Ebooks

Sebuah Novel Wayang Berbahasa Indonesia

Sebuah kisah pertempuran besar dunia wayang itu ditafsirkan kembali secara begitu rinci dalam 123.000 kata!! Kisah yang diangkat dari sudut pandang naskah pedalangan Surakarta dan Yogyakarta, diceritakan begitu nyata dengan bahasa lugas seolah semua itu ada di depan mata!

*****


 “..sehari kemarin hujan gerimis mengguyur Kurusetra, uwa Prabu. Pagi hari ini kabut terlihat pekat menyelimut padang itu..”

“... kabut..”, hanya kata-kata lirih yang keluar dari orang tua kurus itu. Wajahnya cekung. Matanya buta sejak lahir. Sang Destarastra. Bapak para Kurawa.

“.. kabut itu merah..” kata seorang kekar yang bicara kepada Destarastra. Bernama Raden Sanjaya. Anak dari Arya Widura, adik Destarastra. Berkata tentang halimun pagi di penglihatan sukmanya yang tampak janggal. Lamat-lamat berwarna merah darah.

“.. mengapa kabut itu berwarna merah?”

“..entahlah, uwa Prabu..”

Terlihat bibir Destarastra bergetar seperti hendak berkata tapi tak juga menyeruak kalimat terdengar. Hari itu adalah hari ke-empatpuluh empat sejak pagi pertama gelar pertempuran besar dua trah saudara, Pandawa dan Kurawa, harus berhadapan dengan pilihan hidup atau mati. Sementara Sanjaya tampak hanya duduk diam dengan wajah tertunduk, sang Destarastra dengan tatapan kosong matanya yang buta terlihat menengadah. Perlahan tipis mengalir air mata di pipinya

“..apakah kamu melihat tanda-tanda perang akan disudahi?”

Sanjaya hanya menggeleng. Aneh, Destarastra tentunya tak melihat itu, tapi sepertinya Destarastra tahu jawaban Sanjaya tentang perang yang akan tetap terus berlangsung.

Sanjaya adalah ksatria yang istimewa. Memiliki kesaktian ajian meraga-sukma. Sebuah ajian yang luar biasa. Banyak orang menganggap ajian ini hanyalah mitos atau khayalan belaka, karena memang hanya segelintir orang yang bisa dengan sempurna mengamalkan ajian ini.

Menurut kabarnya, ajian ini adalah berwujudan dari sikap berserah diri kepada Sang Pencipta, sehingga pada puncak pengamalannya, yang terjadi adalah sang sukma orang yang mengamalkan ajian ini dapat keluar dari raganya untuk menempuh sebuah perjalanan. Dan pada tataran tertinggi ajian ini, perjalanan itu bisa menembus batas-batas ruang dan waktu. Sang sukma yang melakukan perjalanan dapat tiba-tiba berada pada suatu tempat sangat jauh dari tempat raga berada. Bahkan tidak hanya itu, sang sukma bisa mengembara ke masa lampau atau pun masa depan.

Walaupun mungkin tataran ajian meraga-sukma yang bisa diamalkan Sanjaya ini masih dalam kemampuan sedang, hanya membawa sukma keluar badannya dan pergi jauh hanya pada saat yang sama, tapi hal itu sudahlah cukup. Hari demi hari dengan sabar, Sanjaya menceritakan apa yang dilihat sukmanya yang mengembara di Kurusetra pada saat yang sama, dan menceritakan dengan rinci setiap kejadian kepada Destarastra setiap malam harinya. 

Tapi pagi ini agak berbeda. Matahari belum juga sempurna memunculkan sinarnya, ketika Destarastra bergegas berjalan tergopoh merabakan tongkatnya menyusuri lorong istana menuju ke kamar kasatrian tempat Sanjaya tinggal. Destarastra meminta Sanjaya pagi itu sebentar meraga-sukma. Sekedar ingin melihat suasana pagi Kurusetra di antara hari-hari suasana pertempuran.

Lebih dari satu purnama perang Baratayuda pecah di medan padang tandus Kurusetra. Dan pagi hari saat temaram, bau anyir begitu terasa. Sukma Sanjaya yang barusaja mengembara ke Kurusetra menjadi saksi yang tampak di sana berupa pekat kabut lamat-lamat berwarna merah. Di atas tanah gelap yang dimana-mana terkapar begitu saja jasad mati bersimbah darah...

