Mereka memperbanyak ibadah.
Memperpanjang sholat malam.
Menambah dzikir dan tilawah.
Namun bagi sebagian orang, perjalanan spiritual tidak selalu berjalan semulus itu.
Bagi mereka yang hidup dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder, menjaga konsistensi ibadah sering terasa seperti mendaki gunung setiap hari.
Sholat kadang bolong.
Niat baik sering tertunda.
Rutinitas mudah runtuh.
Buku ini lahir dari satu pertanyaan yang jarang dibahas:
Apakah orang dengan ADHD juga punya jalan menuju Lailatul Qadar?
Melalui refleksi spiritual yang dalam, luas, dan menyentuh, buku ini mengajak pembaca melihat kembali hubungan manusia dengan Tuhan dari perspektif yang berbeda.
Bahwa perjalanan spiritual tidak selalu lurus.
Bahwa Tuhan tidak menghitung seperti manusia.
Bahwa satu malam kesadaran bisa lebih hidup daripada puluhan tahun rutinitas yang kosong.
Buku ini bukan tentang menjadi sempurna.
Buku ini tentang manusia yang masih ingin kembali kepada Tuhan—meskipun hidupnya belum rapi.
Karena mungkin pada suatu malam di bulan Ramadan, ketika seseorang hanya bisa berdoa dengan sangat sederhana,
Tuhan tetap mendengarnya.
Dian Nafi adalah penulis yang menaruh perhatian besar pada persimpangan antara psikologi, kehidupan batin manusia, dan spiritualitas.
Melalui karya-karyanya, ia berusaha menjembatani pengalaman manusia modern, yang sering penuh kegelisahan, distraksi, dan ketidakteraturan, dengan kedalaman makna yang ditawarkan oleh tradisi spiritual.
Ia dikenal melalui berbagai tulisan dan buku yang mengangkat tema kesehatan mental, pertumbuhan pribadi, serta refleksi spiritual yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Dalam buku ini, Dian Nafi mengajak pembaca melihat kembali makna Lailatul Qadar dari sudut pandang yang jarang dibicarakan: perjalanan spiritual orang-orang yang hidup dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder.
Baginya, bahkan hati yang paling gelisah sekalipun tetap memiliki jalan untuk menemukan Tuhan.