Ebooks

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

Surga Perkawinan

SURGA dan perkawinan merupakan dua kata yang membahagiakan. Surga yang seluas langit dan bumi itu akan diwariskan kepada orang-orang yang bertakwa, beriman dan beramal kebaikan. Untuk itu, menghadirkan surga dalam perkawinan tentu bukan merupakan suatu cita-cita yang berlebihan. Pasalnya, perkawinan itu sendiri merupakan amal kebaikan, karena didalamnya bernilai ibadah kepada Allah SWT.

Dengan kata lain, surga itu merupakan negeri impian bagi orang-orang beriman. Keberadaan surga telah melahirkan motivasi bagi manusia untuk mencapai keindahan, kedamaian dan keagungan yang sejati. Kehadirannya membuat kehidupan manusia lebih bergairah. Untuk itu, mari hadirkan nuansa surgawi ini dalam membangun ikatan perkawinan.

Menghadirkan surga perkawinan berarti tiap-tiap pasangan harus mampu untuk menciptakan kehidupan perkawinannya dengan balutan perilaku pernikahan yang diselimuti keindahan, kedamaian dan keagungan. Untuk mencapai kondisi ini, maka kita diharuskan untuk membangun budaya cinta kasih dalam kehidupan rumah tangga. Jadikanlah setiap hari ada cinta. Mengapa? Karena menurut Kahlil Gibran, “Hidup tanpa cinta bagaikan sebatang pohon yang kokoh berdiri namun dahannya kering, tanpa dihiasi buah ataupun bunga.”

Menghadirkan atmosfir surga perkawinan dalam rumah tangga ini merupakan tugas dari tiap-tiap pasangan perkawinan. Dalam bahasa lain, kondisi keindahan, kedamaian dan kenyamanan dalam keluarga ini hanya dapat dibangun secara bersama-sama. Yaitu melalui proses panjang untuk saling menemukan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sehingga diharapkan tiap anggota keluarga akan menemukan ruang kehidupan yang mungkin sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Itulah sebabnya, mengapa dalam membangun ikatan keluarga itu pada dasarnya adalah proses pembelajaran untuk menemukan formula yang lebih tepat bagi kedua belah pihak, baik suami dengan istri, maupun anak-anak dan orang tua.

“Kebahagiaan Anda tumbuh berkembang manakala Anda membantu orang lain. Namun, bilamana Anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman, harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi.” (J. Donald Walters).

DAPAT dipastikan setiap kita mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. Termasuk ibadah di bulan Ramadan yang kita lakukan ini, tentu semata-mata untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Sehingga pantas bila Syaikh Syarbashi pernah berkata, “Semua manusia yang hidup di dunia ini berlomba-lomba mencari kebahagiaan dan ingin bisa meraihnya walaupun dengan harga yang tinggi.” Demikian pun dengan pasangan suami-istri akan selalu berusaha mempertahankan nikmat kebahagiaan seperti yang pernah dirasakan pada awal-awal pernikahannya.

Mengapa spirit kebahagiaan ini harus terus kita tanamkan sejak awal pernikahan? Karena ada orang yang berpendapat kebahagiaan dalam ikatan rumah tangga itu hanya akan berlangsung seumur jagung. Bagian lain beranggapan, keindahan dan kebahagiaan cinta pernikahan tersebut hanya dirasakan pada saat-saat awal, pertengahannya adalah membosankan dan selanjutnya menyakitkan. Apakah betul demikian?

Ya, pada sebagian orang keadaan seperti itu, mungkin memang benar adanya. Bagi golongan ini, kebahagiaan rumah tangga yang awet dan tahan lama, kelihatannya benar-benar susah direalisasikannya. Namun, tentu berbeda bagi orang-orang yang orentasi cintanya benar-benar telah terpelihara dengan baik dalam hidup keseharian pernikahannya. Yakni, dialah orang-orang yang punya visi kalau kebahagiaan itu harus dinikmati secara bersama-sama dan bukan hanya untuk diri sendiri. Hal ini, sejalan dengan apa yang dikatakan F. Emerson Andrews, “Kebahagiaan, sebagaimana dikatakan sangat jarang dimiliki oleh orang yang mencarinya atau orang yang mencari kebahagiaan untuk diri mereka sendiri.”