*****


Hanya tersedia di Google Play Books dalam bentuk ebook.

Judul Novel : Baratayuda, Kisah Kabut Merah Di Atas Tanah Bersimbah

Penulis : Pitoyo Amrih

Tebal halaman dalam format 14 x 21 cm : 608 halaman

Sebuah Novel Wayang Berbahasa Indonesia


Gatotkaca adalah seorang patriot. Dengan kelahiran yang luar biasa. Kesaktian para bangsa Dewa yang mempercepat proses dewasanya. Dia adalah putra kedua Raden Bima, kerabat kedua Pandawa. Lahir dari ibu keturunan bangsa Raksasa, bernama Dewi Arimbi. Seorang ibu yang selalu merasa bersalah karena tidak pernah menimang dan menemani masa kecil sang Gatotkaca.

Gatotkaca adalah seorang ksatria. Memiliki kesaktian yang luar biasa. Tak ada senjata di dunia wayang yang mampu melukainya. Hanya satu senjata yang memang disiapkan bisa menembus kulit tubuhnya. Dibuat juga oleh para bangsa Dewa, tombak Konta Wijayadanu.

Gatotkaca adalah seorang pahlawan. Dia menjadi benteng bagi semua keluarga dan sesepuh-sesepuhnya. Dia membela setiap jengkal wilayah negaranya. Dia begitu disiplin menjaga amanah. Loyal terhadap segala apa yang dijunjungnya. Membela setiap kebenaran. Menghancurkan setiap angkara murka.

Tapi Gatotkaca selalu hidup dalam kesendirian! Dia selalu memendam dan menekan setiap rasa kecewa dalam hatinya. Tak ada orang disekitarnya yang bisa diajaknya untuk berbagi. Dia terlalu angkuh untuk bisa mengutarakan setiap perasaannya. Dia selalu membawa beban rasa bersalah dalam dirinya. Dia selalu merasa sendiri ditengah kehangatan keluarga yang ada di sekitarnya.

Gatokaca yang selalu dihormati dan disegani orang-orang disekitarnya. Dan ditakuti semua lawan-lawannya. Selalu melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya dengan tuntas. Dan selalu menebarkan kematian pada musuh-musuhnya dengan cara yang paling mengerikan. Dan itu memang sudah menjadi jalan hidupnya.

Seorang patriot yang selalu hidup dalam kesendirian!


Merupakan format ebook dari novel THE DARKNESS of GATOTKACA, Sebuah Novel Pahlawan Kesunyian

Penulis : Pitoyo Amrih

Tebal Halaman : 416 halaman

Ukuran Halaman : 14 x 21 cm

Penerbit : DIVAPress-Yogyakarta

ISBN : 979-963-639-0

Sebuah Novel Wayang Berbahasa Indonesia


Semua tahu Pandawa berarti para putra Pandu. Putra Pandu yang berjumlah lima. Yudhistira, Bima, Arjuna dan si kembar Nakula dan Sadewa. Kelahiran mereka begitu istimewa, bahkan beberapa tokoh bangsa Dewa pun berkehendak menemani kelahiran mereka. Kemunculan mereka di dunia wayang terasa akan menjadi sebuah keajaiban. Semuanya begitu sempurna.

Sampai ketika takdir berkata lain. Cobaan demi penderitaan justru yang mereka hadapi. Pengkhianatan, upaya pembunuhan, penghinaan, pelecehan, terkucilkan, hidup dalam pengasingan. Segala bentuk ujian dan perjuangan mereka alami. Tapi justru itulah yang mendewasakan mereka. Semakin menyempurnakan ilmu kanuragan dan kautaman mereka. Melihat semakin benderang rahasia alam, makna kehidupan dan arti kematian.

Sampai akhirnya perang saudara Baratayudha itu harus terjadi. Kemenangan Pandawa tak lebih adalah buah yang mereka petik atas perjuangan yang mereka tanam. Dan setelah kemenangan perang, bukan disikapi dnegan pesta pora. Setelah Baratayudha, Pandawa kembali dengan tanggung jawabnya, dan menjalani kehidupan seperti biasa. Dan seperti layaknya manusia, ada kala bersinar, suatu saat redup, dan akhirnya menemui ajal. Sebuah kisah perjalanan hidup para Pandawa yang penuh liku, dan segala manis pahit kehidupan.

