Newbie Gadungan

GagasMedia
10
Free sample

“Cobain makan daging ular, deh. Biar ada tantangannya.”
Hanya bermodalkan penasaran, gue dan teman-teman memutuskan untuk mencoba daging ular kobra di sebuah restoran. Sebelum benar-benar menggigitnya, gue berucap kecil dalam hati, “Semoga saja gue tetap normal dan nggak berjoget mengikuti suara suling setelah mengonsumsi makanan ini.”



Awalnya, gue berpikir kalau mencoba hal baru akan menakutkan dan merepotkan. Tapi ternyata, hal baru itu nggak selamanya buruk, kok. Malah, gara-gara pengalaman pertama itu gue bisa cerita seru, unik, dan menyenangkan.

Bukaaan, bukan “pengalaman pertama” yang itu!

Penasaran? Ikuti pengalaman konyol gue dalam mencoba hal-hal baru seperti kencan pertama dengan motor mogok, sok akrab sama bos baru, sampai makan daging ular kobra. Dan lo akan menyadari bahwa... akan selalu ada hal bodoh dalam setiap pengalaman pertama.
But, it’s worth it, Guys!


-GagasMedia-
Read more
Collapse
4.3
10 total
Loading...

Additional Information

Publisher
GagasMedia
Read more
Collapse
Published on
Jul 1, 2015
Read more
Collapse
Pages
208
Read more
Collapse
ISBN
9789797808266
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Best For
Read more
Collapse
Language
Indonesian
Read more
Collapse
Genres
Juvenile Nonfiction / Adventure & Adventurers
Juvenile Nonfiction / Travel
Read more
Collapse
Content Protection
This content is DRM protected.
Read more
Collapse

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
 ‘Where are you going to go?’ tanyanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja saya. 


‘Going home.’ Saya menjawab singkat sambil mengamati landasan pacu yang tampak jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran ini.

‘Going home?’ Ia berkerut. ‘You do not look like someone who will be going home.’

Kalimat inilah yang membuat saya mengalihkan perhatian dari bulir-bulir hujan yang menggurat kaca. ‘Sorry. What do you mean?’
… 
(Satu Malam di O’Hare)

***

Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan ‘rumah’ itu untuk kita, apa pun bentuknya.

Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri: sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun…

… because travelers never think that they are foreigners.

*****

“… Windy membuat buku ini istimewa karena kepekaannya dalam mengamati dan berinteraksi. Ia juga seorang penutur yang baik, yang mengantarkan pembacanya dalam aliran yang jernih dan lancar. Dan bagi saya, itulah yang melengkapkan sebuah buku bertemakan perjalanan. Pengamatan internal, dan tak melulu eksternal.” 
—Dewi "Dee" Lestari, penulis

“Semua orang bisa pergi ke Vietnam, Paris, bahkan Pluto. Tapi, hanya beberapa saja yang memilih pulang membawa buah tangan yang mampu menghangatkan hati. 
Windy berhasil menyulap perjalanan yang paling sederhana sekalipun jadi terasa mewah. Bahkan, celotehannya dalam kesendirian terdengar ramai. Ramai yang membuat nyaman.” 
—Valiant Budi @vabyo, penulis



-GagasMedia-

Hari ini akan menjadi hari yang berat. Saya harus menghadapi musuh bebuyutan: anak kecil. Jujur, saya nggak suka anak kecil. Ribut, berisik, dan rewel. Manis 5 menit, ngeselinnya 1 jam.

Saya ambil benda rahasia yang saya temukan di mobil Gosia. Sebuah boneka tikus yang dalam bahasa Polandia-nya disebut Szcurc, saya keluarkan dari kantong celana jeans. Si Tikus nggak sendirian. Cepot, si Wajah Merah asal Jawa Barat, akan menemaninya dalam sebuah drama yang sepenuhnya merupakan cerita hasil karangan spontan. Mudah-mudahan ini tak hanya bisa memancing tawa, tetapi juga sekaligus mengenalkan budaya Indonesia kepada mereka.

Pertunjukan dimulai! Inilah kisah persahabatan antara Indonesia-Polandia. Kisah dua sahabat yang lama tidak jumpa karena terpisah ribuan kilometer. Kisah pertemanan, yang saya bayangkan, ibarat Cepot dan STURKY--nama panggilan si boneka Szcur yang mendadak terlintas di benak saya.

Erditya Arfah bukanlah seorang maestro seni. Dia juga belum pernah mengajar sebelumnya. Bermodal nekat, dia bertualang menjelajah Polandia demi memperkenalkan budaya Indonesia. Banyak pengalaman unik yang dialami di negara elang putih ini, mulai dari yang biasa, seperti "berkenalan" dengan kakek pemabuk di Pocong, sampai hampir mati kedinginan di suhu -2 derajat celcius. Semua pengalaman ini membuatnya semakin yakin bahwa siapa pun bisa jadi duta bangsa.

Bagian terbaik dari buku ini bukan hanya pemahaman tentang Indonesia dan persepsinya di mata dunia, melainkan cara bertutur Erdit yang lucu, seolah kita sudah kenal lama dengan dia.
-Pandji Pragiwaksono (Presenter TV, Penyiar, Musisi, dan Penulis)
#MariBaca



-Bukune-
“Saya sendiri suka ‘ngeri’ kalau ketauan saya Trinity. Bukannya apa-apa, saya dianggap dewa yang tahu segala hal sehingga sering diminta nemenin jalan. Seringnya saya menolak, karena maunya ke tempat belanja. Kalau saya masih kuat, saya memang memilih pergi sendiri, tetapi itu pun tergantung tempatnya. Kalau sudah pernah ke sana dan tidak ada teman di kota tersebut, saya memilih tidur di kamar hotel yang pasti bagus. Kalau ada teman, saya janjian sama dia untuk kabur.”
TRINITY—The Truth Behind Free Traveling

*****

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita berisi 12 tulisan perjalanan dari 12 orang penulis yang memiliki latar belakang berbeda. Mulai dari penulis komedi, penulis skenario, novelis, hingga yang memang berprofesi sebagai travel writer.

Latar belakang berbeda ini membuat kisah-kisah yang dihadirkan pun memiliki sudut pandang beragam; yang terasa manis, menyentuh, hingga membuat terbahak. Dari birunya laut Karimunjawa, gemerlap New York City, keriaan sebuah pasar pagi di Lucerne, sudut rumah sakit jiwa di Singapura, damainya Shuili, cantiknya Andalusia, warna-warni Senegal, cerita kepercayaan setempat di Soe, mencari parfum impian di Mekah, kisah sebotol sambel yang harus dibawa sampai Utrecht, upaya melipir ke Tel Aviv, hingga fakta tak disangka di balik free traveling.

Perjalanan adalah sebuah proses menemukan. ‘It’s better to travel well than to arrive,’ kata Buddha. Dan The Journeys mengajak siapa pun menemukan kisahnya sendiri. Sesederhana apa pun itu.



-GagasMedia-

©2019 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.