Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an

Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Free sample

Apa yang disajikan dalam buku ini adalah pengalaman menyeluruh Sumatera Barat (Sumatera Tengah) sepanjang dasawarsa 1950-an yang sampai sekarang relatif terluput dari perhatian para ilmuwan sosial umumnya dan sejarawan pada khususnya. Padahal berbagai pengalaman yang dialami warga daerah pada waktu itu sangat menentukan sikap, perilaku, karakter, serta tatanan sosial, politik, ekonomi, dan budaya orang Sumatera Barat dewasa ini. Penelitian mengenai pengalaman Sumatera Barat (Sumatera Tengah) tahun 1950-an memiliki beberapa latar belakang. Salah satu di antaranya adalah adanya kesamaan jiwa zaman dan latar belakang politik, serta budaya masa sekarang dengan dekade tersebut. Karena itu, dengan mempelajari dan mengetahui pengalaman daerah pada masa itu akan bisa dijadikan cermin untuk memahami berbagai kejadian yang berlaku dewasa ini.

 

Read more
Collapse

About the author

Gusti Asnan, lahir di Lubuk Sikaping, 12 Agustus 1962. Ia adalah staf pengajar pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang. Menyelesaikan program Doktor tahun 1998 di Fachbereich für Sozial-wissenschaften Universität Bremen, Jerman dengan disertasi berjudul “Trading and Shipping Activities: The West Coast of Sumatra 1819-1906”. Beberapa bukunya yang terbit terakhir adalah Pemerintahan Daerah Sumatera Barat: Dari VOC hingga Reformasi (1996); Demokrasi, Otonomi, dan Gerakan Daerah: Pemikiran Politik Orang Minang Tahun 1950-an (2006); Kamus Sejarah Minangkabau (2003); dan Indonesia in Transition: Work in Progress (sebagai editor bersama Henk-Schulte Nordholt) (2003). Di samping itu beberapa artikelnya telah diterbitkan dalam beberapa jurnal ilmiah di dalam dan luar negeri.

Read more
Collapse
Loading...

Additional Information

Publisher
Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Read more
Collapse
Pages
289
Read more
Collapse
ISBN
9786024332075
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Best For
Read more
Collapse
Language
Indonesian
Read more
Collapse
Genres
Education / Multicultural Education
History / Ancient / General
History / Asia / Southeast Asia
History / Civilization
History / Reference
History / Social History
Literary Criticism / Subjects & Themes / Historical Events
Philosophy / History & Surveys / Ancient & Classical
Political Science / History & Theory
Reference / Research
Social Science / Anthropology / Cultural & Social
Social Science / Ethnic Studies / General
Social Science / Minority Studies
Social Science / Research
Young Adult Nonfiction / Social Science / General
Read more
Collapse
Content Protection
This content is DRM protected.
Read more
Collapse

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
?Salim Said adalah mantan wartawan dengan pengalaman panjang.

Juga pakar terkemuka tentang masalah militer di Indonesia. Kemudian memasuki dunia akademis sampai meraih derajat Ph.D. di AS. Ketajaman analisis dan kekayaan informasi penulisnya jelas terlihat pada buku yang ada di tangan Anda sekarang ini.?

?Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif

Guru Besar Sejarah dan mantan Ketua PP Muhammadiyah.

ÿ

?Membaca buku Prof. Salim Said ini sungguh memberikan pemahaman baru bagi saya tentang perjalanan sejarah Indonesia, khususnya menjelang pemberontakan PKI, dan perjalanan bangsa Indonesia semasa Orde Baru. Buku ini sangat baik untuk dibaca oleh para perwira TNI maupun pemimpin-pemimpin muda Indonesia umumnya.?

?Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan

ÿ

?Kesaksian Salim Said ini tidaklah sekadar mengisahkan berbagai peristiwa yang telah dilalui bangsa, tetapi dengan simpatik dan kritis juga menjelaskannya. Maka, sebuah buku yang mengasyikkan dan mencerdaskan pun kini telah bisa dinikmati.?

?Prof. Dr. Taufik Abdullah

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

ÿ

?Setiap membaca buku Salim Said menyangkut perjalanan sejarah TNI, selalu saja tampil cerita baru yang sebelumnya tidak pernah diketahui secara luas.

Di tengah kelangkaan karya tulis sejarah TNI, buku ini menjadi pemenuh kebutuhan yang sangat berguna.?

?Letjen TNI (Purn.) Kiki Syahnakri

mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)

ÿ

?Prof. Salim Said menunjukkan betapa dekatnya profesi akademisi dan kegiatan kewartawanan. Bermodalkan pengalaman dari kedua profesi itu, Prof. Salim Said merekam perjalanan sejarah dengan jeli, cermat, dan seimbang.?

?Atmadji Sumarkidjo

wartawan senior/pengamat militer dan penulis biografi Jenderal TNI (Purn.) M. Jusuf

ÿ

?Cakupan buku ini cukup menarik karena dimotori oleh kesaksian-kesaksian. Adorasi terhadap Benny Moerdani membuat catatan sangat ?long winding?. Saya kagum sekali membaca bahwa Jenderal Bintang Lima yang diberikan kepada Nasution, Soeharto, dan Sudirman adalah prakarsa Salim Said.?

?Letjen TNI (Purn.) Rais Abin

mantan Panglima pasukan PBB di Sinai, Asisten Perencanaan Umum Mabes ABRI serta mantan Dubes di Singapura dan Malaysiaÿ

[Mizan, Biografi, Inspirasi, Indonesia]

Gathak dan Gathuk kelimpungan. Tanah Air mereka, Giri, telah tumpas diganyang Mataram. Bahkan junjungan mereka pun, Raden Jayengresmi-keturunan Sunan Giri Perapen-pergi entah ke mana.

Gathak dan Gathuk galau. Mereka tak tahu harus mulai mencari dari mana. Tiba-tiba, Petruk datang di atas sekerat tempe dan tahu untuk memberi petunjuk. Mereka harus berjalan ke barat. Perjalanan mereka rupanya penuh warna. Bahkan, sempat-sempatnya diundang masuk studio televisi untuk syuting acara talkshow yang tersohor se-Nusantara. Gara-garanya, seluruh warga ikut termehek-mehek menyaksikan si kembar yang tampak frustrasi mencari tuannya. Untung tak lama kemudian, Raden Jayengresmi ketemu.

Jayengresmi, keindahan dari segala sesuatu yang indah, telah memikul nama baru: Ki Amongraga, ia yang menggembala raganya.

Tok ... tok ... tok ....

***

Dalam tradisi dakwah di Jawa, ada satu tahap tersukar untuk menjadi kiai. Tahap tersebut adalah mendiamkan dunia berlangsung apa adanya, tanpa main larang ini-itu, sebagaimana sikap Musa terhadap segala kelakuan aneh bin ajaib Nabi Khidir.

Akan tetapi, saya tak kuat untuk berpuasa diam dan membiarkan siang berpasangan malam di alam semesta, sebagaimana "baik" dan "buruk" berpasangan demi keberlangsungan hidup. Saya bisa berpuasa makan dan minum. Namun, menghadapi dinamika sosial masa kini, saya tak mau melakoni tapa bisu. Dan, demi tatanan masyarakat yang perlahan bobrok akibat korupsi ini, saya akan bicara dengan meminjam Serat Centhini. Selamat menikmati.

[Mizan, Bentang Pustaka, Sujiwo Tejo, Budaya, Indonesia]

Bentang Sujiwo Tejo

©2019 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.