Namun banyak orang, terutama para penduduk Amarta, negri yang Pandawa bangun, berpendapat bahwa apa yang mereka alami juga terdapat peran yang tidak sederhana dari saudara, teman sekaligus sahabat seiring mereka. Adalah orang-orang yang selalu berada diantara mereka baik dalam suka maupun duka, dikala bahagia maupun saat pedih derita. Adalah Kresna, putra kerajaan Mandura, yang kemudian menjadi raja Dwarawati yang selalu mendampingi Pandawa. Juga Satyaki, ksatria dari Lesanpura yang menjadi panglima Dwarawati. Dua orang ini adalah seorang raja sekaligus ksatria yang tahu benar arti sebuah persahabatan dan makna sebuah persaudaraan. Pendapat yang sama bila hal sama ditanyakan kepada para penduduk Dwarawati.

Hal yang beda disampaikan oleh rakyat Mandura, mereka menganggap raja mereka Baladewa menjadi penentu kemenangan Pandawa di Baratayudha, ketika Baladewa tak memihak saat perang di Kurusetra itu. Baladewa bisa jadi akan merubah keadaan bila saja dia hadir di padang Kurusetra itu dan memihak Kurawa. Sehingga rakyat Mandura lebih suka menganggap Baladewa dan Kresna yang berperan atas kejayaan Pandawa. Tapi tetap saja, pendapat kebanyakan lebih suka memihak kepada Kresna dan Satyaki yang selalu menemani Pandawa saat suka maupun susah.

Sehingga bisa dipahami ketika orang-orang itu kemudian berpendapat bahwa perjuangan Pandawa tidak sekedar dialami oleh lima anak Pandu. Perjuangan hidup mereka juga selalu ditemani Kresna dan Satyaki. Itulah mengapa, bagi mereka, Pandawa tidak hanya lima. Mereka seharusnya ber-tujuh. Pandawa tujuh…


Dalam versi buku cetak:

Judul Novel : Pandawa Tu7uh (Pandawa Tujuh)

Penulis : Pitoyo Amrih

Jumlah Halaman : 417 halaman

Ukuran : 14 x 21 cm

Penerbit : DIVAPress

ISBN : 978-602-766-509-5

Sebuah Novel Wayang Berbahasa Indonesia


Bisma Dewabrata adalah sebuah pribadi yang istimewa. Lahir tak pernah tahu dan mengenal ibu kandungnya. Cinta dan kasih sayang ibunya tercurah dari suara hati yang merasuk di hati dan pikirannya selama pengembaraannya. Sesuatu yang dia anggap berasal dari ibunya, yang sejatinya adalah seorang dewi dari bangsa Dewa, bernama Dewi Jahnawi. Yang menurut kabarnya, perwujudannya sebagai manusia adalah kisah jalan kematian yang ditempuhnya. Kepergian Dewi Jahnawi sama gelapnya dengan saat pertama kali kemunculannya bertemu Prabu Santanu, ayah Bisma.

Bisma disusui dan dibesarkan oleh Dewi Durgandini, seorang putri dari kerajaan Wirata. Dan Bisma memang seorang ksatria utama! Dia wujudkan pengabdian sepenuhnya kepada Durgandini sebagai rasa terima kasihnya atas kasih sayang masa kecil Bisma. Bagaimana pun sikap Durgandini kepada Bisma, tetap Bisma menghargai dan menghormati Durgandini dengan sepenuh hati.

Puncaknya adalah sebuah sumpah yang keluar dari mulut Bisma demi rasa lega Durgandini agar anak kandung Durgandini yang akan mewarisi tahta Hastinapura. Sumpah Bisma yang tak akan pernah menduduki tahta Hastinapura, walaupun dia yang paling berhak. Dan sumpah bahwa sampai mati tak akan pernah menyentuh perempuan agar tak ada keturunannya yang menggugat atas tahta Hastinapura. Sebuah sumpah yang luar biasa!

Sumpah itu yang membuatnya selalu menempuh perjalanan ke seluruh penjuru dunia wayang. Berguru ke semua resi, mendalami makna kehidupan.


