PABLO NERUDA: La Memoria

Penerbit Buku Sastra Digital
2
Free sample

Ulurkan tanganmu, datanglah padaku secara bersahaja/ dan jangan mencari-cari rahasia/ dalam kata-kataku .... (Pablo Neruda)

"Sajak-sajak Pablo Neruda di dalam buku ini saya terjemahkan pada tahun 1996-1997, dan dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul Para Pemabuk dan Putri Duyung yang diterbitkan Forum Sastra Bandung pada bulan Januari 1998.... Buku itu sendiri tidak lagi dicetak ulang. 

Godaan terbesar ketika saya memutuskan untuk menerbitkan kembali karya terjemahan saya atas sajak-sajak Pablo Neruda di dalam buku La Memoria ini adalah keinginan yang sangat kuat untuk menerjemahkan ulang. Namun, setelah berpikir panjang, saya memutuskan membiarkan sajak-sajak di dalam buku ini apa adanya seperti ketika saya menerjemahkannya di masa muda.... 

Ada hal lain yang pada hemat saya sangat hakiki meskipun agak bersifat pribadi: Saya ingin sajak-sajak terjemahan di dalam buku ini memiliki nilai kenang-kenangan, la memoria, dan tetap tinggal sebagai kenangan, yang mencerminkan segala kemudaan, keterbatasan, dan kekurangan saya, ketika pertama kali "berkenalan" dengan Neruda dan menerjemahkan sajak-sajaknya ke dalam Bahasa Indonesia." (Cecep Hari, penyair. Penerjemah La Memoria Pablo Neruda).

----------

Apakah Anda sedang mencari buku-buku yang dapat diunduh gratis (freedownload)? Silakan cek buku-buku yang resmi freedownload dan yang sudah menjadi public domain dari penerjemah buku ini di link: https://play.google.com/store/books/author?id=Cecep+Hari

----------

Read more
Collapse

About the author

PABLO NERUDA, penyair Amerika Latin yang dikenal secara internasional dan salah seorang penyair besar Abad ke-20, dilahirkan di Parral, Chile, pada 1904. Pada tahun  1920 ia pergi ke Santiago untuk studi dan mempublikasikan buku pusinya yang pertama, La canción de la fiesta (1921); bukunya yang kedua Crepusculario (1923), membuatnya mulai dikenal. Setahun kemudian ia meluncurkan Veinte poemas de amor y una canción desesperada. Pada tahun 1950 ia meluncurkan Canto general. Sebagai pengarang yang produktif, Neruda terus menulis puisi antara tahun 1950-an dan 1960-an. Pada tahun 1971 ia menerima penghargaan Nobel Kesusastraan. Ia meninggal pada tahun 1973.

Read more
Collapse
5.0
2 total
Loading...

Additional Information

Publisher
Penerbit Buku Sastra Digital
Read more
Collapse
Pages
58
Read more
Collapse
Read more
Collapse
Best For
Read more
Collapse
Language
Indonesian
Read more
Collapse
Genres
Poetry / American / Hispanic American
Poetry / General
Read more
Collapse
Content Protection
This content is DRM free.
Read more
Collapse

Reading information

Smartphones and Tablets

Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.

Laptops and Computers

You can read books purchased on Google Play using your computer's web browser.

eReaders and other devices

To read on e-ink devices like the Sony eReader or Barnes & Noble Nook, you'll need to download a file and transfer it to your device. Please follow the detailed Help center instructions to transfer the files to supported eReaders.
 Pablo Neruda merampungkan Kitab Pertanyaan (The Book of Questions/El libro de las preguntas) hanya beberapa bulan jelang kematiannya pada September 1973. Melalui karangan ini, ia sepenuhnya menjadi manusia dan seniman. Seorang penyair berusia 69 tahun yang telah mencerap sumber esensial dari karya monumentalnya, meninjau kembali “kedalaman abadi”: imajinasi yang mengalami regenerisasi dan daya pandang. Puisi-puisi ringkas di sini, seluruhnya berbentuk pertanyaan, mengejawantahkan dedikasinya pada apa yang disebut Hayden Carruth sebagai “struktur perasaan” yang mendasari pengalaman. Pablo Neruda melakukan eksplorasi pada ragam pikir, gaya puitika, dan suara-suara, walaupun kecenderungan renjananya ia peradukan, dan pengembangan atas ritme dasar persepsi yang menguak kebenaran-kebenaran tak terucap atau yang tak dapat diucapkan.

