Enam minggu kemudian, dua residivis ditangkap dengan tuduhan membunuh. Ternyata mereka punya plot berbeda-beda dalam benaknya ketikamendatangi rumah korban. Motif di balik pembunuhan inilah yang membuat In Cold Blood menjadi sangat kompleks dan menarik. Novel ini secara detail menceritakan kehidupan korban dan para pembunuhnya dengan sentuhan emosional yang subtil, tetapi mendalam, hingga membuat pembaca bertanya-tanya: siapa sesungguhnya korban-korban dalam kejadian ini?
Novel ini langsung merebut perhatian pembaca sejak pertama terbit pada 1966, dan masih banyak dibaca hingga saat ini. Capote sendiri mendefinisikan karyanya sebagai novel nonfiksi pertama: sebuah bentuk naratifyang memanfaatkan seni penulisan fiksi, tetapi masih sangat faktual.
[Mizan, Bentang Pustaka, Non-Fiksi, California, Indonesia, Psychologic]