Sejarah Islam yang Hilang

Bentang Pustaka
11
Free sample

Selama 1.400 tahun, Islam telah menjadi salah satu kekuatan agama, sosial, dan politik yang terkuat dalam sejarah. Sejak kelahiran agama ini di Jazirah Arab, Islam bukan hanya menjadi sebuah agama dan kepercayaan, melainkan berkembang luas menjadi pandangan hidup, tata sosial kemasyarakatan, akar pencarian terhadap ilmu pengetahuan, ekspansi wilayah, hingga perubahan bentuk sistem pemerintahan. Firas Alkhateeb, peneliti dan sejarawan di Universal School, Bridgeview, Illinois, secara kronologis merekam peran Islam dalam sejarah dunia yang berhasil menyatukan beragam masyarakat dengan berbagai latar geografis dan kebudayaan. Mulai dari masa Arab pra-Islam, kedatangan Muhammad, pemerintahan Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Ottoman, Kerajaan Islam di Spanyol, kerajaan-kerajaan sabana di Afrika Barat, Kerajaan Mughal, hingga kolonisasi Eropa di wilayah Islam, dan perkembangan negara-bangsa modern di dunia Islam. Buku ini juga dilengkapi dengan potret tokoh-tokoh kunci, penemuan, dan kisah-kisah emas historis yang tak banyak diketahui. Termasuk narasi mengenai sumbangan-sumbangan para pemikir, ilmuwan, teolog, dan negarawan Islam yang selama ini dilenyapkan dari peta sejarah dunia. Sebuah wacana yang akan menyelamatkan kita dari lupa dan abai pada jejak kejayaan Muslim, sekaligus menawarkan narasi baru tentang sejarah yang hilang.


[Mizan, Bentang Pustaka, Bisnis, Sejarah, Islam, Sosial, Politik, Dewasa, Indonesia]

Read more
Collapse

About the author

Pengajar Sejarah Islam di Universal School, Bridgeview, Illinois dan Pendiri lostislamichistory.com 

Read more
Collapse
4.8
11 total
Loading...

Additional Information

Publisher
Bentang Pustaka
Read more
Collapse
Published on
Sep 5, 2018
Read more
Collapse
Pages
308
Read more
Collapse
ISBN
9786022911296
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Language
Indonesian
Read more
Collapse
Genres
History / Reference
Read more
Collapse
Content Protection
This content is DRM protected.
Read more
Collapse
Read Aloud
Available on Android devices
Read more
Collapse

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.

Pada bulan Juli 1946 Piet Hidskes mendaftarkan diri sebagai sukarelawan pada Depot Speciale Troopen (DST, Depot Pasukan Khusus), korps elite dari Koninklijke Nederlansch-Indisch Leger (Pasukan Hindia-Belanda) di bawah komando Kapten Westerlingyang menerima carte blanche untuk menumpas pemberontakan di Indonesia dan melakukan aksi-aksi pembersihan. Setelah mengikti pelatihan selama enam bulan, Hidskes ditempatkan di Sulawesi Selatan. Dia kemudian terlibat dalam ‘Peristiwa Sulawesi Selatan’. Hidskes tidak menceritakan kepada siapapun apa yang terjadi di sana. Siapa yang akan mempercayainya?

 

Ketika dia meninggal dunia pada tahun 1992, cerita itu dia bawa masuk ke liang lahat. Kenapa dia selama lima puluh tahun membungkam diri tentang semua pengalamannya di Sulawesi Selatan? Sejauhmana keterlibatannya dalam pelaksanaan aksi-aksi pasukan Westerling dilakukannya dengan sukarela?

 

Anaknya, Maarten Hidskes, memutuskan untuk menyelidiki peran ayahnya di Sulawesi sampai mendasar. Dia mendapatkan kepercayaan dari beberapa mantan tentara komando dari regu pasukan ayahnya, menganalisis surat-surat yang dikirim ayahnya dari Hindia, dan mempelajari laporan-laporan intelijen tentang teror di Sulawesi. Dengan cara yang mengharukan, Maarten berhasil menyusun rekonstruksi masa lalu perang dari ayahnya.

 

 

=======

 

 

‘Buku ini dapat memberikan kesadaran bahwa perang tidak dibutuhkan untuk menyelesaikan pertentangan. Yang dibutuhkan ialah kemauan untuk berdialog.’

―Anhar Gonggong, Ilmuwan Sejarah

 

 

‘Kalau ayah kita bersama dengan Westerling telah melakukan aksi pembersihan di Sulawesi Selatan, maka kita bisa menanggapinya dalam beberapa cara. Cara Maarten Hidskes adalah dengan membuat rekonstruksi yang seksama, terwujud dalam sebuah buku yang menakjubkan.’

―Ad van Liempt, Penulis

 

 

‘Menulis dan menerbitkan buku seperti ini memerlukan keberanian dan kemenangan atas diri sendiri.’

―Abram de Swaan, penulis buku The Killing Compartments

 

 

=======

 

 

Maarten Hidskes (1967) bekerja sebagai editor akhir dan peneliti untuk pelbagai program televisi, di antaranya NOVA dan Het Klokhuis. Perjalanan pencariannya menemukan peran ayahnya dalam Peristiwa Sulawesi Selatan sebelumnya telah ditayangkan dalam acara televisi Andere Tijden. 

Surabaya 1945: Sakral Tanahku mengungkap sejarah lengkap tegak berdirinya RI di tahun 1945 melalui kesaksian para pelaku sejarah, detil-detil perjuangan, pengorbanan para pejuang dan taktik mereka dalam mempertahankan kemerdekaan. Nyawa merenggang dan kekerasan mewarnai masa awal RI antara Agustus dan Desember 1945. Dengan berani, pejuang di Surabaya mencapai tiga capaian: menaklukkan pasukan Jepang dan melucuti senjatanya, melawan dan menggagalkan kekuatan Belanda yang hendak mengambil kembali bekas jajahannya, dan menantang tentara gabungan Inggris-India dengan misi mereka memulangkan pasukan Jepang yang telah kalah perang dan membantu Belanda berkuasa kembali di Hindia Timur (Indonesia).

 

Yang tak banyak diketahui adalah bahwa setelah proklamasi kemerdekaan, pasukan Inggris dan Jepang dengan cepat mampu menguasai Jakarta dan secara brutal menumpas tuntutan merdeka di  Bandung, Bogor, Cirebon, dan Semarang. Pada bulan Oktober 1945 pasukan Inggris mendarat di Surabaya dengan tujuan untuk menaklukkannya, namun mereka gagal.

 

Hanya di Surabaya, pejuang RI mampu memberikan perlawanan yang berarti bagi pasukan Jepang dan Inggris-India.  Para Arek Suroboyo, di bawah arahan jitu para tokoh nasionalis lokal, melucuti senjata tentara Jepang, menggagalkan usaha Belanda menundukkan Surabaya dan akhirnya menggempur pasukan Inggris-India di bulan Oktober 1945. Wilayah RI pertama yang secara riil merdeka adalah kota Surabaya, dan karena itu penduduknya adalah WNI pertama yang mengecap kemerdekaan.

 

Buku karya sejarawan Dr Frank Palmos menyajikan kisah-kisah 99 hari heroik yang bergolak di Surabaya dari tanggal 22 Agustus hingga 30 November 1945, sebuah rangkaian peristiwa yang memutuskan harapan Belanda dan Inggris untuk berkuasa kembali.

©2019 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.