Judul Novel : Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata

Penulis : Pitoyo Amrih

Tebal Halaman : 476 halaman

ISBN : 978-602-955-737-4

Desain Cover diinspirasi dari karya Sweta Kartika

Sebuah Buku Kajian Tentang Nilai-nilai dalam Cerita Wayang Berbahasa Indonesia


Format eBook ini merupakan penyempurnaan dari edisi cetak berjudul sama yang banyak didiskusikan dan memiliki pendekatan baru dalam memahami teori Stephen Covey "7 Habits of Highly Effective People" dengan perpektif budaya nusantara, yang telah mengalami beberapa kali cetak ulang dari judul semula pada cetakan pertama yaitu: "7 Habits of Highly Effective People Versi Semar dan Pandawa" (Pinus, 2008).

Tujuh kebiasaan efektif stephen Covey telah menginspirasikan kita dan jutaan manusia dunia tentang bagaimana menjalani hidup yang efektif dan berkualitas. Dan kita sendiri hampir lupa, bahwa ajaran Covey telah dimaknai dalam nila-nilai budaya ketimuran yang tercermin dalam perilaku tokoh wayang semar dan Pandawa.


Buku "Inspirasi Hidup dari Semar dan Pandawa" akan memberikan inspirasi persis seperti pemikiran Covey tentang perubahan paradigma yang dapat membawa individu atau kelompok agar lebih efektif dalam menjalani kehidupan. Bedanya buku ini tidak mengambil ide kepemimpinan dari paradigma dunia barat, tetapi lewat ajaran filosofis ketimuran dengan mengambil karakter dalam tokoh kisah pewayangan. Seperti Semar, dewa yang memilih menitis diri sebagai manuisa merupakan sifat rendah hati.

Sifat itu identik dengan nlai kebesaran jiwa yang menyempurnakan tujuh kebiasaan efektif Stephen Covey. Kekompakan Pandawa merupakan pencerminan dari nilai 'Sinergi'. Pilihan Yudhistira menerima permainan dadu pada satu sisi bisa ditafsirkan dengan 'Berpikir Menang-menang'. Kebiasaan ksatria menembangkan diri bisa dijabarkan secara luas dengan nilai 'Mengasah Gergaji' dan masih banyak ulasan menarik tentang tujuh kebiasaan efektif lainnya.

Alhasil kelebihan dari buku ini dapat dengan mudah dicerna dan diaktualisasikan karena memiliki nilai kedekatan emosi, sifat, dan karakter ketimuran. Sehingga pada tingkatan aplikasi sangat mudah dijangkau dan dilakukan menjadi kebiasaan.

Sebuah Novel Wayang Berbahasa Indonesia


Atas nama kemurnian ras dewa, Batara Brama berniat melenyapkan bayi buah hubungan putrinya, Dewi Dresanala, dan Arjuna, yang notabene seorang ras manusia.

Bola api raksasa pun melesat cepat keluar dari telapak tangan Batara Brama dan menerjang bayi hingga di sekujur tubuhnya diselimuti nyala api, membuatnya mencelat dan melesat ke negeri Samudra di ujung timur, lalu tubuh mungilnya melesak ke dasar samudra.

Bayi yang ternyata tidak ditakdirkan mati itu (namun sekarat) dirawat oleh Batara Baruna, penguasa negeri Dasar Samudra, lalu diberilah si kecil tersebut sebuah nama yang kelak bakal membuat alam kayangan tergetar dan takut: dialah Wisanggeni!

Saat usianya makin dewasa, pertanyaan tentang asal-usul dirinya terus menggelayuti benak Wisanggeni. Merasa keberadaannya telah dimungkiri oleh leluhurnya sendiri, bangsa dewa, Wisanggeni pun menantang kekuasaan dan wibawa bangsa dewa.

Lantas, berhasilkah ia mendapatkan pengakuan dari leluhurnya, bangsa dewa? Dan, bagaimana kehidupannya kelak saat ia tidak ditakdirkan terlibat dalam perang akbar Bharatayuda untuk membantu kubu ayahandanya?

Simak novel yang demikian menyentuh dan kaya akan pesan moral ini!


“…Jagat cilik adalah semua hal yang ada pada dirimu atas apa yang kamu alami di jagat gedhe, Ngger. Hanya sedikit orang yang bisa mengenali jagat ciliknya, dan hampir tak ada orang yang mampu melihat dan memahami jagat ciliknya,” ucap Sang Hyang Wenang kepada Wisanggeni.


