Platform digital seperti Etsy, Shopee, Amazon Handmade, dan Tokopedia datang dengan janji manis: menghapus tengkulak dan menghubungkan pengrajin langsung dengan pembeli global. Kenyataannya, platform tersebut justru menjadi perantara baru yang lebih buta, lebih mahal, dan lebih berkuasa.
Dalam "DIBUAT PAKAI TANGAN, DIJUAL PAKAI ALGORITMA", Hibranwar membedah benturan mematikan antara ekonomi kerajinan yang menghargai waktu dan ekonomi platform yang memuja kecepatan massal. Ditulis dari perspektif seorang praktisi kerajinan kulit yang memahami realitas di meja kerja, buku ini membongkar ilusi demokratisasi digital.
Anda akan menemukan bagaimana algoritma memaksa seorang master pengrajin menjadi ahli SEO, bagaimana produk pabrik menghancurkan harga melalui label buatan tangan palsu, dan bagaimana kewajiban membuat konten media sosial merampas waktu produksi tanpa bayaran.
Melintasi lima tradisi di lima benua dari penenun di Flores, pembuat keramik di Oaxaca, penyamak kulit di Fez, tukang kayu di Kyoto, hingga pandai logam di Rajasthan, buku ini memotret pola sistemik yang perlahan menyeragamkan estetika budaya dunia demi metrik konversi.
Ini bukan sekadar keluhan anti teknologi. Ini adalah investigasi tajam tentang siapa yang sebenarnya meraup keuntungan saat kerajinan tangan dipaksa masuk ke dalam etalase digital, dan bagaimana para pembuatnya bisa melawan balik untuk merebut kembali kendali atas karya mereka.
Hibranwar adalah nama pena Ibrahim Anwar, pengusaha, penulis, penerjemah, dan penerbit independen asal Bogor, Indonesia. Ia mulai menulis sejak 1998, ketika buku pertamanya tak pernah selesai. Api itu tak pernah padam. Kecintaannya pada buku dan menulis tangan melahirkan Hibrkraft pada 2011, sebuah usaha kerajinan jurnal kulit yang mengirim produk ke Jerman, Belanda, Kanada, hingga Australia. Bagi Hibranwar, jurnal kulit dan buku cetak adalah satu napas yang sama: medium untuk melestarikan tulisan.
Di luar dunia tulis-menulis, ia aktif di Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Bogor dan KADIN Kota Bogor, karena baginya, ekonomi kreatif dan kepenulisan bukan dua dunia yang terpisah.