Dari Crepusculario dan Venture of the Infinite Man, dua karya yang paling awal dan terakhir cukup dikenal, hingga pada seri buku ini hadir secara terlambat dan posthumous, Pablo Neruda mengalami peningkatan yang luar biasa dalam hal mempertanyakan siapakah hakikat dirinya. Ia juga yakin bahwa tahap pengesampingan hal-hal yang ia ketahui supaya ia dapat jelajahi ulang rahasia irama dan pengamatannya yang lain. Imajinasinya tidak pernah ditaklukkan oleh ketentuan umum dan, khususnya pada puisi sebelumnya, jarang sekali tampak suaka perlindungan, baik secara kepentingan politik maupun artistik. Pablo Neruda terus saja menantang dirinya sendiri sebagai manusia dan seorang seniman, sampai ia menjadi “pemburu yang cerdik”, mengutip Marjorie Agosin, yakni salah seorang berlapangan kerja mencari dan mencari “akar kepemilikan” di mana pun ia dapati kesimpulan atas dirinya.

Dalam Kitab Pertanyaan, Pablo Neruda mencapai suatu kedalaman akan kerentanan dan daya pandang dibanding karya-karya sebelumnya. Puisi-puisi dalam buku ini terintegrasi antara keajaiban masa kanak-kanak dan pengalaman kedewasaan. Orang dewasa umumnya bergumul dengan pertanyaan anak-anak “yang irasional” semata-mata bertolak dari pikiran masuk akal. Sementara itu, Pablo Neruda membutuhkan kejernihan  yang tersumbangkan dari kehidupan nyata, ia menolak hanya terkungkung pada pikiran rasionalnya saja. Dari sekitar 316 pertanyaan yang terangkum dalam 74 puisi dengan bentuk ini, tak ada sama sekali yang jawabannya masuk akal. Pertanyaan berikut memberi contoh refleksi pada permukaan, yang salah satunya bagiannya membedakan.

Jika semua sungai manis
dari manakah laut dapatkan asinnya?

Satu hal yang harus terpenuhi, bagi pembaca, dari citraan sungai, lautan, rasa manis, dan asin yang gaung artinya lebih dalam ketimbang makna harfiahnya. Di satu pihak, kita mesti bersabar, daripada terburu-buru untuk melakukan penentangan tanya dengan makna yang beralaskan pikiran.
Menatap ke langit malam hari dari dek kapal atau lantai padang pasir, kita lihat sekelebat bintang di kejauhan pada ujung-ujung mata. Saat kita memandanginya langsung ke sana, mereka seolah kabur dari pandangan. Sebagaimana bintang, pertanyaan-pertanyaan di sini sepenuhnya menyibak dirinya sendiri kepada pikiran yang berulang-ulang, yakni pikiran yang terlibat dengan intuisi dan persepsi emosi.

Pablo Neruda mengarang pertanyaannya yang kebanyakan berasal dari objek-objek alam –seperti awan, roti, limun, unta, teman, dan musuh. Kesemua substansi dan bentuk itu berjalin-jalin dalam kehidupan sehari-hari kita; kematian kemudian kelahiran lagi, keterbatasan itu menjadi nyata sebagai pancaran luaran yang merujuk kepada dunia yang lebih besar lagi. Mereka tampak misterius karena, meskipun secara fisik ada dan “konkret”, padanya tiada keputusan atau penyelesaian. Agaknya, pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda membuka misteri-misteri baru yang berkaitan dengan kebenaran fisik hingga kebenaran metafisik. Dengan mempersilakan pertanyaan itu mengambil alih, kita akan sampai pada tempat-tempat yang belum pernah dipetakan sebelumnya.

