Ebooks

Meski terus menerus dilukakan, jangan pernah ada dendam

Majid artinya mulia, kemuliaan. Tapi apakah Majid ini merasakannya dalam kehidupan? Ibunya (Fadila) meninggal ketika ia berusia empat bulan. Ayahnya (Haris) yang banyak mendapat cibiran dari neneknya dari sang ibu (Mahmudah), pergi meninggalkannya dan menikah lagi.

Majid nampak pendiam sekali. Tapi apa tidak malah membahayakan yang diam seperti itu? Tak ada sinar di matanya, apalagi ceria. Apa yang dipendamnya, semua orang mungkin tahu. Kegelisahan, kekosongan, perasaan hampa. Tapi apakah dia bicarakan hal ini dengan seseorang untuk melepaskan beban jiwanya?

Apakah ia cerita juga tentang harapannya akan sang ayah yang bertahun-tahun mengabaikannya setelah tak berhasil menculik Majid kecil. Berkali-kali sang ayah pernah mencoba mengambil kembali anaknya ini, namun berkali-kali digagalkan oleh keluarga sang nenek.

Sang ayah yang putus asa. Nenek yang protektif. Majid merasa di antara dua dinding tinggi yang saling berhadapan, dan dia terjepit. Tak sanggup bernafas, tak sanggup berkata apa-apa. Majid yang malang.

Majid terlunta-lunta, pindah dari satu tangan ke tangan yang lain sejak kematian sang nenek. Dari budhe satu ke budhe yang lain. Dari satu pondok ke pondok yang lain. Akhirnya ke budhe Imah, ia mulai berada dalam asuhan yang mulai mapan dan tidak lagi nomaden.

Sayangnya, budhe Imah juga meninggal di usia yang masih muda. Hubungan budhe Imah dengan suaminya sebenarnya mengkhawatirkan banyak pihak. Budhe Imah terlalu mendominasi semasa hidupnya, sehingga suaminya, Bowo, hampir tak berkutik. Setelah bu Imah meninggal, mungkinkah Majid masih akan dalam pengasuhan di rumah itu.

Bagaimanakah nasibnya kemudian?

Bagaimana dia menghadapi semua ini?


Zulkifli dan Zara tadinya bersahabat di dunia maya. Zara menerima persahabatan dengan senang hati karena Zulkifli mirip Wiwit (Wit), cowok yang dulu sempat memikat hati Zara tetapi ternyata sudah memiliki kekasih. Namun ketika Zulkifli dan Zara semakin dekat, sebuah even bedah buku mempertemukan Zara dengan Zenal, dosen Zulkifli di kampus. Mengetahui ada even ini, Zulkifli datang dan mengamati Zara dari kejauhan.

Namun setelah membaca gelagat bahwa Zenal yang seorang duda beranak satu, menaruh hati juga pada Zara, Zulkifli mundur. Dia sengaja memasang status in an open relationship di fesbuknya demi menjaga jarak. Namun Zara tidak peduli masalah ini. Yang menjadi concern dan perhatiannya adalah mendirikan komunitas pembelajar seperti Rumah Dunia dan Qoryah Toyyibah. Dia butuh banyak pendukung, Zulkifli dan Zenal merupakan dua pilar utama yang diandalkannya. Zulkifli tidak menolak ajakan Zara. Di samping dirinya juga minat bergiat dalam kancah yang sama, tetapi juga yang sebenarnya rasa suka terhadap Zara belum pernah pergi.

Di sinilah terjadi intrik–intrik. Perebutan atas perhatian Zara oleh Zulkifli dan Zenal. Dalam berbagai kegiatan komunitas, baik dalam skala intern atau ekstern. Termasuk kemelut diri Zenal yang bagaimanapun masih terus dibayangi oleh mantan istri yang dulu meggugat cerai kepadanya.

Zulkifli sendiri semakin kesulitan dalam menyelesaikan studinya yang sekarang sampai pada semester sebelas. Zara pun terus menerus berusaha menunjukkan kepada ibunya yang seringkali perhitungan dan materialistis, bahwa bekerja untuk akhirat, untuk Tuhan, untuk kemanusiaan dan untuk peradaban, pastilah ada perhitungan khusus yang tidak selalu bisa ditampakkan secara fisik. Tentang hubungan dan kebimbangannya dalam memilih di antara dua pria ini, Zulkifli dan Zenal, Zara berusaha melihat penerimaaan kedua anaknya. Karena untuk merekalah seorang ayah ini akan dipersembahkan, demikian tekadnya.

Kecemburuan demi kecemburuan membakar Zaki dan Zenal bergantian. Hawa persaingan semakin tinggi karena melibatkan kedua anak kecil Zara yang aktif dan kritis.

Bagaimana kelanjutan kisah ini?

Selamat membaca!


Di hari wisudanya, hubungan Faiq dengan Silvi akhirnya terbongkar. Sang ibu merasa kecewa karena dia menginginkan anak sulungnya akan menikah dengan seorang perempuan yang mempunyai trah pesantren juga. Keinginan Faiq untuk terus tinggal dan bekerja di Jakarta juga ditentang ibunya karena dia ingin Faiq kembali ke kota kecil mereka. Menemani ibunya yang seorang janda dengan lima orang anak.

Faiq memang dikirim ke Jakarta (UIN) untuk kuliah. Di Jakarta inilah dia menyesuaikan diri dengan kehidupan anak muda Jakarta. Karena tidak ada kiriman uang dari ibunya, dia juga struggle berjuang untuk bisa hidup di Jakarta dan membiayai kuliahnya sendiri.

Pengaruh ibukota membentuknya sehingga ia menentukan jalan hidup yang berbeda dengan apa yang sudah dipilihkan oleh orang tuanya. Termasuk soal cinta. Semuanya membentuk dirinya menjadi pribadi yang baru, dinamis, progressif dan beda. Dia nyaman dengan ini sampai akhirnya kenyataan bahwa ia pewaris dari tradisi pesantren mengundangnya 'pulang' kembali.

Setelah melalui perdebatan alot dan pertentangan dilema  yang tak mudah, akhirnya Faiq mengalah dan kembali ke kota kecilnya. Membuka kafe berlayanan internet karena hanya bisnis itulah yang dikuasainya. Sementara mengajar sekolah swasta yang juga dilakoninya jelas– jelas bergaji sangat kecil. Usaha kafe berlayanan internetnya ditentang habis–habisan oleh keluarga besar. Sang ibu berada dalam situasi terjepit antara membela anak sulungnya dan hujatan keluarga.


Bagaimana kelanjutan kisah Faiq?

©2021 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.