Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim Menghadapinya

Lentera Hati
285

Pandemi corona mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia termasuk dalam praktik agama. Sebagaimana anjuran pemerintah dan ahli kesehatan untuk menghindari kerumunan, shalat Jumat pun salah satu ibadah yang mesti kita hindari karena melibatkan manusia dalam jumlah yang banyak. Pemuka-pemuka agama berbeda pendapat dalam menanggapinya.


Demi keselamatan bersama tanpa melanggar syariat, buku elektronik (ebook) ini hadir untuk mengkonfirmasi perubahan-perubahan praktik agama yang sudah dan masih akan kita hadapi. Dalam buku elektronik ini pula, hadis dan ayat-ayat yang beredar di media sosial selama masa pandemi dikonfirmasi dan didiskusikan sesuai konteksnya.

Read more
Collapse

About the author

Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu al Qur’an dan mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII (1998).


Ia dilahirkan di Rappang pada 16 Februari 1944. Orangtua Quraish Shihab adalah Bapak Abdurrahman Shihab dan Ibu Asma Aburisyi. Quraish adalah putra keempat dari 12 bersaudara. Tiga kakaknya, Nur, Ali dan Umar serta dua adiknya, Wardah dan Alwi Shihab, juga lahir di Rappang. Tujuh adik lainnya, yaitu Nina, Sida Nizar, Abdul Mutalib, Salwa, serta adik kembar Ulfa dan Latifah, lahir di Kampung Buton.

Read more
Collapse
5.0
285 total
Loading…

Additional Information

Publisher
Lentera Hati
Read more
Collapse
Published on
Apr 27, 2020
Read more
Collapse
Pages
136
Read more
Collapse
ISBN
9786237713265
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Best For
Read more
Collapse
Language
Indonesian
Read more
Collapse
Genres
Religion / Islam / General
Read more
Collapse
Content Protection
This content is DRM protected.
Read more
Collapse

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
Kemarin, dalam diskusi online, saya sampaikan bahwa sebetulnya sudah sangat terbatas konflik antara agama dan sains. Kalau pun ada, paling hal itu terkait dengan isu bumi datar yang kemarin-kemarin itu cukup mencuat. Ada juga hal lain yang memang terkait dengan konflik antara agama dan sains, tapi hal ini akan saya bahas belakangan. Yang ada menurut saya sesuatu yang bukan persis konflik antara agama dan sains. Yang paling banter mungkin adalah situasi kontradiksi: Penganutnya sebetulnya tak anti sains. Bukankah mereka tiap hari sudah memanfaatkan—bahkan tergantung kepada—teknologi sebagai produk sains. Termasuk sains kedokteran. Dalam konteks wabah COVID-19 ini, yang terjadi adalah sebagian orang memenangkan apa yang dianggapnya sebagai kewajiban agama atas perspektif medis.

Atau, jika ada perbedaan perspektif medis dan teologis—yang predeterministik, akibat kesalahpahaman terhadap aliran-aliran teologi tertentu—pemahaman teologislah yang dimenangkan.

Ini semacam sekularisme dari sisi lain. Kalau biasanya sekularis melarang agama turut campur dalam persoalan dunia, sekarang persoalan dunia dilarang ikut campur dalam (apa yang mereka lihat sebagai) persoalan yang (sudah diputuskan) oleh agama. Jika dalam kasus sebelumnya, kewajiban keagamaan dimenangkan atas sains kedokteran, di sini prinsip kausalitas sains (kedokteran) dikalahkan oleh teologi.

Umumnya Muslim percaya kepada sains kedokteran. Tapi sikap umumnya adalah, sejajar dengan itu, mereka percaya bahwa semua usaha atau ikhtiar itu perlu dibarengi doa. Mereka percaya bahwa, betapa pun kausalitas yang mencirikan sains itu nyata, doa bisa mengubahnya, doa punya peran dalam membelokkan arah kerja kausalitas. (lihat artikel yang berjudul “Doa Menggerakkan Alam Ruhani, Mengubah Takdir”). Dalam teologi Asy’ari, atau dalam tasawuf, bahkan dalam Syiah—yang dikenal dengan prinsip al-amr bayn al-amrayn (posisi pertengahan di antara dua posisi, yakni antara Jabariyah dan Qadariyah/Mu’tazilah)—kausalitas tidak dinihilkan, melainkan dihadapkan pada kemungkinan campur tangan Allah dalam memberi atau tidak memberi izin terhadap termaterialisasikannya prinsip kausalitas itu. Dalam Asy’ariyah, melalui kasb Ilahi; dalam tasawuf, melalui tajalliy Ilahi yang tak pernah berhenti; dan dalam Syiah melalui karsa Allah yang tak pernah tak beroperasi.


Nah, kembali kepada kemungkinan adanya konflik antara agama dan sains, dalam konteks wabah ini, menurut saya akarnya bukanlah pada penolakan terhadap sains, melainkan lebih akibat fenomena pengerasan identitas. Tentu bukan ranah tulisan ini untuk membahas sebab-sebab terjadinya pengerasan identitas—namun cukup untuk dikatakan di sini bahwa pengerasan identitas telah mendorong sebagian umat beragama untuk memenangkan agama atas sains—khususnya dalam hal terjadi konflik antara penyelenggaraan kewajiban keagamaan dan protokol kesehatan modern. Apalagi mengingat bahwa sains modern biasa diasosiasikan dengan hasil-hasil penemuan Barat-Kristen. Di luar masalah ini, saya berani menyatakan bahwa konflik agama dan sains, khususnya di kalangan Muslim, sama sekali bukanlah suatu fenomena yang menonjol. Kenyataannya, anjuran untuk berobat bahkan sudah dinyatakan oleh Nabi sendiri dalam hadis dan Sunnah beliau saw. Bahkan suatu disiplin ilmu kedokteran—yang biasa disebut sebagai “kedokteran Nabi” (al-thibb al-nabawi) sudah dikenal di sepanjang sejarah Islam. Bahkan tak kurang dari seorang Imam mazhab fiqh, yang dia sendiri adalah seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti Imam Syafi’i, lebih dari sekali menyatakan keutamaan ilmu kedokteran. Bahkan, dalam salah satu pernyataannya, beliau menyatakan bahwa, setelah ilmu (fiqh) tentang yang halal dan haram, kedokteran adalah ilmu yang paling utama.

Maka, kalau saja tak ada apa yang dipersepsi sebagai konflik sosial-politik, khususnya antara Muslim dan Barat-Kristen, saya berani menyatakan bahwa nyaris tak ada konflik antara agama dan sains di dunia Islam di sepanjang sejarahnya. Selebihnya, Muslim diajar untuk selalu memadukan antara usaha/ikhtiar dan doa lalu, senyampang itu, berupaya menggali sebanyak-banyak hikmah dari setiap musibah. Bahkan kalau itu menyangkut penderitaan (sakit sampai pun kematian).

©2020 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.