Lebih dari sekadar buku antropologi atau folklore, karya ini membumikan filsafat dalam ritus, mitos, bahasa, serta praktik sehari-hari masyarakat Dayak, menunjukkan bahwa sudah lama “suara hutan” ikut memikirkan eksistensi, etika, dan hubungan manusia-alam dengan cara yang dalam dan puitis.
Dibagi lewat tujuh dimensi utama:
ontologi (hakikat keberadaan)
kosmologi (pemahaman alam semesta)
sejarah (jejak waktu dan identitas)
etika (nilai moral)
estetika (keindahan, simbol, seni)
etnonumerologi (makna angka/ritme dalam tradisi)
epistemologi (cara-mengetahui dan pengetahuan lokal)
Buku ini sangat cocok untuk kamu yang ingin memahami filsafat dari sudut pandang kultural Dayak, bukan dari perspektif asing;
mahasiswa, dosen, peneliti bidang filsafat, antropologi, studi budaya, etnografi; pembaca umum yang peduli terhadap kearifan lokal, lingkungan, dan spiritualitas alam; pengoleksi buku Indonesia tentang filsafat lokal atau pemikiran kritis non-Euro-sentris.
Adalah Guru Besar bidang Filsafat Agama Hindu di Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang, Palangka Raya. Lahir di Paring Lahung, Kalimantan Tengah, pada 4 April 1975, ia merupakan putri Dayak yang menganut agama Kaharingan. Pendidikan S1 dan S2 diselesaikannya di IHDN Denpasar, sedangkan gelar doktor diraih dari The University of Burdwan, India (2008–2011), dengan postdoktoral di KITLV Leiden, Belanda (2018). Sejak 2001, Prof. Tiwi aktif menulis dan meneliti tradisi Kaharingan, termasuk aspek teologi dan filsafatnya. Karyakaryanya mencakup buku seperti “Mutiara Isen Mulang” dan “Konsep Ketuhanan dalam Ajaran Hindu Kaharingan” . Di IAHN TP, ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya sejak 2018 dan kini sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan. Secara organisasi, ia aktif di PHDI, MB-AHK, WHDI, dan ICHI Pengukuhan Tiwi sebagai Guru Besar pada Januari 2024 menjadi tonggak penting bagi masyarakat Dayak dan akademisi Kaharingan di Indonesia.
Adalah akademisi dan peneliti terkemuka di bidang linguistik dan budaya Melayu dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia. Ia meraih gelar doktor dari institusi ternama di Malaysia, dengan spesialisasi pada evolusi bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan. Sebagai Koordinator Kursus Bahasa Melayu di UPSI, ia merancang kurikulum inovatif untuk meningkatkan kemahiran komunikasi akademik dan profesional mahasiswa. Penelitiannya mencakup penerapan bahasa Melayu dalam konteks formal dan informal, serta dinamika linguistik dalam masyarakat multikultural. Dr. Patricia juga aktif mempromosikan pelestarian warisan budaya Dayak dan Melayu melalui publikasi ilmiah dan kegiatan pendidikan. Dedikasinya dalam memperkuat identitas budaya lokal di Sarawak menjadikannya figur penting di Malaysia, memberikan kontribusi signifikan pada studi bahasa dan literasi budaya. Ia sering menjadi pembicara dalam seminar akademik, menginspirasi generasi baru untuk menghargai kekayaan bahasa dan tradisi Dayak dan Melayu.
Lahir di Tatau, Bintulu pada 9 Mei 1970, berasal dari latar etnis Dayak Iban. Ia adalah akademisi senior dan pakar Desain Komunikasi Visual dengan spesialisasi dalam Semiotika Visual dan Budaya. Doctor of Philosophy dalam Graphic Design dari Universiti Sains Malaysia, Penang (2022), PGDip dalam Teaching and Learning dari UNIMA), Malaysia (2007), Master of Arts dalam Virtual Communication dari RMIT, Melbourne, Australia (2005), dan gelar Bachelor of Arts with Honours dalam Computer Graphic Design (Major in Online Media) dari Wanganui School of Design (WSD – WRCP), Selandia Baru (1997). Saat menjabat Wakil Dekan (Keterlibatan Industri dan Masyarakat) di Fakultas Seni Terapan dan Seni Kreatif, Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS). Bidang keahliannya meliputi semiotika visual, desain branding strategis, sejarah desain, dan konservasi simbol-simbol visual Dayak. Fokus penelitiannya adalah pelestarian warisan budaya Dayak melalui desain dan simbol visual, termasuk tato Iban kontemporer dan narasi budaya yang kaya akan makna konotatif. Louis aktif dalam pengembangan kurikulum desain untuk memperkuat keterampilan lulusan dan menjembatani dunia akademik, industri, dan komunitas.