Gelegar Amuk Batin sang Titisan Dewa!


Versi Buku Cetak:

Judul Novel : Wisanggeni Membakar Api

Penulis : Pitoyo Amrih

Tebal Halaman : 436 halaman

Ukuran Halaman : 14 x 21 cm

Penerbit : DIVAPress-Yogyakarta

ISBN : 9786022550495

Sebuah Buku Kumpulan Cerita Wayang Berbahasa Indonesia


Dalam kisah pewayangan tokoh Kurawa mempunyai sifat buruk, jelek, jahat, dan tidak pantas dicontoh. Ternyata di sisi lain Kurawa mempunyai perilaku yang patut dicontoh. Seperti, Duryudana adalah anak sulung dari Kurawa yang bertanggung jawab, Dursasana adalah adik yang sangat patuh, Citraksa Citraksi adalah Kurawa yang sopan, Yuyutsu adalah satu-satunya Kurawa yang selalu mau belajar. Demikian pula Patih Sangkuni bagaimana ia sosok yang sejak kecil telah mengalami ketidakadilan di keluarganya dan sempat dipermalukan oleh Pandu.

Buku ‘Kebaikan Kurawa’ akan mengungkap kisah-kisah yang tersembunyi dari Kurawa. Menjelaskan watak Kurawa yang selama ini dianggap orang jahat, ternyata ada hal-hal yang patut dicontoh. Menggugat image atas Kurawa yang selama ini selalu dalam kondisi yang tidak menyenangkan. 

Penguasaan penulis tentang dunia wayang, membuatnya begitu jeli mencermati bahwa sesungguhnya di sisi lain dunia Kurawa masih banyak kisah-kisah kebaikan Kurawa yang belum terungkap. Yang lebih penting, penulis memaparkan secara detail bagaimana latar belakang sejarah sehingga Kurawa dapat berlaku jahat, menyerang, arogan, bahkan akhirnya memusuhi Pandawa.

Buku kontroversial yang dikemas secara menarik, singkat, dan detail. Membaca buku ini, pembaca akan diajak secara terbuka memahami siapa dan bagaimana Kurawa yang sesungguhnya. Selain itu dapat menafsir dalam kehidupan tidak selamanya orang jahat itu dijauhi dan tidak patut dicontoh. 

Judul Buku : Kebaikan Kurawa – Mengungkap Kisah-kisah yang Tersembunyi 

Penulis : Pitoyo Amrih

Format : eBook 

Penerbit : Pitoyo eBook Publishing

Sebuah Novel Wayang Berbahasa Indonesia


Ada yang memanggilnya dengan sebutan Pandita Durna. Sebagian lagi bercerita tentang nama Dorna. Tapi sebenarnya dia mengaku bernama Resi Drona. Seorang sakti yang sebagian besar waktu hidupnya digunakan untuk mengajarkan semua ilmu yang dimilikinya. Baik itu ilmu baik ataupun ilmu jahat.

Resi Drona adalah guru sejati, dia bisa mengajarkan banyak ilmu, dari ilmu ksatria menelisik rahasia alam, sampai ilmu kelam milik para jahanam.

Lahir dengan nama Bambang Kumbayana. Dia memberontak karena kehidupan mudanya tak memberinya harapan. Dia terusir oleh kesombongannya. Dia tertipu oleh nafsunya. Dia terbelenggu oleh tanggung jawab cintanya kepada sang anak, Aswatama. Dia terpenjara oleh ganasnya alam Atasangin, juga oleh nikmatnya kehidupan istana Hastinapura. Dia dikhianati oleh sahabatnya, Sucitra. Dia merasa bersalah kepada murid Ekalaya, yang bukan muridnya. Dia kecewa atas dirinya.

Tapi Drona adalah seorang bijak yang mau berbagi dan mengajarkan segala kemarahan, kekecewaan, dan semua kekeliruannya.

Ada empat kejadian yang selalu memberi perubahan dalam dirinya. Saat dirinya diusir oleh ayahnya sendiri dari tanah kelahirannya. Saat dirinya tahu bahwa dia telah menanamkan benih yang membuatnya harus belajar mencintai seorang anak. Saat dia dikhianati seseorang yang selama ini dianggap sahabatnya. Dan saat dia menyadari anaknya, yang menjadi semangat hidupnya selama ini, memilih berpihak pada Kurawa saat perang besar Baratayudha.

