Agama Digital: Pertalian Agama, Politik dan Teknologi di Indonesia

Andri Syah
Free sample

 “Teknologi seringkali dipandang hanya sebagai sebuah alat yang netral. Orang jarang menaruh perhatian bagaimana teknologi mempengaruhi hal-hal yang subtle, atau tidak kentara seperti: aspek psikologis, kesehatan atau bahkan keimanan seseorang. Padahal, jika posisi ini dibalik, aspek-aspek halus yang ada pada diri manusia inilah yang sering mempengaruhi struktur makro, mulai dari persoalan politik sampai dengan ekonomi global.”
Read more
Collapse

About the author

Mahasiswa magister hukum di Birkbeck College, University of London. Andri menyelesaikan pendidikan dasar sampai dengan pendidikan sarjananya di Bandung, Jawa Barat. Sebelum hijrah ke Inggris pada tahun 2013, Andri sempat bekerja di lembaga non-Pemerintah, terlibat aktif dalam berbagai proyek penelitian yang terkait dengan isu-isu governance.

Read more
Collapse
Loading...

Additional Information

Publisher
Andri Syah
Read more
Collapse
Published on
May 11, 2018
Read more
Collapse
Pages
204
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Best For
Read more
Collapse
Language
Indonesian
Read more
Collapse
Genres
Religion / Islam / General
Religion / Religion & Science
Religion / Religion, Politics & State
Read more
Collapse
Content Protection
This content is DRM protected.
Read more
Collapse
Eligible for Family Library

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
Politik belah bambu yang digunakan Rezim Jokowi tidak semua dapat memecahkan koalisi KMP, tetapi partai politik pendukung KMP seperti PAN, pada akhirnya goyah dan bergabung dalam Rezim Jokowi. PAN di awal September 2015 yang dikenal sebagai partai reformasi yang didirikan oleh Amien Rais, pada akhirnya harus bergabung dalam Rezim Jokowi atas alasan yang pragmatis: demi membangun bangsa. PAN bukanlah satu-satunya partai politik yang berpaling ke KIH dan mendukung rezim Jokowi. Beberapa elit PPP juga ”menyeberang” ke KIH dan beberapa di antara mereka mendapat jabatan dalam rezim Jokowi.

Tentu persoalan-persoalan lain, seperti masalah pembangunan era Jokowi, demikian juga Pilkada dan politik lokal diungkap dalam buku ini. Malah, buku ini juga mengungkap perkembangan dunia internasional, khususnya Amerika Serikat dan juga beberapa isu politik Islam di Malaysia. Isu ini jelas, mungkin tidak berkorelasi langsung dengan politik belah bambu Jokowi, tetapi setidaknya merupakan refleksi dari perkembangan dunia yang mungkin nantinya akan memiliki efek terhadap politik kebijakan rezim Jokowi. Sebab dalam politik, tidak ada satu kejadian politik yang berdiri sendiri tetapi akan mempengaruhi kasus atau kejadian politik lainnya.

Buku ini tentu saja bukanlah buku teori, tetapi merupakan buku refleksi penulis dalam memahami realitas politik, khususnya menyangkut politik belah bambu rezim Jokowi. Apa yang penulis sajikan mungkin merupakan penilaian subjekif penulis dalam menilai dinamika dan perkembangan rezim Jokowi dalam melaksanakan pemerintahan. Namun demikian, buku ini setidaknya menjadi catatan kritis sebagai rujukan dalam memahami kebijakan dan politik yang dilaksanakan oleh rezim Jokowi.

Sebagai sebuah pemikiran, buku ini merupakan gambaran realitas politik perjalanan 1 tahun rezim Jokowi dan respon internasional terhadapnya. Oleh karenanya, penulis berharap pembaca dapat dengan rileks membaca setiap isu yang saya sampaikan dalam buku ini. Membacanya pun bisa sambil tidur-tiduran atau dijadikan teman dalam perjalanan Anda. Tentu saja, setelah membaca buku ini pembaca bisa menilai sendiri bagaimana perjalanan rezim Jokowi 1 tahun ini tanpa harus terpengaruh atau dipengaruhi isi buku ini.

Tentu saja, kelahiran buku ini tidak bisa dikatakan sebagai hasil usaha penulis sendiri—kecuali pemikiran yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi merupakan bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Pertama sekali tentu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak Harian Waspada, tempat penulis menuangkan pemikiran lewat kolom opini. 

 

Alhamdulillah. Setelah malam-malam dihabiskan dengan begadang jangan begadang... Tet teroret... Kalau tiada artinya a a... Tet teroret... Begadang boleh saja a a a... Kalau ada istrinya... *eh.


Duh, jadi gak fokus dengerin lagunya Bang Haji Rhoma yang ter... Lam...bat...


Oke aku ulangi.


Alhamdulillah. Setelah malam-malam dihabiskan dengan begadang, mengedit satu per satu naskah dan menyusunnya sesuai tema, akhirnya jadilah buku ini. Buku karyaku yang ke-8.


Dan sengaja untuk buku yang satu ini, aku memfokuskan pada satu tema; Cinta.


*ceileeeh.


Betapa luar biasa satu kata ini. Apa pun yang disentuh oleh cinta, pasti akan indah.


Seperti ketika ada seorang mahasiswa tingkat akhir yang buru-buru masuk kelas karena telat. Di saat ia berlari tiba-tiba ada seorang mahasiswi membawa setumpuk buku tangihan cicilan panci, eh buku kuliah, melintas. Karena tak fokus, akhirnya si mahasiswa menabrak mahasiswi.


