Jena Artha Lestari tumbuh di dalam sistem itu. Namun satu pertanyaan sederhana mengguncang seluruh hidupnya. Pertanyaan itu adalah, jika kebenaran memang kuat, mengapa ia takut pada pertanyaan?
Karena keberaniannya mempertanyakan Sang Sumber dan otoritas Dewan, Jena diadili di Ruang Cahaya Abadi dan dijatuhi hukuman pengasingan melalui Gerbang Kekosongan. Tempat di mana dimensi misterius yang konon tak pernah mengembalikan siapa pun. Pada malam purnama, ia melangkah ke dalamnya, meninggalkan Eterna yang diyakini akan tetap abadi tanpa dirinya.
Di Tanah Tanpa Nama, Jena belajar menghadapi kekosongan tanpa sandaran. Ia menyadari bahwa dunia tidak berhenti hanya karena ia pergi. Bahwa sistem yang ia lawan bukan pusat semesta. Waktu berjalan. Generasi berganti. Dan ketika ia menemukan jalan kembali, ia terkejut menyadari bahwa lebih dari dua abad telah berlalu di Eterna.
Kota suci itu tidak lagi sama. Dewan lama telah tiada. Pilar-pilar runtuh. Keyakinan yang dulu kokoh kini menjadi legenda yang samar. Jena tidak kembali sebagai penyelamat. Ia kembali sebagai saksi bahwa sejarah bergerak tanpa menunggu siapa pun.
Namun perubahan itu belum selesai.
Saat Jena berdiri kembali di depan Gerbang Kekosongan, berharap menemukan makna terakhir dari perjalanan panjangnya, gerbang itu tidak terbuka. Ia terkunci oleh kekuatan yang tidak dikenalnya. Di permukaan batu muncul pesan yang menggetarkan. Seseorang bernama Mesias mengaku mengawasi dan mengontrol Eterna, menjadi Dewan Cahaya yang baru yang tidak seperti zaman dahulu.
Kehadiran Mesias menandai babak baru. Ancaman yang tidak lagi berbentuk dogma, melainkan kontrol yang tidak tampak dan sistematis. Jika dulu Jena melawan larangan bertanya, kini ia menghadapi kekuasaan yang mungkin membiarkan pertanyaan boleh hidup, namun dalam pengawasan total.
ETERNA adalah kisah tentang keberanian berpikir di tengah tekanan kolektif, tentang kesadaran yang lahir dari kekosongan, dan tentang dunia yang terus berubah bahkan ketika kita tidak siap mengikutinya. Sebuah refleksi tentang kekuasaan, kebebasan, dan pilihan, apakah manusia benar-benar ingin bebas, atau hanya ingin merasa aman?
Di antara reruntuhan masa lalu dan sistem baru yang lebih halus, Jena harus memutuskan satu hal yang jauh lebih sulit daripada pemberontakan, apa artinya tetap sadar di dunia yang terus berusaha mengontrol segalanya?
Agung Webe
Cukup panggil saya Agung webe. Saya adalah orang biasa yang menulis untuk membantu diri saya sendiri. Membantu menemukan kebajikan dan kesadaran untuk kehidupan yang saya jalani. Mari kita belajar bersama, berkembang dan tumbuh bersama
Email: agung_webe@yahoo.com