Di desa 100 orang ini, faktanya mencengangkan: 1 orang menguasai 44% seluruh kekayaan desa, sementara 50 orang di lapisan terbawah harus berebut sisa 2%. Kenapa bisa begitu? Apakah si 1 orang ini bekerja 8.000 kali lebih keras?
Bisnis Jika Dunia Hanya Terdiri Dari Seratus Orang bukanlah buku motivasi bisnis biasa yang menyuruh Anda bangun jam 5 pagi atau menjanjikan "kebebasan finansial" dalam sekejap. Ini adalah peta realitas. Buku ini membongkar sistem, aturan main, dan gravitasi ekonomi yang membuat uang (atau "token") selalu mengalir ke atas.
Apa yang akan Anda temukan di buku ini:
1. Mitos Asal Usul Uang: Mengapa cerita "barter" di buku teks sekolah Anda keliru, dan bagaimana utang (bukan barang) adalah asal muasal uang.
2. Posisi Menentukan Segalanya: Mengapa petani (yang memberi makan 100 orang) mendapat porsi keuntungan terkecil, sementara pemilik platform digital (Sang Tuan Tanah Baru) mendapat potongan dari segalanya tanpa memproduksi apa pun.
3. Rahasia Brankas Bankir: Bagaimana bank sebenarnya tidak meminjamkan uang nasabah, melainkan menciptakan "token" daya beli baru dari udara kosong.
4. Kebohongan Industri Motivasi: Menelanjangi mitos "kerja keras pasti kaya". Kenapa dari 5 orang yang mencoba berbisnis di desa ini, sebagian besar melakukannya karena kepepet, dan kegagalan adalah sebuah kenormalan statistik.
5. Tiga Pipa Kesengsaraan: Bagaimana Bunga, Dividen, dan Sewa bekerja bagai gravitasi yang terus memindahkan kekayaan dari bawah ke atas saat Anda tidur.
Buku ini ditulis khusus untuk "Orang ke-73"—orang biasa yang bekerja keras siang malam, memutar roda ekonomi, namun gajinya selalu habis sebelum akhir bulan.
Dengan memahami di mana posisi Anda dalam rantai pasok dan bagaimana aturan main ini ditulis oleh mereka yang sedang berkuasa, Anda tidak akan lagi mudah tertipu oleh ilusi kesuksesan semu. Anda akan tahu langkah apa yang realistis untuk diambil untuk bergeser dari sekadar "menjual waktu" menjadi "membangun aset".
Dunia ini memang tidak adil. Memahami cara kerjanya tidak lantas membuatnya adil, tapi hal itu akan membuat Anda jauh lebih siap menghadapinya.
Hibranwar adalah nama pena Ibrahim Anwar. Seorang pengusaha, penulis, penerjemah, dan penerbit independen asal Bogor, Indonesia.
Ia mulai menulis sejak 1998, ketika buku pertamanya tak pernah selesai, dan api itu tak pernah padam. Kecintaannya pada buku dan menulis tangan melahirkan Hibrkraft pada 2011, sebuah usaha kerajinan jurnal kulit yang mengirim produk ke Jerman, Belanda, Kanada, hingga Australia. Bagi Hibranwar, jurnal kulit dan buku cetak adalah satu napas yang sama: medium untuk melestarikan tulisan.
Di luar dunia tulis-menulis, ia aktif di Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Bogor dan KADIN Kota Bogor karena baginya, ekonomi kreatif dan kepenulisan bukan dua dunia yang terpisah.
Karya-karyanya mencakup belasan judul nonfiksi orisinal berbahasa Indonesia, dari ekonomi subsidi, skala bisnis, hingga anatomi korporasi , dengan nada satiris-akademis: tajam dalam analisis, sinis dalam penyampaian, tapi selalu berbasis data. Di sisi lain, ia menerjemahkan karya-karya klasik domain publik ke Bahasa Indonesia: Shakespeare, Austen, Fitzgerald, Melville, Brontë, Augustine, dan lainnya. Hibranwar menulis hal-hal yang jarang diartikulasikan orang.
Ia kadang menulis fiksi. Kadang puisi. Tapi nonfiksi adalah rumahnya.
Pengaruh: Nassim Nicholas Taleb (cara berpikir), Ryan Holiday dan Robert Greene (metodologi riset index card, zettelkasten), Niklas Luhmann (sistem pengetahuan), Arswendo Atmowiloto dan Rhenald Kasali.
Hibranwar menulis eksperimen pikiran ini untuk menjawab pertanyaan yang jarang ditanyakan: jika ekonomi global diperkecil menjadi sebuah desa, bisnis mana yang benar-benar penting?