Gedubrak!


Buku-buku mahasiswi jatuh. Berserakan di lantai. Ia lalu jongkok, berniat memungut buku-buku itu.


Merasa bersalah, si cowok ikut jongkok manja, membantu mahasiswi mengambil buku.


Pada satu titik, mahasiswa dan mahasiswi ini saling pandang. Lalu entah mengapa, ada desir-desir halus pada dada masing-masing. Saat itulah tiba-tiba terdengar lagu dari kejauhan. Lagu romantis yang berjudul, "Gundul-Gundul Pacul."


Dan entah dari mana datangnya, puluhan mahasiswa, lengkap dengan ibu kantin, berkumpul melingkari dua pelajar itu, lantas menari dan bernyanyi lagu India,


"Bolle curi, yaaa? Bolle gak nggenah. Apa pun jadiii. Jadi gak nggenah. Leca leca, sonia leca leca. Oh, leca leca, Ho hoho..."


Setelah nyanyi, para jelangkung itu --karena mereka datang tak dijemput, pulang diam-diam--- membubarkan diri. Meninggalkan kembali mahasiswa dan mahasiswi yang dari tadi gak kelar-kelar mungutin buku.


"Nama kamu siapa?" mahasiswa membuka percakapan.


"Sonia," jawab mahasiswi malu-malu. "Kalau namamu?"


"Bolle. Nama lengkapnya Bolle Curiya," mahasiswa tersenyum. "Bapak kamu jualan kerupuk, ya?"


Mahasiswi makin tersipu malu, "Kok tahu?"


"Alhamdulillah... Aku boleh pesan satu kotak? Buat lomba makan kerupuk di kampung. Kebetulan aku panitia tujuh belas Agustus-an."


Si cewek jadi melting, dalam hatinya bilang, "Hebat banget ini cowok. Baru jadi mahasiswa tingkat akhir, tapi udah bisa jadi panitia lomba makan kerupuk."


"Ya udah, silakan ke rumah. Ambil kerupuknya."


"Nanti aku ambil kerupuknya bareng orang tuaku, boleh?"


"Oh, kenapa pakai bawa orang tua?"


"Sekalian aku mau ngelamar kamu."


"Aih, cowok banget sih, kamu."


Seketika bunga-bunga beserta potnya berjatuhan di kepala mereka. Romantis banget. Dan tak disangka para mahasiswa lain dan ibu kantin tadi kembali kumpul, hendak menari dan menyanyi lagi. Tapi langsung diusir sama dosen, karena ganggu ujian di kelas.


Di akhir kisah, setelah mereka wisuda, mahasiswi dan mahasiswa itu menikah.


Ah, indahnya cinta.


Bahkan Allah menciptakan semua yang ada di alam semesta karena Ia cinta pada semua makhluk-Nya. Udara yang bisa kita hidup adalah tanda cinta-Nya. Air yang bisa kita minum adalah tanda cinta-Nya. Dan tanda cinta Allah yang paling indah bagi kita, adalah ketika Ia menghadirkan seorang manusia yang hatinya penuh dengan cinta. Laki-laki terpuji, yang sampai jasadnya tertimbun tanah 14 abad yang lalu, jalan cintanya masih saja menginspirasi semua orang.


Ya, dialah Nabi Muhammad terkasih.


Untuk itulah, di bab pertama buku ini, aku sengaja kisahkan betapa luar biasa kasih Nabi terhadap Khadijah, cinta pertama beliau. Saking cintanya beliau pada putri Khuwailid, sampai Aisyah memberi pengakuan,


“Meski sudah lima tahun menikah dengan beliau, bahkan menyatakan diri sebagai istri yang paling dicintai dan dihormati, nyatanya aku tak pernah bisa menggantikan posisi Khadijah di hatinya. Ada kalanya aku merasa beliau tidur dengan gelisah di sampingku. Kemudian aku mendengar beliau mengigau, berbisik memanggil nama Khadijah, seiring air matanya menetes dalam tidur ketika rasa sakit memikirkan persoalan umat dalam agama ini mulai menggerogoti alam bawah sadarnya. Tak peduli berapa lama aku menikah dengannya, tak peduli berapa putra yang mungkin kupersembahkan untuknya. Lelaki itu, Muhammad yang terkasih, takkan pernah benar-benar menjadi milikku sepenuhnya.”


Mengapa cinta Nabi begitu dalam terhadap Khadijah?


Jawabannya sederhana, "Karena cinta mereka tersambung hingga ke langit. Cinta mereka melekat lewat doa-doa dan tempaan hidup yang ikhlas dihadapi bersama."


Dan bab selanjutnya, kita akan membaca tentang kisah seorang nenek, yang tetap bertahan menemani suaminya yang sudah tak berdaya. Sampai akhir usia. Membaca kisah ini, semoga cinta kita terhadap pasangan menjadi lebih utuh dan lebih kuat.


Di bab setelah itu, sorry aku capek nulisnya. Baca sendiri aja.


Buku ini aku beri judul, "Cinta yang Tersambung hingga ke Langit". Berisi kertas 260 halaman. Dan aku sangat tidak menganjurkan pembaca mengunyah kertas itu sebelum lulus dari akademi Kuda Lumping Indonesia. Cocok dibaca oleh para jomblofillah, pengantin yang baru menikah enam bulan, dan pengantin yang baru saja menemani anak wisuda S-2.



 

©2019 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.