Ebooks

Do I lose your respect after I love you back?


Setelah penasaran selama 27 tahun, karena dulu pernah ditolak lamarannya, akhirnya Raho punya kesempatan bersama Mayana, Perempuan yang menjanda setelah ditinggal mati suami yang dulu dijodohkan dengannya.

May tak menyangka kalau akhirnya akan jatuh hati pada Raho. Lelaki yang dulu tidak dianggap itu, kini akhirnya cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan. Raho yang sejak lama ingin mempersunting May, berjanji akan mencari jalan agar mereka bisa bersatu.

Tapi situasi tidak memungkinkan penyatuan mereka berjalan dengan mudah. Karena istri Raho pasti sulit memberi ijin, demikian pula keluarga May. Apalagi mertua Raho adalah seorang pensiunan tentara. Mereka tetap berusaha sampai akhirnya kabar kehamilan istri Raho membuat konstelasi semesta berubah. Niat dan tekad kuat itu perlahan-lahan surut.

Mereka masih putus sambung dan jatuh bangun dalam menjalin hubungan setelahnya. May berusaha sibuk agar bisa melupakan Raho, dengan mengembangkan bisnis baru di bidang pelatihan bahasa dan juga desain fashion dan craft.

Tapi justru jalan hidup mengarahkannya berhubungan dengan keluarga Raho yang tinggal di kota yang sama dengan May. Berkolaborasi untuk proyek yang justru melibatkan profesi orang tua Raho yang dua puluh tujuh tahun lalu dipandang sebelah mata dan diremehkan keluarga May.

Di lain pihak, May tahu-tahu berada dalam proyek lain juga yang mengharuskannya berhubungan dengan orang-orang yang satu institusi dengan istri Raho.

Seolah May tidak diperkenankan begitu saja pergi dari kehidupan Raho yang selama ini memujanya. Tapi belakangan hari juga melukai hatinya. Paradoks antara keberanian dan kepengecutan. Membuat May berada dalam gelombang paradoks antara mencintai dan membenci lelaki itu.

Apakah akhirnya takdir akan berpihak pada Raho dan May setelah sekian lama mempermainkan mereka.

Hikari seorang mahasiswi arsitektur magang di sebuah perusahaan konsultan arsitektur. Sebelum magang, dia mendengar dari sahabat/teman dekat lelakinya (Tomoki/ yang seksi) tentang seorang lelaki di sana (Yasunori/yang nyeni). Seorang mahasiswa yang magang di tempat yang sama, dengan segala cerita kecerdasan dan kehebatannya. Di tempat magangnya itu Hikari akhirnya bertemu Yasunori. Tak ayal lagi, berbekal simpati yang telah tertanam terlebih dahulu akan Yasunori, akhirnya Hikari jatuh hati padanya. Gayung bersambut. Mereka menjadi dekat, meski tanpa ada ikatan pasti.

Seperti juga hubungan Hikari dengan Tomoki pada saat itu. Meski ternyata Hikari yang semula merasa dia di atas angin karena membuat Tomoki tertarik padanya, harus dirinya yang menelan kecewa. Ternyata Tomoki sudah punya kekasih. Karena ketertarikannya pada Hikari datang saat dia sudah punya janji bersama dan setia dengan kekasihnya itu.

Kedekatan mereka (Hikari dan Yasunori) membukakan banyak cerita. Termasuk cerita Yasunori akan teman lelakinya (Kimura/ yang bossy tapi baik hati) yang telah Yasunori kenal duluan sebelumnya di sebuah komunitas. Cerita Yasunori tentang kehebatan Kimura, membawa Hikari tertarik pada Kimura dan ingin mengenalnya lebih dekat.

Kebetulan kemudian mereka (Hikari dan Kimura) sama – sama berada dalam sebuah perkemahan. Yang masih merupakan rangkaian dari kegiatan dan tugas magang itu. Kimura datang dari sektor lain

Saat semuanya menjadi dekat dengannya, Hikari sendiri kemudian yang kebingungan bagaimana dengan hatinya. Mana yang sebenarnya dia pilih.