Alexander Mering adalah penulis profesional Indonesia, seorang jurnalis, blogger, Ai talent, travel writer cum sastrawan yang kini juga bekerja sebagai webmaster dan social worker. Bukunya yang berjudul 100 Anak Tambang Indonesia mencatatkan 2 rekor MURI tahun 2021. Bukunya yang lain The Shadow Knight (Jejak Petualangan Profesional Intelektual Teddy Kardin) pernah muncul di acara Kick Andy tahun 2023 dan chanel Jaya Suprana Show. Bukunya Filsafat Dayak diluncurkan pada Mei 2025. Buku terbarunya berjudul DNA of Garuda (Antara Nyoman Nuarta, Garuda dan IKN) sedang dalam proses penerbitan. Mering pernah menerima penghargaan MDGs dari Pemerintah Indonesia, menjadi kandidat liputan 6 SCTV Award tahun 2014. Beberapa kali menerima beasiswa luar negeri dan juga alumni Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXI Lemhannas RI-2020. Selain menulis buku-buku biografi, Alexander Mering juga menulis karya sastra dengan nama pena Wisnu Pamungkas sejak 1994 di media lokal dan internasional. Salah satu buku kumpulan puisinya yang terbit tahun 2022 berjudul Seringai Kunang-kunang.
Lahir di Jangkang Benua, Sanggau, Kalimantan Barat, adalah etnolog, akademisi, dan penulis produktif yang berdedikasi pada pelestarian budaya Dayak. Masri adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang. Kini sedang menuntaskan pendidikan S-3 pada Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Palangka Raya. Sebagai penulis, Masri baru menerbitkan 214 buku ber- ISBN, termasuk Dayak Djongkang (pemenang Insentif Buku Ajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI/DP-2M Dikti pada 2010), 101 Tokoh Dayak (3 jilid), Ngayau, Orangorang Hakka di Sanguau, Keling Kumang, serta menulis dan menerbitkan 4.000 artikel di media nasional dan internasional. Masri pernah bekerja sebagai wartawan Suara Indonesia dan redaktur majalah mingguan Hidup. Ia kini menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Keling Kumang. Sebagai Direktur Lembaga Literasi Dayak, ia mempromosikan budaya Dayak melalui platform Bibliopedia.id. Pada 2016, ia mendirikan Penerbitan Lembaga Literasi Dayak bersama Herkulana Mekarryani dan Surianyah Murhaini untuk mendokumentasikan tradisi lisan dan kearifan lokal. Ia mengajar Creative Writing di Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta. Masri banyak menulis buku mengenai, mitos, dan tradisi Dayak. Kontribusinya dalam literasi budaya, termasuk pelestarian harmoni ekologi dan spiritual Dayak, menjadikannya tokoh kunci dalam penguatan identitas budaya Indonesia di era modern.
Lahir di Pelaik, Sintang, Kalimantan Barat) adalah seorang akademisi, penulis, dan pemuka agama yang dikenal luas atas kepakarannya dalam hubungan Dayak- Islam serta sosiologi agama. Berasal dari subsuku Dayak Iban, ia dikenal sebagai tokoh yang aktif membangun jembatan dialog antaragama di Borneo dan Indonesia. Wilson menempuh pendidikan dasar di kampung halamannya dan melanjutkan SMP-SMA di Sintang. Ia kemudian merantau ke Pontianak untuk menempuh studi teologi di STT Pontianak (S.Th., 1996). Gelar Master of Divinity (M.Div., 2000) dan Magister Teologi (M.Th., 2005) diraihnya dari STT Jaffray Makassar. Ia lalu mengambil program doktoral di STT Cipanas dengan konsentrasi Studi Islamologi, disertai penguasaan bahasa Arab dan Yunani. Wilson telah menulis dan menerbitkan lima buku, termasuk Relasi Islam–Dayak (2016), Rumah Panjai: Filosofi Manusia Dayak (2019), dan Persepuluhan dan Penggunaannya (2020). Karya-karyanya merefleksikan perpaduan antara iman Kristen, filsafat Dayak, dan pendekatan akademik lintas budaya, menjadikannya salah satu pemikir penting di persimpangan spiritualitas lokal dan teologi kontekstual Indonesia.
Llahir di Tiang Tanjung, Landak, Kalimantan Barat, adalah peneliti, konsultan, penulis, narasumber, dan dosen. Mendapatkan gelar Master (S-2) di Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor Darul Ehsan tahun 2004. Ia telah banyak melakukan penelitian seputar masyarakat Adat Dayak di Pulau Borneo. Mantan Aktivis Institut Dayakologi Pontianak dan wartawan KR di era 90 hingga tahun 2000-an ini, sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua lembaga Dayak Research Center – Institut Teknologi Keling Kumang (DRC-ITKK). Ia juga mengajar Communication, Critical and Creative Thinking di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Ngabang dan pernah mengampu mata kuliah kebudayaan Dayak di Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Pontianak, sekarang STAKN Pontianak. Hingga saat ini sudah ada 10 buku ber-ISBN yang ia tulis. Sebagai konsultan dan narasumber, ia sering diminta menjadi konsultan/ tenaga ahli dan narasumber, baik tingkat nasional maupun internasional, khususnya yang terkait dengan isu isu masyarakat Adat Dayak di Pulau Borneo, khususnya Kalimantan Barat.