(Menerapkan kolaborasi nilai-nilai Islam dalam dinamika kebudayaan di zaman milenial untuk menemukan kembali jati diri dan mereduksi konflik yang semakin tak karuan)
Dinamika kehidupan manusia akan terus berkembang sesuai pertumbuhan zaman dalam berbagai hal. Lebih-lebih perkembangan interaksi antara manusia, agama, dan budaya. Dahulu, salah satu cara ampuh walisongo menyebarkan dakwah Islam di tanah Jawa yang mayoritas beragama Hindu-Budha adalah melalui tradisi lokal setempat. Memanfaatkan pertunjukkan wayang sebagai media dakwah yang saat itu digandrungi oleh masyarakat. Proses akulturasi dan asimilasi macam walisongo ini titik lemahnya pada proses yang relatif lama namun berdampak besar bagi kelanggengan Islam di tanah Jawa kelak.
Zaman walisongo tentu berbeda dengan zaman milenial saat ini dan Islam harus terus disebarkan dengan cara-cara yang arif dan bijaksana. Salah satunya melalui kearifan tradisi lokal yang di zaman ini sering mendapat tantangan atau penolakan oleh beberapa kalangan. Tuduhan bid’ah misalnya. Padahal melalui kearifan tradisi lokal kita bisa menemukan kembali nilai luhur diri sendiri yang sudah tergerus oleh perkembangan zaman yang edan-edanan.
Kita terperangkap dalam situasi interregnum, yaitu nilai-nilai lama (yang dianggap usang) telah disepelekan, sementara nilai-nilai baru (yang dibanggakan) belum ditemukan kejelasannya. Alhasil yang ditiru hanyalah model fisiknya.
Salah satu yang menjadi ajaran kearifan lokal bisa kita tiru dalam pengambaran nilaidi daerah Jombang, Brah-breh, njobo njero podho, artinya antara yang tersirat dalam hati, yang diucapkan, dan yang dilakukan sama. Dengan kata lain bisa disebut jujur. Brakbruk, Luman artinya suka memberi, tidak pelit dan seterusnya.
Nilai kearifan lokal tersebut kemudian kita coba gali dan bahas dalam edisi kali ini untuk mendulang kembali nilai-nilai luhur yang terpendam oleh tumpukan tanah dan sampah peradaban. Untuk kemudian dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat demi meraih kebahagian dan kedamaian bersama. Ditambah sudut pandang agama sebagai batas dan penyeimbang agar kearifan lokal ini tidak sampai melanggar nilai agama Islam. Karena tak semua kearifan lokal bisa diterapkan begitu saja.
Kita perlu terus menggali kolaborasi kearifan lokal dan nilai agama untuk digunakan dalam persoalan yang semakin pelik di dalam kehidupan masyarakat. Tentu bukan hal mudah untuk ditampilkan dan diterapkan. Tetapi itu semua bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Selamat membaca! Wallahu a’lam.