StartupPedia

Bentang Pustaka
225
Free sample

Selama beberapa tahun belakangan, kita telah menyaksikan besarnya gerakan startup di negara-negara seperti Singapura, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, Taiwan, Thailand, dan Myanmar. Saya segera menyadari betapa berbedanya ekosistem startup di wilayah ini. Banyak di antara elemen yang kami, sebagai venture capitalist, remehkan di Silicon Valley, tanpa diduga ada di Asia Tenggara. Jelas bagi saya sejak semula bahwa dalam hal ini, Asia Tenggara memiliki semua hal yang dibutuhkan untuk menciptakan wilayah startup yang sukses, hanya saja belum berkembang.

Ada banyak buku tentang startup yang ditulis. Banyak di antaranya membicarakan secara eksklusif tentang aspek pembiayaan sebuah startup. Buku-buku lainnya hanya membicarakan tentang satu aspek pembentukan startup. Saya belum pernah melihat sebuah petunjuk lengkap yang bisa membantu seorang wirausahawan mengembangkan sebuah startup dari awal hingga akhir. Tak satu pun buku yang ada, membahas hal-hal mendasar seperti "membentuk sebuah tim dan menciptakan sebuah produk", "melindungi teknologi/IP perusahaan", "memasarkan untuk konsumen global", dan "merencanakan sebuah strategi exit yang baik." Saya mencoba membahas semua hal tersebut dalam buku ini. Saya menggambarkan semua poin tersebut dengan contoh nyata startup Silicon Valley, Jepang, dan Asia Tenggara.

[Mizan, Bentang Pustaka, Startup, Teknologi, Muda, IT, Indonesia]

Read more
Collapse

About the author

Anis Uzzaman memulai kariernya dengan bekerja pada perusahaan trading publik seperti IBM dan Cadence, menjalankan peran rekayasa, penjualan, dan pemasaran. Dalam posisi manajerial untuk kedua perusahaan tersebut, ia terlibat dalam investasi strategis korporasi begitu juga merger dan akuisisi. Pada 2011, ia meninggalkan dunia perusahaan publik besar untuk menempa jalannya sendiri. Anis menggabungkan kekuatan dengan rekanannya dan cofounder dari Eropa dan mendirikan Fenox Venture Capital di Silicon Valley, AS. Ia antusias untuk menyalurkan passion kewirausahaannya ke pembangunan startup mainstream. Saat ini Fenox Venture Capital mengelola delapan pendanaan aktif yang menyasar beberapa wilayah yang berbeda di dunia. Pendanaannya memiliki ukuran yang bervariasi mulai dari US$20 sampai 200 juta. Fenox pada dasarnya berinvestasi pada TI, TI kesehatan, mobile, sosial, cloud, big data, sistem pembayaran, dan teknologi generasi masa depan.


Investasi pertama Anis di Silicon Valley sekarang menjadi perusahaan terkenal bernama Genius (sebelumnya dikenal sebagai Rap Genius). Sebelum investasi Fenox, Genius lulus dari inkubator dan akselerator paling terkenal di Silicon Valley, Y-Combinator. Saat Fenox berinvestasi pada pendanaan round seed pada 2011, perusahaan tersebut bernilai US$10 juta. Sejak itu, Genius telah menggalang lebih dari US$55 juta dari investor venture capital top termasuk Andreessee Horowitz dan banyak investor terkenal berbasis di AS lainnya. Saat ini, setelah dua round pendanaan tambahan, Genius dihargai sebesar US$1 miliar (berdasarkan informasi publik yang ada di TechCrunch News). Saat ini Genius masih mengalami pertumbuhan yang pesat dan berkelanjutan.


