The Book of Ikigai

Noura Books
13
Free sample

Perkenalkan Jiro Ono, 91 tahun:

- Chef bintang-tiga-Michelin paling tua di dunia yang masih hidup.

- Di restorannya, selalu tersedia telur ikan salmon (ikura) dalam kondisi segar yang biasanya hanya bisa disajikan di musim gugur.

- Ono “memijit” daging gurita selama satu jam agar empuk dan enak untuk membuat menu guritanya yang terkenal,

- Saat orang-orang masih meringkuk di tempat tidur, Ono sudah tiba di pasar demi mendapatkan ikan terbaik.

Tak heran restoran sushi milik Ono masuk daftar resto kelas dunia. Presiden Barack Obama bahkan memuji karya Ono sebagai sushi terlezat yang pernah disantapnya.

Apa sebenarnya kunci kesuksesan Ono? Apa yang membuatnya mampu tetap bersemangat menjalani hari-harinya?

Ternyata Ono memiliki IKIGAI yang membuatnya tak pernah bosan melakukan hal yang sama dan detail setiap hari. Dia menemukan ikigai dari senyuman pelanggannya, penghargaan-penghargaan yang dia peroleh, atau dari hawa sejuk kala fajar, saat dia bangun, dan bersiap-siap pergi ke pasar ikan. Dia bahkan berharap bisa mati selagi membuat sushi.

Ikigai, filosofi hidup dari Jepang, akan memberikan Anda motivasi, semangat, gairah, dan tujuan untuk menjalani hidup. Melalui berbagai kisah inspiratif, Ken Mogi, seorang brain scientist, menunjukkan keajaiban ikigai dalam hidup manusia. Tidakkah kini saatnya Anda menemukan Ikigai Anda sendiri?

Read more
Collapse

About the author

KEN MOGI adalah seorang brain scientist, penulis, dan penyiar yang berbasis di Tokyo. Dia telah menerbitkan lebih dari 30 makalah tentang kognitif dan neurosains, dan lebih dari 100 buku di Jepang mencakup sains, esai, kritik, dan pengembangan diri. Buku-bukunya telah terjual hampir 1 juta eksemplar di Jepang. Buku berbahasa Inggris karyanya, antara lain Creativity and the Brain.

Read more
Collapse
4.2
13 total
Loading...

Additional Information

Publisher
Noura Books
Read more
Collapse
Published on
Jun 11, 2018
Read more
Collapse
Pages
200
Read more
Collapse
ISBN
9786023854158
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Language
Indonesian
Read more
Collapse
Genres
Self-Help / Personal Growth / General
Read more
Collapse
Content Protection
This content is DRM protected.
Read more
Collapse
Read Aloud
Available on Android devices
Read more
Collapse

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
Marie Kondo, seorang konsultan berbenah asal Jepang, memperkenalkan metode merapikan yang ampuh tiada duanya, KonMari. Keampuhan metode ini makin marak dirasakan di Indonesia, tepatnya setelah buku The Life-Changing Magic of Tidying Up diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada tengah tahun 2016 silam. 


Khoirun Nikmah yang akrab disapa Nikmah, membaca buku tersebut, terkesima, dan akhirnya—bersama suami—mempraktikkan metode ini. Efek metode KonMari tidak hanya tampak pada fisik rumahnya yang jauh lebih rapi, tetapi KonMari ini juga mampu mengubah cara pandang, sikap, dan bahkan menuntaskan pergulatan masa lalunya yang menjadi momok hidupnya selama ini . The book has changed my life so greatly!


Secara rutin dia berkorespondensi dengan Tim Marie Kondo, hingga mendapat restu untuk mendirikan Komunitas KonMari Indonesia.Nikmah dan suami aktif menginisiasi kelas bagi orang-orang yaang membutuhkan semangat dan dukungan untuk ber-KonMari. Bermula dari Whatsapp Group bagi tujuh ratus anggota pertama, kegiatan rutin komunitas ini berkembang menjadi kelas offline yang digelar berbagai perjuru Indonesia.


