Buku ini merangkai tiga fase kehidupan Dian Rana dalam satu narasi utuh: dari masa kecil yang sunyi dan penuh kehilangan, menuju fase bertahan dalam keterbatasan, hingga akhirnya masuk ke dalam dokumentasi awal pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
E-Book Seri ketiga dari Kisah Dian Rana berjudul Di Balik Layar Nusantara: Langkah Kecil di Tengah Sejarah Besar menjadi penutup kisah nyata Dian Rana—seorang warga yang secara tak terduga berada di tengah proses lahirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) sejak tahap awal pembangunan.
Berawal dari rasa penasaran dan panggilan hati, ia berulang kali datang secara mandiri ke kawasan pembangunan. Langkah sederhana itu perlahan berkembang menjadi keputusan besar yang mengubah arah hidupnya—hingga ia meninggalkan pekerjaan yang selama ini memberinya keamanan finansial.
Dalam perjalanan tersebut, ia menghadapi berbagai tantangan: mulai dari permintaan penghapusan video, keterbatasan akses, hingga momen-momen sunyi saat harus merekam perubahan secara diam-diam di tengah situasi yang tidak selalu bersahabat.
Ketegangan mencapai puncak ketika salah satu videonya diambil dan menjadi viral di media sosial. Peristiwa itu mengubah segalanya, memaksanya menghadapi pilihan sulit antara tetap bertahan atau menjauh.
Kisah ini bukan sekadar catatan pribadi. Perspektif Dian Rana tentang dokumentasi IKN pernah menjadi bagian dari sorotan media internasional Rest of World, yang membahas peran warga lokal dalam membentuk narasi pembangunan ibu kota baru Indonesia. Sebagian dokumentasinya juga sedang dalam proses penetapan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Buku ini merupakan potongan kecil dari sejarah yang sedang ditulis—dilihat dari sudut pandang seorang warga yang berusaha merekam perubahan besar yang terjadi tepat di depan matanya.
Dian Rana adalah Dokumentator Sejarah Nusantara, penulis, dan pencipta arsip asal Kalimantan Timur yang merekam perjalanan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sejak tahap awal pembangunan. Karya dokumentasinya telah memperoleh pengakuan kearsipan nasional setelah 27 arsip audiovisual yang diserahkannya ditetapkan sebagai Arsip Statis dan dilestarikan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).