Lalu, bagaimana agar kebahagiaan itu selalu ada dalam gengaman rumah tangga kita? Inilah tugas berat dalam membangun rumah tangga. Walau demikian, bukan berarti kita tidak bisa meraihnya. Sebab, sejatinya kebahagiaan dan ketidakbahagiaan manusia itu tergantung pada diri sendiri. Andy Stevenio, mengungkapkan kalau kebahagiaan itu tidak terletak pada apa yang kita makan, apa yang kita pakai dan berada di mana, tetapi kebahagiaan ada pada pikiran kita.

CREATIVE WRITING berasal dari dua kata, yaitu writing (menulis) dan creative (kreatif). Menulis kreatif ini merupakan ketrampilan hidup, bukan bakat sehingga siapa pun dapat dilatih menulis.

Menulis ini juga ada yang menyebutkan terkait dengan ketrampilan seseorang dalam mengolah kata-kata menjadi tulisan (wacana) yang memiliki daya pikat untuk dibaca. Jadi, bagi dosen menulis ini tentu menjadi kewajiban dalam menunjang profesionalisme sebagai profesi dosen.

Sementara itu, kreatif diartikan sebagai orang yang memiliki daya cipta dan kreativitas. Menulis kreatif ini umumnya adalah terkait dengan dunia karang mengarang. Namun demikian, bagi seorang dosen pun harus mempunyai kreativitas dalam menyusun dan menghasilkan tulisannya.

Sebenarnya, mengapa kita (termasuk dosen) harus menulis? Sebab, kita harus sadar bahwa manusia itu punya keterbatasan dan tempatnya lupa. Untuk itu, kita perlu merawat dan mengikat ilmu dengan menuliskannya. Apalagi, sebagai profesi dosen itu memiliki kewajiban untuk selalu menulis sebagai aktivitas hariannya agar dikatakan sebagai dosen profesional.

Terkait profesi dosen ini, ada tiga kata yang saling terkait yaitu: mengajar, membaca, dan menulis. Mengajar itu merupakan aktivitas untuk menguatkan ilmu. Semakin kita terus mengajarkan ilmu, maka ilmu yang kita ajarkan itu semakin kuat dalam ingatan seorang dosen.

Sementara itu, aktivitas membaca akan berdampak pada meluaskan ilmu. Dengan kata lain, semakin kita terus membaca, maka ilmu dan pengetahuan kita sebagai dosen akan semakin luas wawasannya. Sedangkan, aktivitas menulis itu akan menaikan derajat kefasihan ilmu. Yakni lewat menulis membuat keilmuaan dan kepakaran ilmu yang kita miliki menjadi diakui oleh masyarakat.

Dalam ebook ini, dibahas dan diuraikan terkait dunia menulis kreatif (creative writing) dan writer preneurship (wirausaha yang bergerak di bidang tulis menulis).   

  Mengikat Cinta dan Kasih Sayang

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, berarti imannya telah sempurna.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

ISLAM tidak melarang cinta kasih. Justru, Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta pada sesama. Dalam Islam, cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, suci dan sakral. Islam sama sekali tidak alergi terhadap cinta. Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia.

Secara psikologis, cinta merupakan emosi yang penting dalam kehidupan manusia. Cinta adalah faktor utama dalam membentuk keluarga dan mengikat individu-individu anggotanya agar saling membantu. Dalam dunia anak-anak, cinta ini mempunyai peranan sangat penting dalam membentuk kepribadian seorang anak.