Melalui buku ini, Nikmah mengajak lebih banyak lagi mereka yang ingin berproses dan menerapkan nilai KonMari bersama-sama. Dimulai dari membandingkan KonMari dengan beberapa model decluttering (berbenah) lainnya hingga akhirnya mantap berpegang pada metode ini. Dengan telaten, Nikmah memberi penyesuaian pada ide awal metode ini sesuai dengan kondisi di Indonesia.


-


Nama saya Khoirun Nikmah. Teman-teman biasa memanggil saya Nikmah atau Niknik, sesuka-suka mereka saja. Ada juga yang memanggil saya Khoir, Irun, atau Irul. Namun, saya lebih suka dipanggil Niknik.


Usia saya sekarang 27 tahun, sudah menikah dan memiliki satu putra. Sejak kecil, saya sangat menyukai aktivitas berbenah. Namun, berbeda dengan Marie Kondo yang fokus dan konsisten menekuni passion-nya dalam beres-beres, saya justru minder dan malu terhadap “passion” tersebut. Saking mindernya, suatu hari saya memutuskan untuk tidak mau berbenah lagi dan mengalihkan perhatian saya pada hobi yang lain, yaitu membaca buku.


Sebelum masuk ke sana, biar saya ceritakan dulu kenangan masa kecil saya soal beres-beres dan berbenah. Ketika kecil, saya pernah menjadi “tukang bersih-bersih” di beberapa rumah orang, mulai dari tetangga, saudara, bahkan guru sekolah. Jika Marie Kondo melakukan hobinya itu lantaran keluarganya sibuk dengan urusannya masing-masing, saya justru melakukannya sebab melihat Emak melakukannya. Emak di sini bukanlah ibu saya, melainkan nenek saya. Saya adalah satu-satunya cucu Emak yang memanggil beliau sebagaimana anak-anaknya memanggil. Semua cucu yang lain memanggil beliau “Mbah” (Jawa, ‘nenek’).


Saya selalu ikut Emak ke mana pun beliau pergi. Emak mencari penghidupan dengan memanfaatkan berbagai keterampilan rumah tangga yang dimilikinya, termasuk ketika dipanggil orang untuk masak maupun berbenah. Sebelumnya saya tinggal bersama Ibu dan Bapak di kampung halaman Bapak. Kampung ini terletak di kabupaten yang berbeda dengan kampung Emak. Namun, karena Ibu dan Bapak berpisah ketika usia saya sekitar 3 tahun, sejak itu saya diasuh dan dididik oleh Emak (Nenek) dan Mbah (almarhum Kakek). Kehidupan ekonomi mereka cukup sulit, tetapi keduanya berhati baik dan berwawasan luas. Mereka mendidik saya dengan penuh kasih sayang, sebagaimana Emak dulu mendidik Ibu.


Saya banyak belajar dari pemikiran kakek dan nenek saya, mulai pelajaran kesederhanaan, keikhlasan, dan etos kerja. “Kehidupan itu keras maka jangan lembek,” demikian nasihat almarhum kakek saya. Nasihat itu selalu terngiang hingga sekarang. Almarhum kakek saya suka membaca, bahkan kertas koran pembungkus cabai pun suka beliau baca. Salah satu cita-cita kakek adalah beliau ingin suatu saat nanti ada generasinya yang berpendidikan, minimal mampu lulus sarjana. Sebab, tidak ada satu pun anaknya yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Jadi, harapannya ada pada cucunya ini. Impian kakek pada akhirnya terwujud walaupun tidak bisa menyaksikannya sendiri. Sebab, kakek meninggal dunia ketika saya masih SMP.


