Berabad-abad setelah Wilwatikta terbakar, Rarasati dan Pradipta menemukan jejak sebuah naskah yang tak tercatat dalam arsip resmi. Naskah itu menyebut satu nama yang jarang diucapkan lantang: Arumbhaya.
Di antara perdebatan akademik, tekanan politik, dan bayang-bayang tafsir sejarah yang dikendalikan, mereka mulai menyadari bahwa yang diperebutkan bukan sekadar takhta, bukan sekadar agama, bukan sekadar kuasa. Yang diperebutkan adalah ingatan.
Dari lereng Semeru hingga pelataran sunyi di Lawu, dari istana Wilwatikta hingga ruang seminar modern, ARUMBHAYA bergerak sebagai kisah tentang peradaban yang lupa pada dirinya sendiri.
Kerajaan bisa runtuh.
Mahkota bisa berpindah.
Tetapi ada sesuatu yang tak pernah benar-benar hilang.
Dan ia menunggu untuk diingat.
Agung Webe menulis di antara sejarah dan ingatan, di antara yang tercatat dan yang sengaja dilupakan. Karyanya kerap bergerak dalam ruang di mana fakta, tafsir, dan kesadaran saling berkelindan, mempertanyakan bukan hanya apa yang terjadi, tetapi bagaimana sesuatu diputuskan untuk dikenang.
Melalui fiksi, ia menelusuri cara sebuah peradaban memahami dirinya sendiri—bagaimana narasi dibentuk, diwariskan, disunting, dan kadang-kadang disangkal. Ia tertarik pada celah-celah sunyi di antara peristiwa besar; pada fragmen-fragmen yang tidak masuk prasasti; pada jejak yang tetap bertahan meski tak diakui.
ARUMBHAYA lahir dari kegelisahan tentang ingatan kolektif dan keberanian untuk mengingat kembali. Bukan sebagai upaya meluruskan sejarah, melainkan sebagai ajakan untuk melihat bahwa yang paling tua tidak selalu hilang—ia hanya menunggu untuk disadari.
Agung Webe tinggal di Indonesia dan terus menulis tentang pertautan antara bahasa, kesadaran, dan peradaban.
Kontak: agungwebe@gmail.com