Menurut Dr. Muhammad ‘Utsman N, secara umum cinta merupakan faktor penting dalam membentuk hubungan sosial yang harmonis di antara manusia. Cinta mengikat seseorang dengan keluarganya, masyarakatnya, dan tanah airnya. Cinta pula yang mendorongnya untuk mengorbankan harta dan jiwanya untuk membela keluarga, masyarakat, dan tanah airnya.

Akhirnya, tidaklah berlebihan kalau dalam kaca mata Islam, disebutkan bahwa mencinta dan dicinta itu adalah “risalah” suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada tiap pemeluknya. Makanya Islam menghalalkan perkawinan dan bahkan pada tingkat mewajibkan bagi mereka yang mampu. Islam tidak menganut “selibasi” yang mengebiri fitrah manusia. Sebab memang tidak ada rahbaniyah dalam Islam.

Untuk itu, ikatlah secara benar makna cinta dan kasih sayang ini dalam kehidupan maupun gaya hidup setiap manusia, termasuk dalam kehidupan membangun rumah tangga. Dan bukan malah sebaliknya, kita justru terbawa dan meniru gaya cinta dan kasih sayang yang kamuflase lagi menyesatkan.

Berbicara manajemen proyek, tentu kita tidak akan terlepas dari ilmu manajemen secara umum. Konsep manajemen dalam pandangan Stoner, Freeman, dan Gilbert,Jr. diartikan sebagai proses merencanakan, mengorganisasian, memimpin, dan mengendalikan pekerjaan anggota organisasi. 

Dalam bahasa yang lebih detail, Robbins memaparkan konsep manajemen itu dengan menyebutnya sebagai suatu proses perencanaan yang mencakup penetapan tujuan, penegakan strategi, dan pengembangan rencana untuk mengkoordinasikan kegiatan; proses pengorganisasian yang mencakup penetapan tugas-tugas yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakan, bagaimana tugas-tugas itu dikelompokkan, siapa melapor kepada siapa, dan dimana keputusan harus diambil; proses pemimpinan yang mencakup hal memotivasi bawahan, mengarahkan orang lain, menyeleksi saluran-saluran komunikasi yang paling efektif, dan memecahkan konflik-konflik; dan proses pengendalian yang mencakup pemantauan kegiatan-kegiatan untuk memastikan kegiatan itu dicapai sesuai dengan yang direncanakan dan mengoreksi setiap penyimpangan yang berarti. 