Selain suka ikut Mbah angon (menggembala) kambing dan pergi ke sawah, saya juga sering ikut Emak menginap di rumah orang untuk masak besar di acara hajatan. Emak sangat pandai memasak, beliau sudah semacam chef handal dan terkenal di jamannya. Emak juga bisa memprediksi anggaran dari sebuah hajatan besar. Ia membuat anggaran dengan rinci dan tepat sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia. Hasil masakannya sangat enak, piring tamu licin tandas. Saat piringnya akan dicuci, tidak ada yang namanya sisa makanan masih menempel. Emak benar-benar menerapkan zero food waste dalam perencanaannya.


Selain itu, Emak juga punya kegiatan rutin, yaitu mengunjungi rumah Buyut untuk berbenah. Rumah Buyut sangat besar dan memiliki banyak kamar, perabot, serta gudang. Dari sanalah saya melihat Emak merapikan segalanya, dan sejak itu pula saya selalu dilibatkan untuk sekadar bantu-bantu. Salah satu motivasi saya mau ikut bersih-bersih saat itu adalah supaya bisa dapat lungsuran barang atau buku dari pemilik rumah, hehe.


Menginjak SD, kegemaran berbenah saya semakin membara, hampir setiap pulang sekolah saya berkunjung ke rumah saudara untuk membereskan rak bukunya. Di rumah, saya memang tidak mempunyai banyak buku. Jangankan buku, untuk memiliki sebuah buku LKS tipis saja saya harus menabung dan hidup serba-irit agar dapat membelinya, dengan cara mencicil pula.


Berbenah juga menjadi alasan saya supaya bisa membaca banyak buku. Sambil berbenah, saya biasanya sambil mencari buku pilihan yang bisa saya pinjam. Syukur-syukur bisa mendapatkan buku bekas gratis. Biasanya, selesai berbenah, saya mendapat upah berupa alat tulis, buku, majalah, ataupun barang bekas yang masih bagus. Sedangkan nominal uang biasanya saya dapatkan setelah saya setorkan hasil rapor per catur wulan. Jika nilai bagus, saya mendapatkan uang untuk membeli buku (dari keluarga Buyut saya).


-


Saya membandingkan KonMari dengan beberapa model decluttering (berbenah) lainnya dan saya merasa bahwa metode ini paling cocok dan lengkap. Sejak saya menerapkan metode KonMari dalam hal berbenah, ternyata efeknya tidak hanya tampak pada fisik rumah yang rapi, tetapi KonMari ini juga mampu mengubah cara pandang, sikap, dan bahkan kehidupan saya.


Tidak hanya sampai di sana, inner child1 yang menjadi momok pun bisa tuntas seiring saya menuntaskan proses berbenah. Jadi, benar apa yang dikatakan oleh Marie Kondo bahwa kita baru memulai hidup yang sebenar-benarnya setelah kita berbenah total. Karena efek tersebut, saya dan suami kemudian bersepakat membuat Komunitas KonMari Indonesia. Kami merasa masyarakat Indonesia perlu mengenal metode ini agar mereka bisa merasakan dampak positifnya.


Buku ini terdiri atas 7 bab. Bab 1 berisi tentang pengenalan decluttering, terutama yang berasal dari Jepang. Bab 2 berisi tentang cerita awal saya mengenal metode decluttering serta alasan saya memilih KonMari. Bab 3 bercerita tentang pola pikir metode KonMari dan cara membangun mindset KonMari. Bab 4 adalah kisah tentang tahap demi tahap yang saya lewati dalam melakukan metode KonMari. Di Bab 5, saya membahas kiprah metode KonMari di Indonesia, sudah seberapa dikenal metode ini. Bersumber dari kisah saya selama mengisi kelas online dan offline. Bab 6 saya ceritakan tentang pengalaman membangun Komunitas KonMari Indonesia. Terakhir, Bab 7 saya berbagi kisah tentang proses Metode KonMari mampu mengubah hidup saya. Semoga bermanfaat!


[Mizan, Bentang Pustaka, Pengembangan Diri, Motivasi, Inovasi, Remaja, Dewasa, Indonesia]

©2019 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.