Apalagi mengingat sebenarnya Yasunori maupun Kimura ternyata sebenarnya masing–masing punya idaman lain. Tetapi mereka juga sayang jika harus melepaskan Hikari. Mereka diam–diam juga bersaing untuk lebih mendapatkan perhatian Hikari.

Hikari memang teman dekat yang asyik dan nyaman. Hikari merasa harus menentukan pilihan di antara dua ini ditambah dengan ketakutan dan kekuatiran bahwa setelah dia menentukan pilihan, belum tentu juga dia dipilih. Atau jika pun dia nekat nembak, belum tentu diterima

Kisah perjuangan seorang kepala sekolah yang harus memperbaiki budaya lama yang buruk di tempat barunya. Terinspirasi kisah nyata saat ikut Kelas Inspirasi.Khayati dipindah ke SD Kusuma Bhakti. Dia sempat susah mencari lokasi Kusuma Bhakti (KB), sehingga semakin merasa kesal dan merana. Lebih terkejut lagi dengan kondisi KB. Karena kondisi fisik lokasi serta bangunan yang menyedihkan dan kondisi non fisiknya yang juga mencemaskan.

Ada anak-anak yang sampai membawa parang saat berkelahi dengan sebaya. Ada orang tua yang membawa pulang anaknya begitu saja tanpa permisi, padahal di tengah-tengah pelajaran. Belum lagi keadaan masyarakat sekitar yang memang berada di daerah minim, ekonomi rendah dan kurang pendidikan, bahkan sarang preman. Beda sekali dengan SD-nya terdahulu, yang ada di tengah kota, dengan murid serta wali berasal dari golongan berada dan berkecukupan, sopan serta cerdas-cerdas.

Khayati mencari tahu sebab dan akar dari semua permasalahan tersebut. Setelah dengan segala upayanya, syukurlah ada perubahan dan perbaikan dalam hal perilaku anak-anak maupun orang tuanya. Namun ketika hendak berbangga dengan pencapaian ini, Khayati justru dapat cemoohan dari para pihak lain yang datang karena pengawasan silang ebtanas, KB dianggap kandang kambing karena kondisi fisiknya yang mengenaskan.

Khayati mencari cara bagaimana agar fisik bisa diperbaharui. Kemampuan orang tua murid tidak ada, tidak ada pendonor. Namun dia terus berusaha. 

Kabar baik datang, ada bantuan dan bisa dicairkan. Dana untuk dua lokal ternyata bisa dimungkinkan untuk empat lokal. Khayati tergoda korupsi.

Bagaimanakah kelanjutan kisah Khayati ini?

Raho, cowok tinggi-tampan-berkulit putih-berkaca mata-cerdas dan santun, bekerja di tambang minyak Kalimantan, mulai mapan. Dia mengagumi dan mendamba Aned sejak duduk di bangku SMP. Aned, cewek mungil-cantik-cerdas-hangat-ramah, lulusan arsitektur yang juga player. Suka gonta ganti cowok.

Raho ingin mendapatkan dan menjadikan Aned sebagai pendamping hidupnya. Tapi Aned  ingin jika menikah harus dengan cinta. Raho sebenarnya masuk criteria sebagai cowok idaman, tapi sayang Aned tidak pernah bisa mencintainya meski berusaha. 

Dulu saat Raho naksir Aned dari sejak duduk di bangku SMP, SMA, Aned cuek. Raho minder karena dari keluarga sederhana sedangkan Aned dari keluarga kaya dan banyak penggemar.

Ketika Raho mulai kerja mapan dan makin percaya diri, dia menghubungi Aned lagi. Raho terus menunggu meski  Aned selalu ragu-ragu dan bilang tak bisa mencintainya.  

Raho yang melihat dan mendengar Aned jalan dengan cowok lain, tetap bergeming. Namun meski Raho sudah banyak berbuat baik, Aned tak kunjung mencintainya. Aned .meski gonta ganti cowok, tak ketemu jodoh karena pacar-pacarnya belum mapan semua. Raho mapan, tapi Aned tak pernah bisa mencintai Raho meski berusaha.