Secara demikian, manajemen dan manajemen proyek ini adalah dua sebutan yang sebenarnya mempunyai prinsip dan fungsi manajemen yang sama. Keduanya memberikan arahan agar bertindak sistematis dalam mencapai apa yang telah direncanakan dengan tepat, efektif dan efisien. Adapun yang memberi ciri khas atau membedakan keduanya adalah bahwa manajemen itu berlaku umum dan diterapkan pada bidang kegiatan apapun yang memerlukan aplikasi manajemen. Meskipun sebuah proyek pada hakikatnya merupakan proses produksi, namun manajemen produksi yang biasa diterapkan pada suatu pabrik pembuatan barang tertentu tidak bisa diterapkan langsung sebagai manajemen proyek. Hal ini  adalah karena manajemen proyek adalah manajemen yang penerapannya lebih banyak menggunakan pendekatan sarana dan prasarana. Itulah yang merupakan karakteristik khas proyek sesuai dengan ’sifat dan ciri khas proyek’.  
"Sosok ibu tidak dapat terlepas dari dekap kemesraan yang senantiasa merengkuh kasih sayang. Dia akan selalu datang dari berbagai penjuru problematika anaknya, bersiap dan tegap melaksanakan jabatan yang multifungsi tanpa tuntutan bayaran yang harus diperhitungkan melalui hitungan matematika. Bila pun harus membayarnnya, maka kita tidak akan mampu untuk membalas dan membayar pengorbanan sang ibu." Buat kami, ibu adalah yang terbaik. Ibu yang luar biasa yang telah mengajarkan kami arti kesabaran, kekuatan cinta, dan apa artinya memiliki sebuah cita-cita. Sepanjang waktumu adalah guru untuk kami. Guru sepanjang hayat. Ibu adalah wanita terbaik yang Tuhan berikan untuk kami sebagai malaikat pelindung penjaga hidup kami. Ibu bagaikan malaikat kami di kala sedih karena engkau selalu ada untuk menghibur.
Kesederhanaan, kerja keras, pantang menyerah yang dibalut dengan rasa cinta dan kasih sayang merupakan beberapa hal yang selalu ditekankan dan diajarkan ibu kepada kami sehingga itulah yang bisa mengantarkan kami berdiri tegar saat ini dalam menghadapi dunia. Terimakasih atas pengorbananmu yang telah engkau berikan pada kami anak-anakmu. Terimakasih atas pelajaran hidup yang telah engkau tanamkan sejak kami kecil sampai saat ini.
Seorang ibu pun akan mampu mengurus anak-anaknya, walau sepuluh anak sekalipun atau bahkan lebih. Sosok tangguh Sang Ibu takkan ada yang bisa menggantikan posisinya. Buku “ANTOLOGI IBU: CINTA YANG TAK BERBATAS” ini merupakan cerminan karakter dan perjuangan seorang ibu dalam menegakan pemenuhan hak-hak hidup anaknya. Isi buku ini juga penuh inspirasi, motivasi, dan contoh dalam membalut kasih sayang terhadap anak-anaknya dengan baik.
Buku ini didedikasikan kepada para ibu dalam mendidik dan mendoakan anak-anaknya. Dan anak-anak untuk senantiasa mengingat dan berbakti jasa-jasa ibu. Dengan mengikuti hikmah dari buku ini, yakinlah bahwa segalanya dapat terjadi dengan izin Allah dengan cara-Nya yang misteri.
Buku ini ditulis oleh para penulis yang tergabung dalam group WhatsApp Easy Writing dengan gaya penulisan yang khas penulisnya dan diramu dengan susunan kata-kata nan indah untuk bisa diresapi dari tokoh sosok seorang ibu. Semoga buku ini bisa memberikan inspirasi kepada kita semua untuk menghormati sosok ibu sebagai ibu rumah tangga, yang telah melahirkan, membimbing, mendidik dan mengajarkan kita tentang arti hidup ini.
Ibu: sumber inspirasi cinta dan kasih sayang yang tak terbatas. Aku sayang ibu!
Keberadaan taman merupakan simbol dari sebuah rumah yang terpelihara atau tidak. Sebab, kalau kita terbiasa merawat taman, niscaya merawat rumah bukan pekerjaan yang sulit. Sehingga, perilaku merawat taman memang harus dilakukan secara telaten dan terus menerus. Pasalnya, di taman itu ada sejumlah jenis tanaman. Dan kita tahu tanaman adalah salah satu makhluk hidup ciptaan-Nya. Seperti layaknya makhluk hidup umumnya, tanaman itu pun lahir, tumbuh, dan terus berubah bentuknya.

Semua itu mengandung arti bahwa dengan merawat taman, berarti kita sejatinya tengah mengungkapkan rasa syukur atas nikmat mempunyai rumah. Apalagi jika taman-taman itu terpelihara dengan baik. Ia akan memancarkan kebeningan berupa kesejukan bagi setiap orang yang memandangnya, membuat nyaman dan tenang bagi mereka yang berada di lingkungan taman tersebut.

Begitu pun dengan manusia. Ia ibarat sebuah rumah. Dan sebagai taman-tamannya adalah perilaku kesehariannya yang merupakan cerminan dari kondisi hatinya. Dr. Ahmad Faried menggambarkan hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta di atas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah sebagai reaktor pengendali atau  remote control  sekaligus pemegang komando terdepan (utama). Oleh karena itu, semua anggota tubuh berada dibawah komando dan dominasinya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladannya, dalam ketaatan atau penyimpangan.