Tapi Drona adalah seorang bijak yang mau berbagi dan mengajarkan segala perubahan-perubahan dalam dirinya.

Bima mungkin tak pernah tahu bahwa ilmu sejati yang dimilikinya adalah juga buah dari kerasnya Drona dalam mendidiknya dan membiarkannya ditempa segala kepedihan. Seperti juga Arjuna yang bisa jadi tak pernah tahu bagaimana dia bisa menimba ilmu pada belasan resi dan memiliki belasan pusaka, adalah juga buah dari petunjuk dan segala 'tipuan' Drona.

Dan dari semua apa yang telah dilakukannya, Drona membiarkan semua orang menghujat dirinya…


Bukan hanya sebuah novel epos, tapi super novel! lantaran muatan-muatan inspirasionalnya yang amat berharga untuk diri kita di masa kini!


Merupakan versi ebook dari novel:

RESI DURNA, Sang Guru Sejati

Penulis : Pitoyo Amrih

Tebal Halaman : 462 halaman

Ukuran Halaman : 14 x 21 cm

Penerbit : DIVAPress

ISBN : 978-602-978-402-2

Sebuah Novel Wayang Berbahasa Indonesia


BEST SELLER NASIONAL th 2010!!

Seorang ksatria lahir dengan sebuah anugrah luar biasa. Wajahnya memiliki aura tampan yang mempesona siapa saja yang melihatnya, apalagi seorang perempuan. Lahir dilingkungan istana besar Hastinapura yang membuatnya merasa dia adalah seorang istimewa.

Perjalanan hidup berliku membuatnya harus keluar istana. Tapi justru itulah, dia mengalami pendewasaan hati dan pikiran. Kesaktiannya juga luar biasa. Berguru kepada banyak resi, bahkan pernah tinggal di kahyangan tempat bangsa Dewa. Banyaknya pusaka yang diberikan kepadanya, semakin menambah wibawa dirinya. Panah Pasopati, Sarutama, Harudadali. Keris Pulanggeni, Kalanadah, adalah sebagian dari beberapa pusaka yang terkenal itu.

Keelokan wajahnya membuat banyak perempuan di setiap persinggahan rela untuk menjadi istrinya. Dia bukan lelaki pencari wanita. Dia juga bukan lelaki pengumbar kesenangan. Dia hanya seorang pria yang tak kuasa menolak setiap wanita yang memohon untuk menjadi istrinya. Tercatat limabelas wanita telah menjadi istrinya. Sumbadra, Srikandi, Larasati, Ulupi, Ratri, Jimambang, Supraba, Wilutama, Dresanala, Manuhara, Antakawulan, Juwitaningrat, Meswara, Retno Kasimpar dan Dyah Sarimaya.

Sang ksatria pemanah yang tak pernah berhenti belajar itu bernama Arjuna. Duduk di singgasana negri bagian Amarta bernama Madukara.

Ada seorang ksatria lain yang lahir dan tersia-siakan. Sepanjang hidupnya diliputi rasa ketidakpuasan ketika dia selalu melihat bahwa kemampuan dan kesaktiannya senantiasa bisa lebih tinggi dari anggapan orang. Dia dibuang dan harus menjalani hidup sebagai seorang anak kusir kerajaan.

Kemauan dan tekadnya yang begitu besar membuatnya dia menjadi sosok sakti tanpa guru. Tak ada yang mau membimbing seorang anak kusir kecuali seorang guru kehidupan bernama Rama Bargawa. Yang kemudian memberinya pusaka sakti panah Wijayacapa, keris Kalatida dan Kyai Jalak.

Satu-satunya istri yang dicintai adalah Dewi Surtikanti. Seorang putri negri Mandraka. Namun selalu menjaga jarak dengan mertuanya, Prabu Salya. Sampai ketika rahasia itu terungkap bahwa sebenarnya dia masih keturunan seorang putri raja dan seorang petinggi bangsa Dewa. Lengkaplah rasa marahnya kepada setiap orang yang seharusnya dihormatinya.

Sang ksatria pemanah lain itu bernama Karna. Bergelar Adipati dan duduk di singgasana negri bagian Hastinapura, bernama Awangga.