Raho tetap mau datang dan usaha lagi. Namun pas datang malah diminta Aned untuk mengirimkan undangan pernikahan. Aned ternyata mengikuti kehendak ibunya yang menjodohkannya dengan cowok lain. 

Raho akhirnya ketemu cewek lain yang mengejarnya dan janji membahagiakannya. Akhirnya Raho menikah dengan cewek itu meski tak sepenuhnya bisa melupakan Aned. Masih penasaran.

 Beberapa tahun kemudian mereka ketemu lagi. Ada kesempatan kedua, karena suami Aned meninggal dunia. Raho menawarinya untuk menjadi istri kedua. Aned mencoba mencari tahu, siapa tahu ada sesuatu yang bisa menjadikannya berubah pikiran. 

 

Just love me, and I'll break your heart.

Keep my promise :D

(Mayana)

Rasya dan Aida, pasangan muda idealis ini, lama kelamaan kerasan juga tinggal di pojok Indonesia. Di bagian paling ujung barat kepulauan Nusantara. Meski jauh dari keluarga di Jawa, tapi toh semuanya masih bisa saling berkomunikasi. Era digital dengan skype sedikit banyak menambah jalur silaturahmi setelah telpon, email dan fesbuk. Ida yang sebenarnya punya kesempatan untuk mendapat beasiswa kuliah S2, terpaksa melepaskan peluang bagus itu. Demi bisa mengikuti ke mana pun Rasya ditugaskan sebagai hakim pengadilan negeri. Sehingga Ida yang sebenarnya sangat cemerlang, harus terima hanya menjadi pegawai biasa. Yang penting bisa satu kota dan satu kantor dengan suaminya yang sangat dia cintai dan hormati.

 Berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain yang masih sama-sama di Sumatra dilakoni sebagai sebuah konsekuensi. Menjadi abdi Negara berarti siap ditempatkan dan dipindahkan ke mana saja. Meskipun harus lelah dan capek karena musti memboyong istri dan anak-anak. Bahkan si sulung, Tania yang sudah berpindah-pindah dari sejak bayi sampai kelas dua sekolah dasar ini, menikmatinya sebagai sebuah petualangan. Juga kesempatan melihat berbagai tempat di Indonesia dan bertemu banyak teman dari berbagai suku dan daerah.

Hanya saja beban yang tadinya tidak begitu dirasakan, alias berusaha diabaikan, ternyata makin tambah terasa. Terutama saat Ida melahirkan anak yang ketiga. Tempat tinggal mereka yang tak bisa disebut sebagai rumah karena lebih mirip barak bagi tentara, terasa makin sempit dan tak nyaman. Sementara perkara-perkara yang ditangani di pengadilan semakin berat. Tidak saja butuh keadaan tubuh yang fit dan sehat lahir batin, tapi juga kemampuan pengetahuan yang lebih. Tapi bagaimana mau kuliah lagi, sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah kembang kempis. Biaya kehidupan semakin tinggi. Dan godaan-godaan semakin banyak.

 Berapa orang yang terpaksa Rasya tolak karena berusaha menyuap. Berapa orang yang Rasya pulangkan karena berusaha membujuk. Rasya dan Ida semakin merasa tidak nyaman saat ada beberapa orang yang menelpon dan mengancam keamanan keluarga mereka. Tak jelas siapa dan pada kasus apa orang tersebut tersangkut kaitannya dengan pengadilan tempat Rasya bekerja.

Dalam keadaan tinggal dalam lingkungan tanpa jarring pengamanan seperti ini, segala sesuatu bisa terjadi. Dia mengupayakan tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman. Tapi kendalanya adalah biaya. Sedangkan tunjangan yang dijanjikan oleh pemerintah bagi mereka tak juga kunjung turun. Bahkan kesannya alot dan berlarut-larut pelaksanaannya. Berbulan-bulan uang tunjangan bagi para hakim itu entah di mana nyangkutnya. Sulit terlacak.