Puisi-puisi di buku ini, bagaimanapun juga, tidak bisa dipertimbangkan sebagai “peta jalan” bagi jalur intuitif, emosional, dan spiritual. Mereka mengarahkan kita pada suatu hidup yang menjamak: mereka menjala kata-kata ke dalam jiwa kita sehingga kita dapat mencerap pemahaman, dan masih secara jelas berada dalam suatu Tempat Tak Dikenal, di mana segala jawab tak memberi nama-nama. Dalam konteks ini, pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda sangat dekat dengan semangat kōan. Kōan merupakan sebuah pertanyaan (atau pertanyaan samar laiknya sebuah pernyataan) dalam kontruksi suatu paradoks, yang membantu murid Zen mempraktikkan zazen (meditasi). Sebuah penjabaran mengenai paradoks ini dapatlah ditemukan dalam puisi Zen guru Mumon, yang berkomentar mengenai dua biksu yang saling terlibat perdebatan dengan enam kepala keluarga di mana tergeraklah–angin, panji, atau pikiran.

Angin, panji, pikiran yang bergerak,
pemahaman yang sepadan
ketika mulut terbuka
segalanya adalah kekeliruan

Begitulah cara kerjanya: pikiran menjadi jebakan, sedangkan mulut menjelma kegelapan. Bilamana salah seorang melontarkan suatu anggapan dan ketentuan-ketentuan yang bakal memburu lamunan masa lalu dan masa depan, pikiran dibebaskan untuk menyimak dan ada dalam kemenjadiannya. Selanjutnya, di lain pihak akan tersadar bahwa nilai suatu pertanyaan yang diutarakan penyair Sufi Jalaludin Rumi pada abad ke-13: “Seberapa jauh cahaya ke bulan?/dari bulan?” Dan mengapa ia, setelah tak menumu jawab, kembali kepada bulan tersebut dan berkata, “Di manakah Tuhan?”

Akar sejarah Anglo-Saxon menyebutkan kata “pertanyaan” adalah kuere, yang artinya untuk meminta atau mencari, sebab itulah berhasil atau menang. Dalam bahasa Latin, ini disebut quaerere dan questum; dalam bahasa Inggris kemudian menjadi quaestor dan selanjutnya “pencarian (quest)”, “pemeriksaan (inquest)”, dan “pertanyaan (question).” Cabang akar bahasa lainnya menyebut  “penaklukkan (conquest)”, “menanyakan (inquire)”, dan “memperoleh (acquire)”.
Pablo Neruda mempunyai ketertarikan dalam menanyakan (inquire) perihal kebendaan alamiah, yakni proses inisiasi dari menyatakan tanya yang berasaskan pengalaman, yang diajukan kepada kita atas apa yang ia intuisikan sebagai kebenaran dan perkara yang tidak bisa dipahami. Ketimbang tetap berada dalam kontrol, ia menyelami dirinya sendiri dalam ketidak-tahuan, yang mana dalam ketidaktahuan pertanyaan lantas merasuki imajinasi. Sang penyair bermaksud membedakan antara apa yang ia yakini dalam hati serta jiwanya (gnosis), dan menerima pola-pola pikiran dan perasaan yang membatasi imajinasi serta perkembangannya.

Kitab Pertanyaan memenuhi peran tradisional sebagai puisi terbaik. Sumbangsih terbesarnya adalah menolong kita dalam mengajari masing-masing kita bagaimana cara melihat, secara terpisah membantu untuk terispirasi dan fokus terhadap pencarian inti. Kita berpartisipasi baik merespon pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda dengan “berlari di tempat” bersama citraan (meminjam frasa dari Roshi Charlotte Joko Beck), ketimbang melarikan diri dari pikiran yang rasional. Puisi-puisi di sini merupakan catatan-catatan penuh kata-kata atas imajinasi si penyair; mereka menyibak kebenarannya hanya jika kita hidup dengannya lagi mengalaminya apa adanya. Manakala kita melakukan hal tersebut, imajinasi kita kembali terbangunkan hingga mencapai kemungkinan yang paling tenang dari keheranan dan perasaan kagum. Dalam keadaan inilah, kita mengajukan pertanyaan yang tak berjawab. Dan kita senantiasa merasa, tercermin di antara kita, sifat duniawi yang melampaui, baik pikiran maupun penglihatan.

Buku unik ini merupakan testamen atas segala yang mengukuhkan Pablo Neruda sebagai seniman. Ia tak bisa diberi label sebagai penyair politis atau penyair cinta, penyair yang diakui atau penyair bakat, dan hanya ia seorang yang sanggup menuduh dirinyalah menjadi orang kebanyakan, dan tak pernah tahu  “siapakah aku,/maupun seberapa banyak diriku atau seterusnya.” (“who I am,/nor how many I am or will be”). Maka, untuk memahami tataran kepenyairan ini, penting rasanya menyimak dirinya dalam kerentanan momen-momen. Puisi berikut ini mengandung lebih kurang kemurnian jiwa seorang Neruda.

