INDONESIA & ASEAN: Politik Luar Negeri Pasca Reformasi

· Unhas Press
Ebook
270
Pages

About this ebook

Di bawah kepemimpinan Soeharto, Indonesia berkembang menjadi aktor utama ASEAN dan telah berupaya mewujudkan kerjasama kawasan Asia Tenggara, tanpa campur tangan Amerika Serikat atau negara adidaya lainnya. Dengan berbagai strategi dan diplomasi yang telah diupayakan oleh pemerintahan Soeharto, Indonesia bersama negara Asia Tenggara lainnya berhasil mendirikan ASEAN pada tahun 1967. Pendirian organisasi kawasan tersebut merupakan komitmen nyata Indonesia dalam menciptakan Asia Tenggara sebagai kawasan damai dan sejahtera.


Sejak pembentukan ASEAN, Indonesia telah memainkan peranan penting dalam mengembangkan organisasi ini sebagai wujud kerjasama kawasan yang kuat di dunia. Indonesia mengembangkan pula peran pentingnya dalam peningkatan pembangunan perekonomian ASEAN dan berperan aktif dalam penyelesaian konflik kawasan maupun antar negara di wilayah Asia Tenggara. Indonesia, misalnya memberikan sumbangan nyata dalam mewujudkan Asia Tenggara sebagai kawasan bebas nuklir dengan pembentukan Zona Bebas Senjata Nuklir (ZBSN) di wilayah Asia Tenggara. Dengan terbentuknya ZBSN, ksepakatan- -kesepakatan Perjanjian Zone of Peace, Freedom and Neutrality (ZOPFAN) dapat dilaksanakan--sekaligus mewujudkan salah satu komitmen Indonesia dalam mengejawantahkan Asia Tenggara sebagai kawasan bebas campur tangan negara asing.


Bidang kerjasama keamanan kawasan, Indonesia pun memegang peranan penting dalam perwujudan berbagai kerjasama keamanan kawasan Asia Tenggara seperti Pembentukan ARF (ASEAN Regional Forum) pada tahun 1994. Forum ini bertujuan untuk membentuk wadah dialog antara negara-negara ASEAN dengan negara adikuasa lainnya yang berkepentingan terhadap keamanan kawasan Asia Tenggara. Di bidang ekonomi, Indonesia bersama negara ASEAN lain memberikan sumbangan yang sangat signifikan dalam perkembangan dan pertumbuhan kerjasama ekonomi ASEAN. Sehingga Asia Tenggara menjelma sebagai salah satu kawasan pertumbuhan yang berjaya di mata dunia internasional. Indonesia telah memainkan peranan penting dalam mewujudkan pasaran bebas Asia Tenggara, yakni kerjasama ekonomi ASEAN Free Trade Area (AFTA) yang akan meliputi semua negara ASEAN pada tahun 2015.


Namun sejak terjadinya krisis moneter yang melanda Asia, khususnya Asia Tenggara, pada tahun 1997-1998, dampak politik dan diplomasi kepemimpinan Indonesia di Asia Tenggara menurun. Krisis keuangan ini bagi Indonesia tidak hanya menimbulkan krisis sosial dalam berbagai dimensi kehidupan warganya, tetapi juga telah memunculkan krisis politik yang menjatuhkan rezim Soeharto setelah berkuasa selama 32 tahun. Kesan krisis ekonomi tersebut telah memunculkan pelbagai masalah sosial, seperti tingginya pengangguran yang dapat memicu munculnya tindak kriminal di kota-kota besar di Indonesia

About the author

H. Darwis, MA, Ph.D., adalah dosen Departmen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin sejak 1990. Lulus S1 pada Program Studi Hubungan Internasional Fisip Universitas Hasanuddin pada tahun 1988.  Program S2 (MA) dalam bidang Ekonomi Politik Internasional  pada the Faculty of Asian and International Studies, Griffith University, Brisbane Australia 1997 and Program S3 (Ph.D) pada Strategic Studies and International Relations at Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada tahun 2012.


Posisi sekarang adalah Ketua Departemen Hubungan Internasional Fisip Unhas sejak tahun 2016 - present.  Bekerja sebagai sekertaris Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan Fisip Unhas  (1999-2005), Peneliti utama pada the Indonesian Rapid Decentralisation Appraisal (IRDA) Program in South Sulawesi, the Asia Foundation (2001-2004), Local Government Programs Support Program (LGSP), RTI-USAID (2005), Peneliti utama pada the Center for Pacific Studies Universitas Hasanuddin (2001-2005) dan Direktur Lembaga Kajian Otonomi dan Demokrasi (LeDO) (2000 - 2015).


Kegiatan  akademik lainya: Facilitator pada the Leadership Transformation Program at Harvard Kennedy School, Harvard University Cambridge United States (2003); Visiting Fellow at Griffith University, Brisbane stralia (1993); Visiting Research di Freiburg University Germany (1999); Visiting Research at George Washington University (2009). Aktif mengikuti seminar internasional diantaranya International Conference of Social Sciences IJAS di Roma Italia 2018 dan Budapest 2019; The International Symposium on Social Sciences and Management, Hokkaido Jepang pada 19-21 Januari 2017; international workshops and training including: the 26th Asia Pacific Round Table di Kuala Lumpur (2012); Presenter pada The South-South Summer Institute di Dakar Senegal (West Africa) 2006; Fulbright American Studies Institute at South Carolina University (2002), Observer pada the Mid-term Election: Prelude to 1996 Election. (AIHII) Pengalaman organisasi: Assosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia, AIPI - Indonesian Political Science Association (1990); APISA-Asian and International Studies Association (2005); AMINEF - American - Indonesian Exchange Foundation (2003).

Reading information

Smartphones and tablets
Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.
Laptops and computers
You can listen to audiobooks purchased on Google Play using your computer's web browser.
eReaders and other devices
To read on e-ink devices like Kobo eReaders, you'll need to download a file and transfer it to your device. Follow the detailed Help Center instructions to transfer the files to supported eReaders.