Keresahan Rasya ternyata juga dirasakan teman-teman seprofesi. Para hakim muda yang terhubung berkat fesbuk dan mail list ini pun makin sering berdiskusi. Berbagai curhat juga wacana dari seluruh pelosok negeri menggelitik Rasya. Maklumlah, dia yang seorang ketua BEM alias Badan Eksekutif Mahasiswa semasa masih kuliah, memang memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi.

Berulang kali memimpin organisasi sejak masa sekolah dan mengerakkan banyak rekan serta melobby banyak pihak. Tercetuslah ide untuk melakukan move. Sebuah gerakan untuk memperjuangkan nasib para hakim di seluruh Indonesia. Bukan saja agar tunjangan yang ngendon berbulan-bulan itu bisa turun, tetapi juga menuntut kenaikan gaji.

Dia membuat grup fesbuk yang beranggotakan para hakim di seluruh Indonesia. Kebanyakan pegiatnya adalah para hakim muda yang menamakan dirinya himpunan hakim muda progresif. Dengan slogan dan semboyan bersih dan jujur. Segera saja gerakan ini meluas dengan cepat. Banyak sekali dukungan yang berdatangan. Mengingat kegerahan ini sebenarnya sudah cukup lama ada. Tetapi belum ada yang berani menyuarakan dan memimpin serta mengarahkan.

Nama Rasya yang selama ini memang sudah punya banyak penggemar di fesbuk semakin dikenal luas. Bersama dengan yang lainnya, mereka mulai merumuskan seperti apa gerakannya. Kepada siapa suara ini akan ditujukan. Kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi dan banyak lagi lainnya. Kepada para pembuat kebijakan di pusat, Rasya dan teman-teman mengirimkan proposal dan maksud tujuan mereka.

Kini bukan saatnya mereka pasrah terus akan nasib yang makin tak jelas dan terkatung-katung. Ini bukan masalah uang atau materi. Ini adalah masalah kehormatan dan harga diri bangsa. Berbekal tekad inilah keberanian itu terhimpun dan semakin menguat. Mereka bergerak untuk sebuah tujuan mulia.

Mulailah Rasya serta beberapa teman, yang merupakan perwakilan dari ratusan hakim, diundang ke Jakarta untuk audiensi dengan para pengambil kebijakan. Biaya transportasi dan akomodasi pada mulanya ditanggung sendiri-sendiri. Seiring perjalanan perjuangan yang makin kompak dan massif, para hakim ini mengumpulkan dana untuk mendukung perjuangan. Mereka dengan sukarela mentransfer biaya ke rekening bersama, yang penggunaan dan pengelolaannya diumumkan secara terbuka. Dan siap diaudit dengan seksama oleh pihak independen.

Di sisi lain, para wartawan media cetak maupun televise mulai mencium juga gerakan ini. Mereka di satu sisi mengambil kesempatan karena mendapat bahan berita yang fresh, actual tapi juga controversial. Di sisi lain, mereka juga sedikit banyak membantu gerakan hakim muda progresif ini untuk menge-push atau mendorong segera sebuah pengambilan kebijakan yang ditunggu banyak orang. Mereka memperbincangkan lagi aksi Rasya dan teman-temannya. Juga serangkaian wawancara Rasya di radio dan televise akhir-akhir ini.

Arifah tak pernah mengira bahwa putra menantunya akan menjadi seperti sekarang ini, menjadi pemimpin para hakim yang menuntut hak dan kesejahteraan mereka. Malam-malamnya kini penuh dengan sujud panjang dan doa agar menantu dan anak serta cucunya diberi keselamatan. Bagaimanapun bayangan dan ingatan tentang perlakuan ‘para pejabat tinggi’ di masa orde baru terhadap ‘para demonstran’ dan ‘pemrotes kebijakan’ masih melekat dalam benaknya. Kadang-kadang ‘imbalan’nya bisa berupa tidak dinaikkannya pangkat, dibuang ke tempat-tempat yang jauh, dipecat, bahkan ada yang sampai harus kehilangan nyawa. Dia buru-buru menelpon menantunya yang sudah tiba di bandara dan siap ke Jakarta, lagi. Rasya menerima telpon ibunya dengan senyum terkembang. Dia tahu perhatian dan kecerewetan mertuanya ini adalah buah dari kasih sayang serta karena menganggap Rasya sebagai putranya sendiri.