Burung pengecut manakah yang
mengisi sarangnya dengan limun?

Bagi mereka yang membaca puisi-puisinya mengenai kekalahan orang-orang di lain sisi dari patologi sosial dan politik, tak akan kaget dengan baris seperti ini:

Buruh seperti apakah
yang dipekerjakan Hitler di neraka?

Pablo Neruda ialah seniman kompleks, yang membaurkan gelap dan terang, serta yang merespon sepenuhnya kesatuan pengalamaan yang tersedia bagi manusia. Ia mengenali kontradiksi, bahkan terpagut dengannya, dan kerap kali membebaskan karyanya dari batasan-batasan, penyederhanaan yang berbahaya, agenda ideologi serta pembicaraan mengenai diri sendiri secara berlebihan meskipun tak penting sepenuhnya (egotisme). Dengan begitu, ia menciptakan keterjalinan keindahan, kumpulan karya yang luas cakupan.

Buku ini merupakan seri terakhir karya posthumous Pablo Neruda dari Copper Canyon Press, yang mengantarkan pada kita selubung pengetahuan di mana suatu pencarian dilanjutkan: apa yang dipelajari akan terlupa, maka ia dapat dipelajari kembali.

Dalam sebuah karya awalnya, Extravagaria, sang penyair bertanya-tanya dalam hati:

Anak dari anak atas anak–
akankah mereka membuat sebuah dunia?
Akankah mereka halau kebaikan atau keburukan?
Senilai lalat-lalat atau gandum bermanfaat?

Kau tak ingin menjawabku.

Namun pertanyaan-pertanyaan tak mati.

William O’Daly
Musim dingin, 1991


 Malam Ini Aku Bisa Saja Menulis

Malam ini aku bisa saja menulis puisi yang paling sedih
Misalnya menulis “Malam penuh bintang,
dan bintang bintang itu biru dan menggigil di kejauhan.”

Angin malam berputar di langit sambil bernyanyi.

Malam ini aku bisa saja menulis puisi yang paling sedih.
Aku pernah mencintainya, dan kadang dia pun pernah mencintaiku juga.

Di malam-malam seperti ini dulu, kurangkul dia dalam pelukanku.
Kuciumi berkali kali di bawah langit yang tak berbatas.

Dia pernah mencintaiku, kadang-kadang aku pun mencintainya.
Bagaimana mungkin bisa tidak mencintai matanya yang indah dan tenang itu.

Malam ini aku bisa saja menulis puisi yang paling sedih.
Karena aku tak lagi memilikinya. Karena aku telah kehilangan dia.

Malam begitu mencekam, tambah mencekam tanpa dirinya.
Dan puisi masuk ke dalam jiwa seperti embun ke rumputan.

Tak apa kalau cintaku tak bisa menahannya.
Malam penuh bintang dan tak ada di sini dia.

Begitulah. Di kejauhan, seseorang bernyanyi. Di kejauhan.
Jiwaku resah kehilangan dia.

Seolah ingin menghadirkannya, mataku mencarinya.
Hatiku mencarinya, dan tak ada di sini dia.

Malam yang itu-itu juga, membuat putih pohonan yang itu-itu juga.
Tapi kami tak seperti dulu lagi.

Aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi betapa cintanya aku dulu padanya.
Suaraku menggapai angin biar didengarnya.

Milik orang lain. Dia akan jadi milik orang lain. Seperti dia dulu milik ciuman-ciumanku.
Suaranya, tubuhnya yang indah. Matanya yang dalam.

Aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi mungkin aku mencintainya.
Cinta begitu singkat dan lupa begitu lama.

Karena di malam-malam seperti ini dulu kurangkul dia dalam pelukanku,
Jiwaku resah kini kehilangan dia.

Walau ini derita terakhir yang dibuatnya,
dan ini puisi terakhir yang kutulis untuknya.


©2019 GoogleSite Terms of ServicePrivacyDevelopersArtistsAbout Google|Location: United StatesLanguage: English (United States)
By purchasing this item, you are transacting with Google Payments and agreeing to the Google Payments Terms of Service and Privacy Notice.