Sejak saat itu, Fenox Venture Capital terus berinvestasi pada banyak startup lokal berbasis di AS seperti ShareThis, SideCar, Lark, Expect Labs, dan Jetlore. Fenox memiliki pengalaman bekerja dengan entrepreneur top dalam industri ini. Dalam banyak kasus, Fenox telah membantu banyak entrepreneur mengarah ke exit yang sukses. Contohnya, dalam jangka waktu enam bulan investasi Fenox, perusahaan media sosial Socialize diakuisisi oleh ShareThis. Schematic Labs, investasi awal Fenox lainnya, diakuisisi oleh Rhapsody, layanan musik online ketiga terbesar di dunia. Silicon Valley sebagai titik mula memberikan Fenox platform yang kuat tentang bagaimana menumbuhkan dan mempelajari spekulasi investasi dengan cara yang efisien.


Beberapa bulan setelah mendirikan Fenox Venture Capital di Silicon Valley, Anis ingin mulai mengeksplorasi kesempatan startup di pasar Asia Tenggara. Karena ia telah mendapatkan gelar sarjananya di bidang teknik di Institut Teknologi Tokyo, ia ingin menggunakan Jepang sebagai batu pijakan memasuki ekosistem startup Asia. Pemahamannya yang mendalam akan lingkungan startup Jepang memberinya awalan yang lebih maju di wilayah ini. Hasilnya, ia berinvestasi pada startup Jepang pertamanya, DLE (Dream Link Entertainment), pada awal 2012. Pada saat ia berinvestasi, DLE adalah perusahaan flash animation terbesar di Jepang dan Asia yang menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$10 juta. DLE sukses exit melalui IPO di Bursa Saham Tokyo pada 26 Maret 2014. Partisipasi Fenox sebagai investor meningkatkan penaksiran IPO mereka. Investasi Jepang pertama menghasilkan IPO yang cepat dan keuntungan investasi yang besar. Yang paling penting, Fenox membantu DLE meluncurkan operasi di Silicon Valley dan membantu mereka dengan akuisisi konsumen di AS.


Setelah kesuksesan pertama Fenox di Jepang, Anis berinvestasi di enam startup Jepang lain. Startup itu kebanyakan bersiap untuk IPO beberapa tahun lagi. Investasinya di Jepang yang paling baru adalah Terra Motors, salah satu pembuat kendaraan listrik (sepeda dan sepeda roda tiga) di dunia. Terra Motors sudah menjalankan bisnis di Jepang, Vietnam, Filipina, India, dan Banglades. Startup Jepang yang bekerja sama dengan Fenox tidak hanya menginginkan pendanaan, tetapi juga saran dan petunjuk untuk membantu mereka tumbuh sebagai perusahaan global. Perusahaan-perusahaan itu mengembangkan bisnis global dengan menggunakan dana Fenox dan pengaruh kerja sama asing untuk mendapatkan pijakan di pasar baru. Di banyak kasus, anggota eksekutif Fenox Venture Capital ditunjuk sebagai dewan direksi dari perusahaan investasi. Keahlian tim Fenox membantu mereka tumbuh ke seluruh dunia, melalui proses selangkah demi selangkah.


Saat ini, Anis berperan sebagai dewan direksi untuk banyak perusahaan BUMN dan swasta (misalnya startup) di seluruh dunia. Sebagai seorang anggota dewan direksi, penasihat atau mentor, tugasnya adalah membantu perusahaan sukses di semua tahap pertumbuhan. Contohnya, ia menjadi anggota dewan direksi di Tech In Asia, tempat ia memberikan saran dan membimbing tim manajemen dalam strategi bisnis sehari-hari. Anis telah membantu mereka melakukan ekspansi ke wilayah baru tempat Fenox memiliki akses kepada jejaring orang-orang terbaik.

Read more
Collapse
4.4
225 total
Loading…

Additional Information

Publisher
Bentang Pustaka
Read more
Collapse
Published on
May 4, 2015
Read more
Collapse
Pages
245
Read more
Collapse
ISBN
9786022910923
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Language
Indonesian
Read more
Collapse
Genres
Business & Economics / E-Commerce / General
Business & Economics / General
Read more
Collapse
Content protection
This content is DRM protected.
Read more
Collapse
Read aloud
Available on Android devices
Read more
Collapse

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
©2021 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.