Melalui cerpen-cerpen (11 cerpen) di antaranya Negeri Mimpi, Durian Cinta, Joana Carlos, Seorang Lelaki dan Walet Gereja, hingga Senja Terakhir di Ramelau, pembaca diajak menyusuri dunia yang retak: kota-kota mati, tubuh yang dikorbankan kekuasaan, hutan yang dirampas, dan cinta yang tumbuh di tengah ketakutan. Di sini, cinta tidak hadir sebagai romantika, melainkan sebagai daya hidup terakhir yang keras, pahit, dan membekas—seperti durian itu sendiri.
Dengan bahasa puitik, narasi berlapis, dan atmosfer yang kuat, Durian Cinta menyasar pembaca dewasa, mahasiswa, penikmat sastra, serta generasi milenial dan Gen Z yang mencari bacaan bermakna, reflektif, dan relevan dengan kondisi sosial-politik Indonesia hari ini. Buku ini tidak menawarkan jawaban instan, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang tinggal lama di benak pembaca.
Buku ini disajikan dalam format hybrid book versi cetak maupun ebook. Anda dapat membaca dan atau mendengarkannya dengan cara memindai kode QR yang tercantum dalam lembaran buku. Untuk mendapatkan pengalaman terbaik mendengarkan audio buku ini, gunakanlah earphone/earbuds, headphone/headset atau TWS, baik dalam versi berkabel maupun nirkabel.
Durian Cinta adalah buku bagi mereka yang percaya bahwa sastra masih mampu mengganggu, mengingatkan, dan menjaga kemanusiaan di tengah dunia yang semakin bising dan lupa.
Wisnu Pamungkas adalah nama pena dari Alexander Mering, yaitu seorang jurnalis, aktivis cum sastrawan asal Kalimantan Barat, Indonesia.
Karyanya terutama tentang kritik sosial dan Dayak. Ia adalah lulusan Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) - Lemhannas RI, 2021, penerima beasiswa International Visitor Leadership Program (IVLP) dari pemerintah Amerika 2012, penerima MDGs Award 2014, dan kandidat liputan 6 SCTV award 2015.
Ia berpengalaman luas dalam bidang media digital, pernah bekerja di sejumlah media maupun NGO nasional dan Internasional, khususnya untuk isu inklusi sosial, masyarakat adat dan lingkungan hidup. Puisi, cerpen, esai dan berbagai karyanya pernah terbit di berbagai media di Indonesia dan manca negara.
Disela-sela pekerjaannya Mering telah menulis lebih dari 50 buku dan sejumlah ebook dengan berbagai genre. Bukunya garapannya yang berjudul 100 Anak Tambang Indonesia meraih 2 rekor MURI (2021). Dua buku kumpulan puisinya: Republik Kelamin (2025) & Seringai Kunang-kunang (2021) mendapat sambutan hangat para sastrawan Malaysia.
Buku The Shadow Knight—Jejak intelektual pertualangan Teddy Kardin (2023) ditayangkan di acara Kick Andy Show, Metro TV, dan chanel Jaya Suprana (pendiri MURI). Garuda – buku tentang Maestro Indonesia, Nyoman Nuarta terbit 2025. Di tahun yang sama ia menulis buku Filsafat Dayak bersama 6 penulis Indonesia dan Malaysia serta mengedit buku The History of Dayak.
Karena karya-karyanya Mering juga kerap diudang sebagai pembicara ke berbagai perhelatan sastra nasional maupun internasional. Bersama Jaya Ramba, seorang Sastrawan Malaysia Mering mendirikan Lembaga Sastra Dayak (2025) berkolaborasi dengan pendidi Literasi Dayak Masri Sareb Putra.
Saat ini Mering tengah menyelesaikan salah satu novelnya sambil terus mengkampanyekan gerakan literasi digital untuk rakyat. Kontak: mering@ymail.com.
Dessy Rizki, ME adalah seorang penulis dan praktisi digital marketing Indonesia. Sejak memimpin Borneo Globe—Pusat Kreatif Digital Borneo—ia telah menangani berbagai proyek pemasaran digital untuk klien nasional maupun internasional. Pengalamannya mencakup pengelolaan halaman platform media seperti Sarawak Update, Gago Daily, dan Borneo Network; bekerja sebagai editor di PT Allsys Media Solusi; serta menjadi konsultan marketing untuk allsyshop dan anyarmat.com.
Pada 2025, ia bersama tim Purwadhika Yogyakarta menangani strategi digital untuk berbagai brand, termasuk Daihatsu Jambi, Marvilla Bali II, Nexpedition, dan Kaninara Florist, serta mendampingi sejumlah UMKM dan penerbit lokal dalam membangun brand mereka secara digital.
Sebagai penulis, Rizki aktif terlibat dalam berbagai proyek buku sebagai co-writer, termasuk The Shadow Knight – Biografi Teddy Kardin (2023), Vescovo Motociclista (2024), dan Garuda—Perjalanan Hidup Maestro Indonesia, Nyoman Nuarta (2025). Ia juga tengah menyelesaikan Tetralogi Buku Jerawat serta puluhan karya tentang digital marketing.