Dua ksatria pemanah, Arjuna dan Karna, ternyata lahir dari kandungan seorang ibu yang sama! Dan dua sedarah seibu itu harus menjalani pilihan untuk saling berhadapan, saling membunuh. Dua orang pemanah sakti yang harus berseberangan, sama-sama demi sebuah kebenaran!

Judul Novel : Pertempuran 2 Pemanah ARJUNA-KARNA

Penulis : Pitoyo Amrih

Tebal Halaman : 426 halaman

ISBN versi buku : 978-602-955-522-6

Sebuah Novel Wayang Berbahasa Indonesia


Satu-satunya buku yang bercerita lengkap tentang 100 Kurawa seluruhnya! Buku versi digital ini juga dilengkapi risalah seratus Kurawa!


Kurawa berjumlah seratus. Adalah anak-anak Destarastra dan Dewi Gendari. Mereka adalah Adityaketu, Agrasara, Agrayayin, Anuwenda, Aparajita, Balaki, Balawardana, Bimarata, Bimasulawa, Bimawega, Bogadenta, Bomawikata, Bwirajasa, Carucitra, Citrabana, Citraboma, Citraga, Citraksa, Citraksi, Citrakundala, Citrawarma, Danurdara, Dirgabahu, Dirgalasara, Dirgama, Dirgaroma, Dredasetra, Dredawarma, Dredayuda, Drestaketi, Durbahu, Durdara, Durdarsa, Durgempa, Durkarana, Durkaruna, Durkunda, Durmaga, Durmagati, Durmasana, Durmuka, Durmanaba, Durnandaka, Durpramata, Durprasadarsa, Dursaha, Dursaya, Dursatwa, Dursara, Duryudana, Dursasana. Kemudian Dursilawati satu-satunya perempuan Kurawa. Durta, Durwega, Duryuda, Dusprajaya, Dwilocana, Ekaboma, Ekatana, Gardapati, Gardapura, Habaya, Haknyadresya, Halayuda, Hanudara, Jalasaha, Jalasantaka, Jalasuma, Jalasanda, Kartamarma, Kenyakadaya, Kratana, Kundasayin, Mahabahu, Nagadata, Patiweya, Pratipa, Rudrakarman, Senani, Somakirta, Srutayuda, Sulacana, Suwarcas, Trigarba, Udadara, Ugayuda, Ugrasrawa, Ugraweya, Upanandaka, Upacitra, Wahkawaca, Watawega, Wikataboga, Windandini, Wingwingsata, Wirabahu, Wisalaksa, Wiyudarus, Yutadirga, dan Yuyutsu. 


Mereka begitu banyak. Tidak mudah untuk dihafal, begitu gampang dilupakan. Tapi begitulah, mereka terlanjur dilahirkan, dan sudah menjadi suratan takdir terabaikan di usia kanak-kanak mereka. Apa yang ada dikepala mereka hanyalah apa yang menurut mereka baik untuk dirinya. Tak pernah berpikir tentang perasaan orang lain, tak pernah berpikir untuk berbagi menciptakan suasana bahagia bersama. Yang mereka bisa lakukan tak lain hanyalah menebar angkara, dan menciptakan keresahan dan ketakutan. 


Tak ada kata-kata lagi yang sanggup mendewasakan mereka. Tak ada contoh teladan lagi yang sanggup memberi mereka pencerahan hidup. Mereka menantang, tak ada pilihan lain bagi Pandawa selain membela diri. Dan kematian adalah satu-satunya cara untuk menghentikan para Kurawa! Yang tersisa pun kemudian harus diburu. Ditangkap dan dihukum mati bagi yang melawan. 


Masih bisa disyukuri ketika diantara mereka ternyata ada yang mau belajar untuk menjadi baik. 


Bukan hanya sebuah novel epos, tapi super novel! lantaran muatan-muatan inspirasionalnya yang amat berharga untuk diri kita di masa kini!


Dalam versi buku cetak:

Judul Novel : MEMBURU KURAWA, Risalah Kematian di Padang Kurusetra

Penulis : Pitoyo Amrih

Jumlah Halaman : 417 halaman

Ukuran : 15,5 x 24 cm

Penerbit : DIVAPress

ISBN : 978-602-978-850-1

©2021 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.