Rasya blingsatan saat dia dikeroyok ibu mertua dan saudara-saudara iparnya. Dari Jakarta memang dia menyempatkan diri singgah di Jawa Tengah, di kediaman ibu mertua dan ibunya sendiri. Dia punya misi agar ibu mertuanya yang juga hakim, meskipun hakim pengadilan agama, juga menjadi corong bagi perjuangannya. Gegara Rasya membuat gerakan yang mengumpulkan para rekan hakimnya untuk menuntut hak mereka yang selama ini diabaikan, dia memang beberapa kali mendapat ancaman.

Tapi Rasya pantang mundur. Baginya kebenaran harus disuarakan. Dirinya dan banyak temannya yang menjadi hakim bertahun-tahun harus terima menjadi pegawai tanpa fasilitas. Padahal tuntutannya besar dan banyak. Bagi keluarga hakim yang membutuhkan uang, suap bisa melenakan. Bagi keluarga hakim yang terancam keamanannya, hanya kompromi yang memungkinkan. Pemerintah sekian lama abai akan hal ini. Dan bukannya fasilitas pengamanan, rumah dinas, beasiswa pendidikan lebih lanjut ataupun tunjangan lainnya, bahkan uang kesejahteraan yang sudah dijanjikan tak kunjung turun. Padahal itu asli hak para hakim. Rasya dan teman-temannya membuat gerakan ini. Dalam rangka move, baik lewat dunia maya maupun pertemuan dan diskusi langsung dengan para pengambil kebijakan terkait.

Justru dari dalam korps kehakiman sendiri, ada juga segelintir orang yang hendak menggembosi dan menggagalkan perjuangan yang dipimpin Rasya. Padahal Rasya tidak berjuang untuk dirinya sendiri. Tapi untuk seluruh hakim di Indonesia. Dan padahal jika usulannya ini diterima, yang mendapat tambahan banyak tunjangan bukannya dia dan teman-teman yang terhitung masih hakim muda, tetapi justru yang senior sesuai tingkat kepangkatannya akan mendapat lebih banyak.

Namun begitulah, di manapun berada seorang pahlawanpun memiliki haters alias pembenci. Tapi Rasya terus berjalan. Dia melalui berbagai jalan untuk menempuh dan mencapai tujuan mulia ini. Demi makin tegaknya hokum di Indonesia. Bahkan wajahnya wara wiri di berbagai televise nasional karena seluruh Indonesia menyorot hal ini. Bolak balik Sumatra Jakarta untuk audiensi dengan para pejabat dan petinggi, dicecar berbagai pertanyaan bahkan tudingan.

Namun sekali layar dibentangkan, dia tak akan surut. Tak berhenti pada berbagai ujian dari teman sendiri dan para penyusup. Tetapi juga kekerashatian para pengambil kebijakan. Alasannya ada-ada saja. dari alasan teknis, birokrasi sampai dengan psikologis dan masih banyak lagi. Yang paling menyesakkan adalah semakin hari, semakin mendekati hari H yang ditetapkan sebagai deadline, ternyata tak kunjung ada kepastian. Semua orang merasa ketar-ketir. Kepalanya juga sama peningnya. Nama baiknya dipertaruhkan. Sebagian haters dan juga perusuh sudah terus-terusan menyerang.


Apakah hakim muda ini berhasil memperjuangkan kebenaran dan keadilan?

Nadira geram. Dia sudah mengorbankan diri dan karirnya di masa lalu untuk bisa menuruti kemauan ibunya. Kembali ke kota kecil mereka usai kematian suaminya. Tetapi ibunya sekarang malah mengatakan kalau Nadira waktu itu dipulangkan oleh keluarga mertuanya.