Jadi, betapa indahnya bila hati kita dalam kebeningan. Karena suasana kehidupan manusia yang diselimuti oleh kebeningan hati akan selalu mengkonsulkan segala aktivitas hidupnya dengan indera perasa (kebenaran) dan suara hati nuraninya. Sebab, adakah yang lebih jujur dari hati nurani, ketika ia menyadarkan kita tanpa butiran kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, saat ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa. Singkatnya, sesungguhnya kondisi yang paling indah dari sebuah putaran kehidupan ini, tidak lain adalah di mana ketika kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati (keimanan).

Mudah-mudahan, secercah dari keindahan taman-taman kebeningan hati itu dapat kita peroleh melalui buku ini. Dan semoga saya, keluarga serta para pembaca dapat meraih inspirasi dan mampu merealisasikan nilai-nilai kebeningan hati dalam usahanya membangun keindahan “taman-taman” perilaku hidup keseharian.

Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih kepada Tabloid MQ yang telah memuat dan mempublikasikan (sebagian) pemikiran saya dalam tulisan-tulisan ini dan terima kasih pula kepada penerbit MIQRA INDONESIA yang bersedia menerbitkan buku ini. Dan semoga buku ini memberi manfaat bagi siapa pun yang membacanya. Aamiin.
Dalam bahasa yang puitis, DR. Akram Ridha, penulis buku “Rahasia Keluarga Romantis” menuliskan: “Di rumah-rumah kita, bersemilah pohon-pohon cinta yang menaungi rumah-rumah itu. Di sebagian rumah, pohon-pohon itu tumbuh segar, ranting-rantingnya memanjang dan daun-daunnya menghijau, hingga naungannya melebar teduh. Itulah rumah yang hidup di bawah naungan cinta.”

Yup! Setiap pasangan pastinya ingin membangun rumah tangga di bawah naungan cinta tersebut. Dialah rumah tangga yang di dalamnya tidak pernah kehabisan tabungan cinta. Selalu ada cara untuk mengekspresikan cinta, bahkan menambah kedalaman artinya. Karena para penghuninya itu mampu menciptakan samudera cinta yang luas tanpa batas.

Kondisi rumah tangga di bawah naungan cinta, tentu sangat meneduhkan siapa pun penghuninya. Hal ini tentu berbeda dengan rumah tangga tanpa naungan rasa cinta. Kondisinya, tentu akan gersang, pohon-pohon cinta itu mengering, ranting-rantingnya patah, daun-daunnya berguguran dan fungsi naungannya pun menghilang.

Untuk itu, sejak awal tiap suami-isteri harus sadar betul bahwa pohon-pohon rumah tangga itu senantiasa membutuhkan pengairan terus menerus yang mengantarkan dan membantunya dapat hidup serta berkembang. Tepatnya, setiap pasangan suami-isteri hendaknya memahami sarana-sarana apa saja yang membuat pohon-pohon itu tetap segar dan ceria dengan kerindangan yang dimilikinya. Selain itu, ia pun harus mengerti pula sebab-sebab mengapa pohon-pohon cinta itu menjadi kering, sehingga ia tidak kehilangan indahnya naungan pohon cinta tersebut.

Terkait usaha membangun rumah tangga di bawah naungan cinta, jauh-jauh hari ajaran Islam telah memberikan petuahnya bahwa untuk menggapai kondisi rumah tangga dalam naungan cinta, maka hubungan suami-istri tersebut harus dibangun di atas dua pondasi dasar asas membangun rumah tangga. 

Lalu, pondasi dasar seperti apa yang patut kita bangun untuk menciptakan rumah tangga di bawah naungan cinta tersebut?

©2019 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.