowitz memasukkan desain berbasis cerita dalam proses sprint, sebuah pendekatan tak biasa yang berfokus pada pengalaman konsumen alih-alih komponen individu atau teknologi. John Zeratsky membantu kami memulai dari akhir sehingga tiap sprint bisa membantu menjawab berbagai pertanyaan bisnis paling penting. Braden dan John memiliki pengalaman dalam bisnis dan startup, hal yang tidak saya miliki, dan mereka menyesuaikan prosesnya untuk menciptakan fokus yang lebih baik dan keputusan yang lebih cerdas di tiap sprint.


Michael Margolis mendorong kami untuk mengakhiri tiap sprint dengan pengujian di dunia nyata. Dia menjalankan riset konsumen, yang perencanaan dan pelaksanaannya bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu, dan menemukan cara untuk mendapatkan hasil yang jelas hanya dalam sehari. Ini benar-benar sebuah keajaiban. Kami tidak perlu lagi menebak-nebak apakah solusi kami bagus atau tidak karena di akhir tiap sprint, kami mendapatkan jawabannya.


Kemudian ada Daniel Burka, seorang entrepreneur yang mendirikan dua startup sebelum menjual salah satunya ke Google dan bergabung dengan GV. Saat kali pertama menjelaskan proses sprint kepadanya, dia skeptis. Baginya, sprint terdengar seperti serangkaian proses manajemen yang rumit. Namun, dia sepakat untuk mencoba salah satunya. “Dalam sprint pertama itu, kami memangkas prosesnya dan menciptakan sesuatu yang ambisius hanya dalam sepekan. Saya benar-benar jatuh hati.” Setelah kami berhasil meyakinkannya, pengalaman langsung Daniel sebagai seorang pendiri startup dan sikapnya yang tidak menoleransi omong kosong membantu kami menyempurnakan prosesnya.


Sejak sprint pertama di GV pada 2012, kami telah beradaptasi dan bereksperimen. Mulanya kami mengira pembuatan purwarupa dan riset yang cepat hanya akan berhasil untuk produk berskala besar. Mampukah kami bergerak sama cepatnya jika konsumen kami adalah para ahli di berbagai bidang seperti kesehatan dan keuangan?


Tanpa disangka, proses lima hari ini bisa bertahan. Proses ini sesuai untuk semua jenis konsumen, mulai dari investor sampai petani, dari onkolog sampai pemilik bisnis skala kecil. Juga bagi situs web, aplikasi iPhone, laporan medis, hingga perangkat keras berteknologi tinggi. Tidak hanya untuk mengembangkan produk, kami juga menggunakan sprint untuk menentukan prioritas, strategi pemasaran, bahkan menamai perusahaan. Proses ini berulang-ulangmenyatukan tim dan menjadikan ide-ide menjadi nyata.


Selama beberapa tahun belakangan, tim kami mendapatkan beragam kesempatan untuk bereksperimen dan memvalidasi ide kami mengenai proses kerja. Kami menjalankan lebih dari seratus sprint bersama dengan startup-startup dalam portofolio GV. Kami bekerja bersama, sekaligus belajar dari para entrepreneur brilian seperti Anne Wojcicki (pendiri 23andMe), Ev Williams (pendiri Twitter, Blogger, dan Medium), serta Chad Hurley dan Steve Chen (pendiri YouTube).


Pada awalnya, saya hanya ingin membuat hari-hari kerja saya efisien dan berkualitas. Saya ingin berfokus pada apa yang benar-benar penting dan menjadikan waktu saya berharga—bagi saya, tim, dan konsumen kami. Kini, lebih dari satu dekade kemudian, proses sprint secara konsisten telah membantu saya meraih mimpi tesebut. Dan saya sangat senang berbagi mengenai hal tersebut dengan Anda dalam buku ini.


Dengan keberuntungan, Anda bisa memilih pekerjaan Anda karena visi yang tajam. Anda ingin berbagi visi tersebut kepada dunia, baik yang berupa pesan, layanan, maupun pengalaman, dengan perangkat lunak maupun keras, atau bahkan—sebagaimana dicontohkan dalam buku ini—sebuah cerita atau ide. Namun, mewujudkan visi ini tak mudah. Gampang sekali terjebak dalam berbagai hal: surel yang seolah tiada habisnya, tenggat yang molor, rapat-rapat seharian yang menyita waktu Anda, dan proyek jangka panjang yang hanya berdasarkan asumsi.


Prosesnya tidak harus selalu seperti ini. Sprint menawarkan jalur untuk memecahkan masalah-masalah besar, menguji ide-ide baru, menyelesaikan lebih banyak hal, dan melakukan semuanya dengan lebih cepat. Sprint juga membantu Anda lebih menikmati prosesnya. Dengan kata lain, Anda benar-benar harus mencobanya sendiri. Ayo kita mulai.


—Jake Knapp

San Francisco, Februari 2016 


[Mizan, Bentang Pustaka, Manajemen, Ide, Kreatif, Inovasi, Motivasi, Dewasa, Indonesia]

spesial seri bentang bisnis & startup

©2018 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.