Konflik yang menguras jiwanya itu membawanya mengingat kembali, flash back, bagaimana kehidupan membawanya dari seseorang yang meski berasal dari golongan santri, kemudian menjadi ibu nyai muda, lalu kembali tidak menjadi ibu nyai lagi.

Saat suaminya meninggal, dia masih menjadi ibu nyai muda selagi tinggal di rumah mertuanya. Tetapi begitu ditarik ibunya ke kota kecilnya, dan dia melakukannya meski dengan sangat berat hati, otomatis status ibu nyai itu tidak lagi miliknya.

Nadira meninggalkan banyak hal di kota almarhum suaminya. Kembali ke ko kota kecilya, seolah Nadira kembali ke titik Nadir. Tapi Tuhan yang maha baik pada yatim yang menjadi beban hidupnya kini, memberinya jalan keluar. 

Hanya saja jalan ini bukan umumnya jalan karir dan kehidupan yang ditempuh para pendahulunya dalam keluarga besar. Sehingga seringkali Nadira merasa di tempat yang salah. Merasa tidak tepat. Dia pernah terengah–engah, bangun dari mimpi. Yang baginya sepertinya buruk tetapi juga berhikmah. Yang menggambarkan bagaimana kehidupannya saat ini. Ketika dia menyeberang dari seseorang yang dianggap punya status mulia yaitu ibu nyai. Menjadi seorang seniman dan penulis, yang notabene dipandang sebelah mata oleh keluarganya yang ketat darah santrinya. Seniman dianggap menyimpang dan semacamnya. 

Sekarang boleh jadi dia menyesal karena tidak lagi menjadi bu nyai. Tapi apakah menjadi sastrawan tidak bisa mulia? Dari Manakah Mulia Bermula

Rahardian pergi dari rumah awal Juli itu. Setelah tiga hari tidak ada kabarnya, keluarga lapor ke polisi. Pencarian dilakukan. Sang paman mengirim sms ke nomer Rahardian, dan dibalas dengan bahasa yang bukan bahasa Rahardian. Zain, mantan rekanan yang sempat bersitegang dengan Rahardian dicurigai.

Sang sopir yang ditinggal Rahardian di alun-alun Magelang waktu itu mengantar sang paman-Dafa- dan Icang-adik Rahardian- ke tempat Jumedi. Karena dialah orang yang terakhir dihubungi Rahardian malam itu. Jumedi mengaku tidak kenal Rahardian. Tapi dia tetap diawasi oleh polisi dari kejauhan sampai berhari-hari.

Icang yang nekat kembali ke rumah itu, menemukan sepatu Rahardian berada di bawah amben ruang belakang rumah Jumedi. Jumedi ditangkap. Dia mengaku bahwa Rahardian sudah terbunuh.

Polisi minta Jumedi menunjukkan kuburnya. Agar tidak kabur, Komandan Polisi Yahya mengikatkan tangannya ke tangan Jumedi. Tak dinyana, Jumedi meloncat ke jurang. Yahya pun terseret dan ikut jatuh ke jurang sedalam hampir seratus meter. Jumedi tewas seketika, sedangkan Yahya menghembuskan nafas terakhir saat dibawa ke RS terdekat. Yahya dimakamkan hari itu juga, sedangkan Jumedi dimakamkan hari ini setelah jasadnya diautopsi.

Sekitar rumah Jumedi disisir. Tidak diketemukan apapun. Ayah Zain melalui Silo-sahabat Rahardian- memberi petunjuk dengan kemampuan supranaturalnya. Kemungkinan kuburnya ada di bawah pohon pisang. Kebun Jumedi disisir, mayat Rahardian diketemukan. Berikut dua mayat lainnya.

Mayat Rahardian dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara untuk divisum. Tapi keluarga menolak autopsy atasnya. Rahardian dimakamkan. (Kemudian baru diketahui dua mayat lain yang diautopsi, ketahuan kalau mereka mungkin dikubur hidup-hidup karena ditemukan ada serpihan tanah tersedot masuk ke dalam saluran pernapasan mereka)

Siapakah komplotan di balik pembunuhan Rahardian?  

©2020 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.